Mereka Terpincut Kavi 1
Sosok babi guinea atau kavi sepintas mirip marmut. Kini kian banyak pehobi yang memelihara kavi.

Sosok babi guinea atau kavi sepintas mirip marmut. Kini kian banyak pehobi yang memelihara kavi.

Para pehobi jatuh hati pada kavi atau babi guinea.

Namanya saja sudah unik, babi guinea. Faktanya ia bukan babi, ia bukan pula berasal dari Guinea, Afrika. Nama satwa itu acap membingungkan bagi yang baru mendengar. Tubuh satwa asal Andes, Amerika Selatan, itu mungil, seukuran marmut. Masyarakat menyebutnya kavi Cavia porcellus. Nama spesies “porcellus” bermakna babi kecil. Sementara nama genus Cavia berasal dari kata cabiai yang berakar dari cavia—bermakna tikus.

Ada pula yang menyebut tikus belanda—meski, sekali lagi, bukan berasal dari Belanda. Tampang babi guinea itu menggemaskan. Sosok tubuh kompak dengan leher yang pendek. Tubuhnya memiliki rambut lembut yang panjang atau pendek tergantung jenisnya. Moncong hidung yang bentuknya nyaris sejajar dengan mulut itu membuat sering kali tertutup rambut panjang dari bagian atas kepalanya.

Edukasi masyarakat

Panjang tubuh kavi sekitar 20 cm. Para pehobi mudah untuk membawa ke mana-mana. Kembali maraknya tren hewan peliharaan turut mendongkrak popularitas dan jumlah pehobi kavi. Pada 22 Febuari 2017, Cornelya dan 4 rekannya mendirikan Indonesian Cavy Society. Khusus di Jakarta dan Bekasi, Cornelya sebagai koordinator komunitas ICS. Ia dibantu rekannya Regina Alvis dan Daffa Syahputra. Komunitas itu kerap membuat acara di mal atau pusat perbelanjaan dan di acara bertema satwa.

“Kegiatan itu bermanfaat untuk saling mengenal dan mempererat hubungan sesama pencinta kavi,” ujar Cornel. Biasanya kegiatan itu 2 pekan sekali. Pemilihan tempat juga tidak sembarangan. Ketika memilih di pusat perbelanjaan, mereka tak jarang harus menjelaskan tentang kavi yang pembawaannya tenang tidak membuat kotor lingkungan. Menurut Regina kegiatan mengedukasi masyarakat yang tertarik memelihara kavi.

Baca juga:  Buat Sendiri Tin Celup

Regina menuturkan, “Saling tukar pengalaman dan pengetahuan tentang guinea pig adalah paling utama dilakukan saat kopi darat itu.” Anggota komunitas membagi pengalaman merawat kavi, kebersihan kandang, hingga perlakuan khusus saat masuk masa kawin. Kavy memang termasuk hewan yang mudah perawatannya, tetapi perlu perhatian serius dari pemiliknya. Menurut Cornel dasar pembentukan ICS atas keinginan dalam menyejahterakan kehidupan kavi dan hubungan antarpencinta kavi di indonesia.

Anggota Indonesia Cavy Society kerap menyosialisasikan kavi kepada para pehobi mengenai perawatan yang tepat.

Anggota Indonesia Cavy Society kerap menyosialisasikan kavi kepada para pehobi mengenai perawatan yang tepat.

Cornelya berharap kualitas kavi di Indonesia meningkat. Anggotanya terus bertambah menjadi 30 orang di Jakarta. Adapun anggota komunitas serupa di Surakarta, Jawa Tengah, Medan (Sumatera Utara), Bandung (Jawa Barat) mencapai ratusan. Pada tingkat internasional, penggemar kavi memiliki wadah American Cavy Breeder Association (ACBA). Organisasi itu bernaung di bawah induk American Rabbit Breeder Association (ARBA).

Arie Wardhani, juri bersertifikat ARBA mengatakan, kavi salah satu bagian dari asosiasi kelinci internasioal itu lantaran adanya kedekatan karakteristik hewan. “Guinea pig juga memiliki standard of perfection (SOP) dan sering diadakan kontes bersamaan dengan kontes kelinci ARBA,” kata Arie. Di Indonesia, kavi ambil bagian dalam kontes kelinci sejak 2017.

Jenis beragam

Secara umum, terbagi dalam 2 golongan yaitu short hair (berambut pendek) dan long hair (berambut panjang). Beberapa kavi berambut pendek adalah abbysinian, abbysinian satin, american, american satin, teddy, teddy satin, white crusted. Adapun jenis rambut panjang meliputi peruvian, peruvian satin, silkie, silkie satin, coronet, dan texel. Menurut Regina kavi hewan yang ramah pada manusia, sangat jarang mengigit kecuali saat merasa terancam. Makanya ia tidak khawatir saat putrinya berinteraksi dengan klangenannya.

Baca juga:  Berdamai Harga, Demi Kelinci

Menurut Cornel sejatinya satwa anggota famili Caviidae itu sohor sebagai klangenan di Indonesia sejak 2008. Namun, saat itu pemiliknya masih sangat terbatas, sehingga belum banyak masyarakat yang mengetahui tentang hewan itu. “Bahkan, sampai saat ini pun masih banyak yang masih rancu antara hamster dan guinea pig,” kata Cornel. Kedua hewan pengerat atau rodentia itu bersosok kecil. Mereka memiliki dua pasang gigi seri untuk mengerat pakan. Sepasang gigi seri di rahang atas bagian depan dan sepasang lagi di rahang bawah bagian depan.

582 77

Kavi memiliki telinga tidak tegak, tapi arah tumbuhnya ke bawah, jadi kelihatan menempel tubuhnya. Mata bulat kecil dan mengilap dengan tiga variasi warna yaitu hitam, rubi, dan merah. Cornel menjelaskan, jika diperhatikan dengan saksama, wajah hamster berbeda dengan guinea pig, terutama di bagian dahi. Hamster tidak memiliki dahi seperti guinea pig  yang cenderung agak menonjol. Kavi hidup berkelompok, setiap kelompok mempunyai teritori dan dominasi.

Cornel mengatakan, perkembangbiakan guinea pig berbeda dengan kelinci atau hamster yang mudah beranak. “Kadang ada indukan yang kurang subur. Namun, setelah digabungkan dalam kelompok menjadi cepat beranak,” ujar Cornel. Kavi menyukai pakan pelet yang kaya nutrisi. Satwa rodensia itu jarang terserang penyakit berat jika lingkungan kandangnya selalu terjaga kebersihannya. Usia hidupnya dapat mencapai 6 tahun. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *