Mesin pengepras tebu tipe juring ganda memiliki tiga fungsi: mengepras, memutus akar, dan membumbun tanah

Mesin pengepras tebu tipe juring ganda memiliki tiga fungsi: mengepras, memutus akar, dan membumbun tanah

Memotong sisa batang dan akar tebu, serta membumbun lebih cepat menggunakan mesin.

Mencari tenaga kerja untuk mengepras alias memotong sisa batang dan akar tebu bukan perkara mudah. Itulah hambatan M Tarmidjan ketika musim tanam tebu tiba. Petani di Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu menggunakan sisa panen tebu itu sebagai bibit untuk penanaman selanjutnya. Sistem budidaya itu sohor sebagai ratun, yakni membiarkan pangkal batang—hasil penanaman sebelumnya—tumbuh menjadi tanaman baru setelah dipanen.

“Penanaman ratun tebu bisa dilakukan 3—4 kali,” ujar petani tebu berusia 46 tahun itu. Untuk lahan seluas 1,07 ha, Tarmidjan membutuhkan tenaga kepras dan potong akar sekitar 6 orang. Sementara para pekerja membutuhkan waktu sepekan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Pekerja memotong batang Saccharum officinarum itu hingga rata permukaan tanah menggunakan cangkul. Tarmidjan mengeluarkan total biaya tenaga kerja kepras Rp2,8-juta per hektar.

Pengolahan tanah tidak diperlukan pada budidaya ratun tebu

Pengolahan tanah tidak diperlukan pada budidaya ratun tebu

Tiga fungsi sekaligus
Andai saja Tarmidjan menggunakan mesin pengepras tebu tipe juring ganda, mungkin ia tak akan mengeluarkan biaya tenaga kerja sebanyak itu. Mesin hasil rancangan Joko Wiyono ST MSi di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) itu hanya membutuhkan 7—8 jam untuk mengepras, memutus akar, dan membumbun tebu di lahan 1 ha.

Artinya petani hanya memerlukan sehari untuk mengepras, memutus akar, dan membumbun tebu seluas satu hektar. Hasil keprasan juga cukup baik, batang tebu tetap utuh. Tarmidjan menuturkan biaya tenaga kerja di daerahnya Rp60.000 per hari. Jika menggunakan mesin, petani cukup mengeluarkan biaya Rp60.000 untuk mengepras, memutus akar, dan membumbun tebu.

Baca juga:  Jitu Atasi Hama Tebu

Padahal pengeprasan tebu secara manual membutuhkan tenaga 20 hari orang kerja per ha. Pada kasus Tarmidjan malah membutuhkan 35 orang tenaga kerja. Mesin pengepras tebu tipe juring ganda itu dirancang memiliki tiga fungsi sekaligus. Pertama, melakukan pengeprasan tebu di lahan kering hingga rata tanah sampai 5 cm di bawah permukaan tanah. Kedua, memutus akar samping (pedot oyot) hingga kedalaman 20 cm. Ketiga, melakukan pembumbunan tanah sepanjang baris tanaman.

Mesin itu pengembangan dari mesin pengepras tipe juring tunggal hasil penelitian Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) pada 2013. “Mesin ini dirancang khusus untuk mempercepat kegiatan rawat ratun tebu,” ujar Joko Wiyono. Hampir 75% petani tebu di Indonesia masih menggunakan sistem ratun.

Joko Wiyono ST MSi, periset mesin pengepras tebu tipe juring ganda

Joko Wiyono ST MSi, periset mesin pengepras tebu tipe juring ganda

Penanaman sistem kepras tebu (ratun) yaitu memelihara sisa batang tebu setelah panen hingga tumbuh tunas dan menjadi tanaman tebu produksi. Sistem ratun memperpendek waktu budidaya tebu, karena tidak perlu pengolahan tanah dan penanaman bibit. “Sistem ratun lebih hemat bibit,” ujar Tarmidjan.

Batang utuh
Sistem ratun memang cara mudah dan murah dalam budidaya tebu. Sayang, hasilnya kurang optimal bila pemotongan saat panen tidak beraturan atau terdapat sisa batang tebu yang pecah. Kualitas hasil keprasan akan menentukan mutu tunas. Oleh karena itu perlu mesin kepras tebu yang mampu memotong secara teratur dan tidak memecahkan batang tebu hingga rata dengan permukaan tanah. “Hasil keprasan yang baik pemotongan bonggol tebu (sisa hasil panen) rata tanah hingga 2—4 cm di bawah permukaan tanah dan batang tidak pecah,” ujar Joko.

Mesin sepanjang 2.800 mm, lebar 1.490 mm, dan tinggi 1.560 mm itu dirancang untuk menurunkan biaya sekaligus mempercepat pengeprasan pada sistem juring ganda. Juring ganda adalah cara menanam tebu dengan membuat dua alur tanam atau juring hasil terobosan inovasi Badan Peneltian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian Kementerian Pertanian.

Sebagian besar petani tebu di Indonesia menggunakan sistem ratun

Sebagian besar petani tebu di Indonesia menggunakan sistem ratun

Petani membuat juring memanjang dengan jarak antarbaris 50 cm sementara jarak antarjuring 135 cm. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr Ir M Syakir, prinsip teknologi juring ganda meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam tebu. “Dengan teknik juring ganda produksi naik 30—60%,” ujar Syakir.

Baca juga:  Pembawa Damai Nan Elegan

Pengoperasian mesin pengepras tebu tipe juring ganda cukup mudah. Sebagai penarik mesin bisa menggunakan traktor roda dua atau roda empat. Gerakkan maju traktor searah dengan baris tanaman. Gerakan traktor akan menarik implemen pengepras dan secara otomatis akan memutar pisau kepras (600—800 rpm). Akibatnya, pisau kepras memotong batang tebu sisa panen hingga rata tanah.

Mesin berbobot 873 kg itu terdiri dari atas delapan komponen utama, yaitu rangka utama, 2 unit pisau pemotong, coulter, chisel, universal joint, 3 gearbox, pipa penguat, serta komponen 3 titik gandeng. “Prototipe mesin kepras tebu ini menggunakan komponen lokal sehingga mudah diperoleh, murah dan tidak memberatkan pekebun,” kata Joko. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d