Minyak Terbang Umbi Bawang 1
583_ 20-1

Minyak oles produksi Politeknik Harapan Bersama mengandung asiri bawang merah.

Bawang merah mengandung minyak asiri yang terbukti menyehatkan.

Djenar Mahesa Putra rewel sejak sore. Berkali-kali tangisnya pecah, terdiam sejenak, lalu kembali menangis. Tubuh balita berusia setahun itu terasa hangat ketika disentuh, menandakan ia tengah menderita demam. Sang ibunda, Anissa Hardinia, dengan sigap mengiris kasar 2 siung bawang merah, lalu meletakkan irisan itu dalam minyak kelapa. Setelah beberapa saat, minyak itu ia balurkan ke tubuh putra tersayangnya. Merasakan kehangatan bawang merah yang menenangkan, perlahan Jenar terlelap meski demamnya belum reda.

Anissa hanya satu dari ribuan ibu yang sejak ratusan tahun silam mengandalkan bawang merah untuk meredakan demam pada bayi atau balita. Selain itu, “Orangtua kita juga mengajarkan untuk mengoleskan umbi bawang merah ke kaki ketika menggunakan sepatu baru. Umbi bawang merah mengandung minyak,” kata Kepala Program Studi Farmasi Politeknik Harapan Bersama, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Heru Nurcahyo, S.Farm., M.Sc, Apt. Ia menduga minyak itu jenis minyak terbang alias asiri. Heru lantas mencari pustaka yang menjelaskan cara mengeluarkan minyak itu.

Bawang kecil

Berbagai literatur yang ia jumpai menegaskan bawang merah mengandung minyak asiri. Namun tidak ada yang membahas rinci teknik penyulingannya, jenis pelarut yang digunakan, ataupun perangkat yang cocok. Padahal, “Jenis pelarut menentukan keberhasilan dan tingkat rendemen penyulingan,” katanya. Ia lantas menyusun peralatan di laboratorium untuk menyuling umbi Allium cepa itu. Dalam penelitian pertama pada pertengahan 2015, Heru merajang halus umbi dengan ketebalan 1—2 mm secara manual.

Sebanyak 500 gram rajangan umbi itu ia masukkan dalam labu distilasi berisi air. Labu ia panaskan dengan pembakar spiritus hingga air di dalamnya mendidih. Uap yang mengalir ia masukkan dalam kolom pendingin yang berujung di labu penampung. Dalam percobaan pertama, minyak mulai menetes sejak mulai pemanasan 3 jam dan selesai dalam 2 jam sehingga total waktu 5 jam. Bawang merah 0,5 kg menghasilkan 1 gram minyak atau rendemen 0,2%.

Periset minyak asiri bawang merah, Heru Cahyono S.Farm M.Sc,Apt.

Periset minyak asiri bawang merah, Heru Cahyono S.Farm M.Sc,Apt.

Percobaan berikutnya, Magister Farmasi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu menggunakan teknik penyulingan uap. Air ia didihkan dalam labu yang berfungsi sebagai bejana uap. Uap yang terbentuk ia alirkan ke dalam labu berisi bawang merah. Cara itu efektif memangkas waktu, minyak menetes 2 jam sejak uap mengalir sehingga total waktu penyulingan hanya 4 jam. Rendemen teknik penyulingan uap sama, 0,2%. “Labu yang menjadi bejana uap bisa diisi air mendidih sehingga uap lebih cepat terbentuk,” ungkap ayah 2 anak itu.

Baca juga:  Kefir Akhiri Fistula

Minyak dalam labu penampung masih tercampur air sehingga Heru memisahkan air menggunakan corong pemisah. Minyak berada di atas sehingga air ia keluarkan melalui keran di dasar corong. Minyak asiri bawang merah murni berwarna cokelat gelap dengan aroma seperti lemak. Aroma khas bawang merah justru tidak tercium. Penyulingan itu lantas menjadi salah satu materi praktikum mahasiswa di program studi yang ia pimpin. Dari berbagai praktikum itu, Heru menyimpulkan bahwa minyak justru banyak terdapat dalam umbi bawang merah kecil.

Bawang kecil itu biasanya dijadikan bibit oleh petani. “Umbi bawang merah besar kebanyakan mengandung air, kandungan minyak tidak sebanding ukurannya,” kata Heru. Rendemen bawang merah yang ditanam secara organik lebih tinggi. Menurutnya, bawang merah organik lebih padat dan kadar airnya lebih rendah ketimbang hasil budidaya konvensional. Umbi untuk penyulingan minimal berumur 3 bulan dari panen sehingga kandungan airnya menyusut. Umbi itu ia simpan tanpa memangkas daun untuk mencegah munculnya tunas.

Zaitun cocok

Saat menyuling dalam bejana distilasi besar berkapasitas 50 kg, Heru mendapatkan rendemen hingga 1%. Musababnya, tutup dan persambungan bejana besar itu lebih rapat ketimbang bejana percobaan labotarorium sehingga tidak ada uap yang bocor. Rendemen minyak umbi bawang merah organik yang disuling dalam bejana besar mencapai 2%. “Bisa lebih kalau bawang merah dilumat halus,” ujarnya. Sayang, tidak ada pustaka yang bisa menjadi rujukan tentang kandungan maksimal minyak asiri dalam umbi bawang merah.

Pria kelahiran Pacitan 38 tahun lalu itu menjadikan minyak bawang merah sebagai bahan untuk membuat minyak oles beraroma menyegarkan (aromaterapi). Berangkat dari kearifan lokal, ia mencoba minyak kelapa sebagai bahan utama. Namun, sifat lengket minyak kelapa membuat minyak oles terasa lengket di kulit. Heru lantas mengganti minyak kelapa dengan minyak zaitun. Cocok, penambahan olive oil itu menghasilkan minyak oles jernih kekuningan yang tidak lengket di kulit. Ia lantas meracik minyak oles dengan kandungan minyak bawang merah 5% dan 10%.

Teknik penyulingan uap dengan labu terpisah lebih cepat menghasilkan minyak.

Teknik penyulingan uap dengan labu terpisah lebih cepat menghasilkan minyak.

Minyak oles yang mengandung 10% minyak asiri bawang membuat kulit nyeri kemerahan, ciri terjadi iritasi. Campuran 5% minyak asiri bawang pas, hangat, dan nyaman di kulit. Dengan penambahan 5% minyak mentol untuk aromaterapi, aroma bawang merah sama sekali tidak terasa. Meski demikian, minyak itu mengandung zat-zat berkhasiat dalam bawang merah. Riset P Lestari dari Akademi Farmasi Yayasan Tenaga Pembangunan Arjuna, Samosir, Sumatera Utara, bawang merah memiliki kuersetin, sikloaliin, dan kaemferol yang semuanya bersifat antioksidan.

Baca juga:  Diet Keto Diet Enak

Jika rendemen rata-rata 1%, sekuintal umbi menghasilkan 1 kg asiri, setara 1.250 ml—cukup untuk membuat 2.500 botol minyak oles. Pengalaman Heru saat membuat 1.000 botol untuk even wisuda, harga impas—sudah termasuk minyak zaitun, mentol, botol, dan biaya produksi—mencapai Rp5.000 per botol. Dengan konsentrasi 5%, sebotol minyak oles volume 10 ml mengandung 0,5 ml asiri bawang merah. Berdasarkan hitungan itu, Heru memperkirakan harga pantas sekilogram asiri bawang merah Rp1,2 juta.

Budidaya organik meningkatkan kandungan minyak asiri bawang merah.

Budidaya organik meningkatkan kandungan minyak asiri bawang merah.

Catatannya, biaya dihitung dengan harga bawang merah Rp10.000 per kg. Salah satu laman mancanegara di dunia maya menawarkan asiri bawang merah seharga US$1.451,82 per 986 ml atau setara bobot 788,5 gram. Artinya, harga sekilogram US$1.841,14 atau Rp25,87 juta dengan kurs US$1=Rp14.050. Menjual 2 kg bisa membeli skuter matik premium yang tengah populer. Menurut petani bawang merah di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Suwandi Dirja, biaya pokok (break even point, BEP) budidaya bawang merah Rp6.700—Rp8.000 per kg tergantung musim.

Pada musim panen raya, harga anjlok kurang dari Rp8.000. Saat harga rendah itulah pembuatan minyak asiri bisa menjadi alternatif. Periset minyak asiri di Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Dwi Setyaningsih, M.Si, menyatakan asiri bawang merah di Indonesia belum mempunyai pasar karena belum ada produk yang menggunakan. Padahal, “Kandungan asiri bawang merah meningkatkan khasiat minyak oles,” kata Heru.

Produsen besar minyak oles memilih minyak yang lazim tersedia dengan pertimbangan kontinuitas produksi. Melalui kampus, Heru mengemas minyak oles bawang merah dengan merek Friends Care yang sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Ia yakin kalau produksi asiri bawang merah rutin, pasar akan terbuka. Minyak oles baru langkah awal. Heru berencana meneliti sampai bawang merah menjadi herbal terstandar atau fitofarmaka, menyusul rimpang temulawak. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *