Mingi Abadi dalam Tradisi 1
Patrisius Pen menuai mingi atau buah sirih

Patrisius Pen menuai mingi atau buah sirih

Usia Patrisius Pen memang tak lagi muda. Pria lebih dari separuh abad itu cekatan memanjat tangga berupa sebatang bambu. Tangga tanpa pegangan. Di tangga itu hanya ada bekas ranting-ranting kecil tersusun dengan interval tertentu tempat memijak beberapa jari kaki. Ia tangkas memanjat hingga ketinggian 3—4 meter untuk memetik buah sirih. Tanaman anggota famili Piperaceae itu merambati pohon aren di sisi timur rumahnya. Batang pohon aren sepelukan orang itu tak lagi tampak. Daun sirih membungkus pokok Arenga pinnata hingga ketinggian 4 meter di atas permukaan tanah.

Warga Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, itu mengambil satu per satu buah seukuran kelingking. Warnanya hijau muda. Masyarakat setempat menyebutnya mingi. Setelah memperoleh sekantung mingi, ia turun tangga. Patrisius lantas menjemur buah kerabat lada itu 2—3 hari hingga kering. Kadang-kadang ia menjual buah segar, Rp500.000 per satu wang terdiri atas 100 buah. Pedagang dari Bima, Sumba, Sape, atau Pulau Komodo mendatangi rumahnya untuk membeli mingi segar.

Buah sirih kering siap jual ke pasar

Buah sirih kering siap jual ke pasar

Acap kali Patrisius menjual mingi kering yang awet hingga bertahun-tahun itu. Anak kedua dari lima bersaudara itu menjual buah sirih ke Pasar Labuanbajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat, 40-an km dari rumahnya. Sekali ke pasar ia membawa 5 real. Satu real sama dengan 4 suku. Satu suku terdiri atas 600 buah yang tersusun rapi dengan tali. Artinya 5 real setara 12.000 buah sirih. Buah sirih kebutuhan warga desa di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Pria dan wanita warga desa di depi Danau Sanonggoang itu terbiasa menyirih.

Baca juga:  Juri Sepakat Maskot Terbaik

Ketika Trubus mengunjungi desa itu menjumpai banyak orang yang menyirih. Dalam sebuah upacara adat di Mukun, Manggarai Timur, untuk menyambut . mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Aloysius Benedictus Mboi, masyarakat juga menghadirkan sirih pinang. Namun, masyarakat Manggarai bukan mengunyah daun kala alias sirih, melainkan buahnya yang bercitarasa pedas dan hangat. Oleh karena itu hampir semua warga di Desa Waesano membudidayakan tanaman sirih Piper betle di pekarangannya rumahnya yang masih jembar.

Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, sebagian panen mingi mereka jual. Di desa itu sirih juga tak bisa dilepaskan dari adat-istiadat. Menurut Patrisius beragam adat di desa itu menyertakan mingi sebagai salah satu komponen penting. Ia mencontohkan pada upacara pernikahan, pasangan pengantin wajib menyediakan buah sirih kepada semua tamu sebagai tanda penghormatan. Tamu akan menyirih dengan buah mingi, irisan pinang Arenga catechu, dan kapur.

Pingi muda bercitarasa hangat

Pingi muda bercitarasa hangat

Menurut pegiat konservasi lingkungan dari Bird Life di Manggarai Barat, Tiburtius Hani, tradisi menyirih itu mengandung filosofi mendalam. Ia mencontohkan tanaman sirih simbol rendah hati dan saling mengasihi. Di alam tanaman merambat itu bisa hidup berdampingan dengan pohon lain tanpa merusak. Di pekarangan Patrisius, sirih merambat di batang aren. Pinang yang tumbuh lurus dan buah menggelayut simbol pekerja keras, kejujuran, dan kehormatan. Kapur yang putih itu simbol ketulusan.

Menyirih tradisi yang juga hidup di belahan dunia lain seperti Vietnam, Myanmar, dan Taiwan itu juga berfaedah bagi kesehatan. Menurut periset bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Susiarti, kebiasaan menginang atau menyirih berefek positif. Sebab, bahan baku menyirih mengandung antiseptik yang dapat memperkuat gigi. Sirih yang dikunyah mengurangi bahaya karies gigi dan menjaga kesehatan mulut.

Pinang dan buah sirih bahan untuk menyirih dijajakan di Biak, Papua Barat

Pinang dan buah sirih bahan untuk menyirih dijajakan di Biak, Papua Barat

Kandungan kimia buah sirih antara lain steroid, tanin, terpenoid, flavonoid, dan turunan kinon. Sirih juga mengandung senyawa aktif arekolin yang tersebar di semua bagian tanaman. Zat aktif itu berfungsi sebagai antibakteri dan meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Periset di Pusat Penelitian Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Dra Yun Astuti Nugroho M Kes, membuktikan buah sirih juga manjur mengatasi malaria. Menurut hasil uji Yun Astuti dosis 0,562 ml per 30 g bobot tubuh menekan perkembangan Plasmodium berghei—protozoa penyebab malaria—dalam darah mencit.

Baca juga:  Musuh Bebuyutan Kini Takluk

Ramuan itu sekaligus menurunkan suhu tikus sampai 2oC pada pemberian dosis 3,75 ml. Itu bukti sahih betapa berkhasiatnya buah sirih. Masyarakat Waesano bukan hanya memanfaatkan buah sirih sebagai benteng kesehatan tubuh. Mereka juga memanfaatkan beragam tanaman obat yang tumbuh di hutan Sesok seluas 4.000 ha. Di rimba itu tumbuh beragam tanaman obat untuk mengatasi aneka penyakit dan gangguan kesehatan seperti kanker, tergigit ular, demam, dan pascamelahirkan (baca: Bugar Bersandar pada Rimba halaman 58—63).

Menyirih tradisi yang hidup di berbagai wilayah

Menyirih tradisi yang hidup di berbagai wilayah

Hutan Sesok bagian dari Bentang Alam Mbeliling seluas total 30.000 ha begitu penting bagi kehidupan mereka. Oleh karena itu mereka mati-matian menjaga hutan yang juga menjadi habitat beragam burung endemik di Flores dan sumber mata air. “Walau ada tambang emas di hutan itu, saya tak tertarik untuk menggalinya,” ujar pegiat konservasi Hendrikus Habur pada sebuah rembang petang yang dingin di Waesano. Laurensius Laman di Desa Pulaununcung, Kecamatan Sanonggoang, berpendapat serupa. Mereka memang seikat bagai sirih serumpun bagai serai, seia sekata merawat hutan yang menyimpan beragam obat. (Sardi Duryatmo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *