Daging buah tebal, renyah,  dan manis, jadi andalan Tatang memasarkan buah produksinya

Daging buah tebal, renyah, dan manis, jadi andalan Tatang memasarkan buah produksinya

Rasa belimbing blitar di kebun Tatang Halim tetap manis, 14 briks, meski panen pada musim hujan.

Curah hujan tinggi penyebab kualitas buah rendah. “Buah jadi kurang manis,” kata Ricky Hadimulya, penangkar bibit tanaman buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Belimbing hasil panen pada musim hujan pun terasa hambar. Itu karena kandungan air tanah di perakaran tanaman relatif tinggi sehingga serapan air oleh akar meningkat. Akibatnya kadar air dalam buah bintang itu terlalu tinggi. Wajar tamu di rumah Tatang Halim  semula tak begitu berselera menikmati belimbing sajian tuan rumah.

Pekebun buah di Desa Babat, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu memang panen belimbing pada Januari 2014 ketika curah hujan tinggi. Selain itu sosok buah berukuran kecil, berbobot 170—250 gram, dan sirip belimbing masih hijau. Namun setelah mencicip buah, anggapan belimbing hambar langsung sirna. Trubus yang juga mencicipi buah anggota famili Oxalidaceae itu membuktikan rasa manis buah bintang.

Pembungkusan dilakukan saat buah sebesar ibu jari

Pembungkusan dilakukan saat buah sebesar ibu jari

Tiga faktor

Rasa manis belimbing itu bertahan hingga potongan terakhir di ujung buah. “Bila rasa manis masih terasa meski buah telah habis di mulut, itu tandanya tingkat kemanisan tinggi,” ujar Tatang. Ia memperkirakan tingkat kemanisan belimbing itu berkisar 13o briks. Pengukuran dengan refraktometer, menunjukkan bahwa tingkat kemanisannya mencapai 14o  briks. Padahal, lazimnya kadar kemanisan belimbing hasil panen pada musim hujan hanya 6—8o briks. Keistimewaan lain, daging star fruit itu padat dan bertekstur renyah.

Kunci kemanisan belimbing Averrhoa carambola itu antara lain pemberian nutrisi yang tepat dan memadai (baca boks: Maniskan Bitang halaman 47). Tatang Halim mudah memasarkan belimbing manis hasil panen pada musim hujan itu. Ukuran buah belimbing yang relatif kecil, 4—6 buah per kg,  tak menjadi kendala. “Justru sekarang konsumen cenderung memilih buah kecil lantaran buah habis sekali makan, sehingga tidak perlu menyimpan sisa,” ujar Tatang Halim yang juga pemasok buah itu.

Belimbing siap panen pada tingkat kematangan 80—90%

Belimbing siap panen pada tingkat kematangan 80—90%

Tatang membanderol buah berlabel GA singkatan Golden Agro Tropical Fruit itu Rp15.000 per kg.  Meski harganya tinggi, tetapi tidak menyurutkan konsumen untuk membelinya. Itu karena buah yang disajikan rasanya selalu manis meski hasil panen pada musim hujan.  Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Institut Pertanian Bogor, Sobir PhD, menuturkan kadar kemanisan buah-buahan ditentukan oleh 3 faktor: varietas, iklim, dan unsur hara.

Baca juga:  Kendala Berkebun Lada

“Bila menginginkan buah manis, harus menanam varietas yang buahnya manis,” kata Sobir. Meski demikian, pada musim hujan, varietas manis pun berkurang kemanisannya. Itu karena kandungan air dalam buah lebih banyak sehingga kadar gula lebih “encer”. Sinar matahari pun kerap terhalang awan sehingga daun tidak dapat berfotosintesis secara optimal. Akibatnya tingkat kemanisan buah berkurang. “Jadi ukuran buah besar, tetapi rasanya anyep (hambar, red),” ujar Sobir.

Faktor terakhir adalah asupan unsur hara. Sobir menuturkan tanaman membutuhkan keseimbangan pemberian nitrogen, kalium, dan kalsium sebagai komponen pembentuk gula. “Waktu pemberian pupuk juga perlu diperhatikan,” kata dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu. Contohnya, pekebun kerap memberikan boron pada fase vegetatif, idealnya pada saat pembentukan buah karena membantu akumulasi nutrisi dalam buah.

Yang perlu diingat pekebun, belimbing itu tergolong buah nonklimakterik. Artinya, bila telah dipanen rasanya tidak akan bertambah manis, meski kulit kuning sempurna. Sobir menyarankan panen buah belimbing saat kematangannya mencapai 80—90%, karena mendekati puncak kemanisannya. “Bila di bawah 70%, hanya cocok sebagai salad karena masih didominasi rasa masam,” ujarnya.  (Syah Angkasa)

 

Berikut cara Tatang Halim menghasilkan belimbing madu blitar dengan rasa manis, tingkat kemanisan 14° briks.

  1. Tanam bibit sehat setinggi 40—50 cm dalam lubang tanam berukuran 70 cm x 70 cm x 70 cm. Tatang menggunakan media tanam campuran 30 kg kotoran kambing dan 30 kg ayam, 2 kg biofosfat dari guano (mengandung 4 jenis mikrob), 3 kg humus—semua bahan nutrisi itu hasil fermentasi, 0,5 kg dolomit (kapur pertanian), 2 kg NPK, dan 1 sendok makan furadan.
  2. Siram tanaman muda itu setiap 2 hari. Masing-masing pohon mendapat setengah ember air. Lakukan rutin hingga terbentuk pucuk baru. Setelah itu, mengikuti kondisi di lapangan. Bila mendekati 5—7 hari tidak hujan dan permukaan media terlihat kering, maka tanaman harus disiram.
  3. Pada hari ke-15, berikan 100 g campuran pupuk terdiri atas KCl, TSP, dan ZA dengan perbandingan 1 : 1 : 3. Pemupukan berikutnya pada umur 3 bulan dengan menambah dosis 300 g per tanaman.
  4. Cegah serangan hama dan penyakit dengan menyemprotkan pestisida setiap pekan ke seluruh tajuk tanaman. Gunakan fitozeb, antracol, dan dithane, secara bergantian. Konsentrasinya 1 cc per l air.
  5. Tanaman belimbing berbuah pada umur 6 bulan setelah tanam. Saat buah sebesar ibu jari, 3 cm, bungkus dengan kantong plastik atau kertas transparan agar warna kulitnya kuning atau jingga. Bagian bawah kantong tetap terbuka agar buah tidak pengap.
  6. Semprotkan KNO3® (PN kristal) konsentrasi 2 g per l air dan pupuk cair Phospor® 2 cc per l ke seluruh tajuk tanaman. Keduanya berperan dalam memaniskan buah. Frekuensi penyemprotan setiap pekan secara bergantian. Pupuk itu dapat dicampur dan diaplikasikan bersama pestisida. Selang 2—3 bulan buah dipanen. Buka kantong pembungkus untuk melihat warna kulit. Bila 70—80% berubah kuning, buah sudah dapat dipanen. Dengan cara itu buah belimbing memiliki rasa manis.***
Baca juga:  Atasi Hama Buah Surga

532_45

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d