Midas Pengolah Sampah 1

Mengolah sampah menjadi beragam produk yang berfaedah.

Virgowati Retno Purwaningsih (49 tahun) memilah dan mengolah sampah menjadi beragam produk yang bermanfaat.

Virgowati Retno Purwaningsih (49 tahun) memilah dan mengolah sampah menjadi beragam produk yang bermanfaat.

Laksana sentuhan Midas, apa pun yang dipegang berubah menjadi emas. Begitulah tamsil sentuhan tangan Virgowati Retno Purwaningsih terhadap sampah-sampah yang semula tak bernilai. Warga Gunungsari, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu mengolah aneka sampah plastik antara lain bekas wadah kecap, minyak goreng, detergen, serta pewangi dan pelembut pakaian menjadi produk yang berfaedah.

Sekadar menyebut beberapa contoh, Virgo membuat penutup dada bagi pengendara sepeda motor, tas belanja untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, tas laptop, dompet, bahkan alas duduk. Semua produk itu berbahan baku sampah. Ternyata masyarakat juga menggemari beragam produk daur ulang itu. Setiap bulan Virgo melayani permintaan tak kurang dari 35 penutup dada. Harga jualnya Rp55.000 per buah yang memberikan omzet Rp1,9 juta per bulan.

Memilah sampah

Adapun permintaan tas belanja mencapai 40-an buah per bulan. Virgo menjual tas itu Rp40.000 per buah sehingga memberikan omzet jutaan rupiah. Perempuan 49 tahun itu juga memasarkan tas laptop dari kantong bekas detergen. Virgo yang membuka Butik Sendu—akronim dari ibu cantik senang daur ulang—mampu menjual minimal 5 tas komputer jinjing per bulan dengan harga Rp150.000 per buah.

Beragam produk kreasi Virgowati Retno Purwaningsih berbahan baku sampah.

Beragam produk kreasi Virgowati Retno Purwaningsih berbahan baku sampah.

Harga tas komputer lebih mahal daripada produk lain karena “tidak bermerk”. Maksudnya produk tertentu seperti wadah kopi dan detergen yang menjadi bahan baku tas komputer itu tidak tampak merk. Virgo memotong bahan baku itu menjadi ukuran kecil dan menjahit ulang. “Kadang-kadang banyak permintaan, tapi sampahnya tidak ada,” kata perempuan yang juga beternak burung lovebird di rumahnya. Sampah menjadi sumber pendapatan bagi nenek satu cucu itu.

Baca juga:  Panen Jeruk Sadu Bermutu

Belum lama ini Virgo juga mengikuti lomba kreativitas mengolah sampah tingkat provinsi di Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Panitia memberi waktu 4 jam bagi peserta—total 80 orang dari berbagai daerah—untuk berkreasi. Virgo merangkai tutup-tutup botol air minum menjadi satu kesatuan. Anggota Asosiasi Bank Sampah Seluruh Indonesia itu menyatukan antartutup itu dengan pengait khusus dari plastik sehingga sangat kuat.

Dalam waktu empat jam, tutup-tutup botol aneka warna itu menjadi alas duduk yang elok. Pada kompetisi itu Virgo meraih juara kesatu. Ibu tiga anak itu memang memilah sampah sejak dari dapur. Ia mengelompokkan sampah menjadi tiga bagian, sampah organik basah, sampah organik kering, dan plastik—termasuk kertas. Setelah terpilah, barulah Virgo memasukkan sampah organik basah seperti sisa nasi dan sayuran ke lubang biopori.

Di halaman rumahnya seluas dua kali meja pingpong, Virgo membuat delapan lubang biopori. Secara periodik ia memasukkan sampah ke dalamnya. Pehobi menanam itu memanfaatkan kompos dari lubang biopori sebagai media tanam. Dengan demikian ia tidak perlu membeli media tanam untuk menyalurkan hobinya. Adapun sampah organik kering seperti irisan kulit kentang dan wortel akan berakhir di bak komposter.

Ia merancang dan membuat sendiri wadah pengompos, termasuk mengebor dinding wadah kompos untuk memasukkan keran. Virgo memanen dua jenis pupuk sekaligus dari sebuah komposter, yakni pupuk cair dan pupuk padat. Melalui keran itu Virgo memanen pupuk cair sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Sementara untuk memanen biomassa, ia tinggal membuka tutup komposter. Dengan pemilahan itu, sebagian besar sampah termanfaatkan.

Bank sampah

Penghargaan dari berbagai lembaga atas kegiatan di bidang lingkungan hidup.

Penghargaan dari berbagai lembaga atas kegiatan di bidang lingkungan hidup.

Sampah plastik seperti botol air minuman dalam kemasan untuk memasok bank sampah. Virgowati merintis pendirian bank sampah di wilayahnya pada 2012 ketika suaminya, Hudori, menjabat sebagai ketua Rukun Warga (RW)—terdiri atas 9 Rukun Tetangga (RT). Satu RT terdiri atas 80—100 kepala keluarga. Sulung lima bersaudara itu menularkan kebiasaan memilah dan mengolah sampah kepada warga lain, termasuk membuat lubang biopori.

Baca juga:  Noni Demi si Manis

Saat ini di RW itu terdapat enam bank sampah antara lain Smart Link (Semangat Masyarakat Lingkungan), Berhias (Bersih Hijau Asri, dan Sehat), Buncis (Bunda Cantik Cinta Sampah), dan Pelita (Peduli Lingkungan Semesta). Virgo yang menjadi anggota Asosiasi Bank Sampah Seluruh Indonesia itu mengatakan bahwa warga yang memilah sampah sejak dari rumah memperoleh pendapatan tambahan.

Contoh jika menjual botol plastik utuh hanya mendapat harga Rp1.500 per kg. Namun, jika memilah ulang botol, ring atau cincin botol, tutup, dan plastik kemasan secara terpisah, maka harga lebih tinggi, yakni masing-masing Rp2.800, Rp1.500, Rp3.100, dan Rp1.000 per kilogram. “Duit itu nomor sekian, tapi yang penting bersih lingkungan,” kata Virgo.

Warga menyetorkan beragam sampah ke bank sampah setiap Senin. Petugas bank akan mencatat volume setoran sampah di buku khusus. Harap mafhum, setiap “nasabah” memiliki buku masing-masing. Masyarakat yang enggan memilah disediakan tempat sampah komunal berukuran 1 m x 1 m sedalam 1 meter yang tersebar di setiap lingkungan RT. Konsistensi warga wilayah RW itu mengolah sampah mengantarkan wilayah itu menjadi Kawasan Ramah Lingkungan tingkat Kabupaten Bogor. (Sardi Duryatmo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *