Mereka Terpikat Parkit 1

Pages from Edisi April 2018 Highrest 118-2

Para pehobi burung parkit tergabung dalam Indonesian Budgerigar Association. Mereka membuat beragam kegiatan bagi masyarakat seperti sosialisasi, kontes, penyebaran informasi.

Guteng Guts jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu melihat sosok parkit, ia langsung terpikat pada warna bulu. Ada sekitar 150-an mutasi burung parkit dan masih akan muncul mutasi-mutasi baru. Selain itu tingkah laku burung parkit juga menggemaskan. Pehobi juga dapat melatih burung anggota keluarga paruh bengkok untuk melakukan beragam atraksi seperti berjalan melewati rintangan, mengikuti komando sang pemilik, dan free flight.

Kedua keunikan itu yang menyebabkan Guteng jatuh hati pada parkit. Untuk memahami jenis parkit atau cara penangkaran, Guteng Guts semula bergabung dengan sebuah akun media sosial. Anggota grup media sosial yang acap membahas burung dan termasuk jenis small parrot itu tergerak membentuk komunitas. Pada Januari 2017 terbentuklah komunitas penggemar parkit. Namanya Indonesian Budgerigar Association (IBA).

Dua tipe

Guteng yang menjabat sebagai ketua IBA menuturkan, “Teman-teman merumuskan supaya kami punya wadah untuk berkumpul dan bisa bergerak. Tujuan kita ke arah standardisasi internasional karena setelah ditelusuri ternyata burung parkit ada organisasi dunianya, yakni World Budgerigar Organization.” (WBO). Menurut Guteng kini anggota IBA mencapai 600 orang yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Para anggota Indonesian Budgerigar Association (IBA) yang sedang berkumpul di rumah Guteng Guts.

Para anggota Indonesian Budgerigar Association (IBA) yang sedang berkumpul di rumah Guteng Guts.

“Komunitas ini bergerak dari Jabodetabek dahulu. Namun, tidak menutup kemungkinan berkembang ke daerah lain di Indonesia,” kata Guteng. Salah satu syarat yang sudah tercapai jika IBA ingin bergabung dengan WBO, yakni mempunyai 500 anggota aktif. Di samping itu komunitas parkit juga harus mempunyai agenda rutin setiap tahun. Beberapa agenda rutin IBA setiap tahun adalah kumpul komunitas setiap 3 bulan sekali dan mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan burung parkit.

Baca juga:  Kanker Hati pun Lumpuh

Ketika berkumpul, komunitas juga membahas perawatan burung anggota famili Psittaculidae itu. Sebab, para pehobi acap kali menghadapi masalah dalam pemeliharaan parkit. Pertemuan rutin atau kopi darat menjadi sarana untuk bertukar informasi. Menurut Guteng perawatan burung parkit relatif mudah, yang terpenting menjaga kebersihan kandang serta pakan dan minum. Jika parkit berada di alam pakannya kombinasi 70% sayuran dan buah, 30% biji-bijian.

Guteng menuturkan, pakan parkit budidaya terbalik 70% biji-bijian, 30% sayuran seperti jagung dan kangkung serta beragam buah antara lain apel. Pemberian pakan pada pagi hari. Frekuensinya sekali sehari. Para pehobi anggota komunitas IBA juga memberikan vitamin dan probiotik untuk membantu pencernaan, kalsium untuk memperkuat tulang. Budgie atau parkit terdiri atas dua jenis, yaitu tipe klangenan atau pet type dan kontes (show budgie atau exhibition budgie).

Burung parkit pet breed betina (cere/hudungnya berwarna putih atau cokelat persilangan antara Pet Type dengan Show Budgie.

Burung parkit pet breed betina (cere/hudungnya berwarna putih atau cokelat persilangan antara Pet Type dengan Show Budgie.

Perbedaan utama dari keduanya dari bentuk fisik. Parkit tipe kontes bertubuh lebih besar, berbulu lebih lebat, dan mahkota (bulu di dahi atau kepala lebih tebal). Parkit tipe kontes di Indonesia mendapat sebutan parkit holland. Para pehobi di Indonesia lebih banyak memeilihara parkit klangenan. Menurut divisi edukasi IBA, Bayu MBF, untuk memelihara sepasang burung parkit berkualitas memerlukan Rp600.000.

Selain itu pehobi juga harus membeli kandang seharga Rp200.000. Adapun biaya pakan rata-rata Rp100.000 per bulan untuk seekor parkit. Saat ini harga seekor anakan burung parkit atau dewasa rata-rata sama, seharga Rp100.000—Rp1 juta.

Visi komunitas

Indonesian Budgeriger Association memiliki visi dan misi untuk menaikkan minat pehobi terhadap parkit. Di kalangan pencinta burung maupun masyarakat, parkit masih dipandang sebelah mata, yakni sebagai burung murah yang sering dijajahkan pedagang burung dalam satu kandang isinya bisa sampai puluhan. Sebab, pengetahuan masyarakat masih kurang terhadap parkit. Oleh karena itu, IBA mengadakan sosialisasi atau seminar mengenai burung parkit. IBA terus- menerus menyosialisasikan burung parkit.

Baca juga:  Riau Dukung Lumbung Pangan Dunia

IBA juga berdiskusi cara menghidupkan komunitas parkit dengan Bob Wilson dari Amerika Serikat. Panitia kontes kecantikan parkit di Johorbaru, Malaysia, juga mengundang IBA pada Mei 2018. Guteng mengatakan bahwa komunitas parkit di mancanegara sangat peduli pada IBA.

Burung parkit usia 1 bulan lebih.

Burung parkit usia 1 bulan lebih.

Mereka melihat Indonesia mempunyai potensi yang besar. “Organisasi mereka bagus walaupun anggota sedikit, mereka bagus karena terbuka dengan pihak luar,” kata Rendra Saputra anggota IBA. Guteng mengatakan, pada 2018 IBA terus berkembang ke arah internasional. Ia berharap komunitas makin besar. Bukan sekadar besar dalam arti banyak anggotanya, tetapi besar dalam kegiatan dan mampu bergabung dengan induk organisasi parkit dunia.

Pada 24 Maret 2018 IBA mengadakan seminar bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) dan Indonesian Parrot Lovers di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). IBA juga menyosialisasikan parkit, menyelenggarakan kontes, dan edukasi pada ulang tahun TMII 22 April 2018. Adapun kontes kecantikan parkit akan berlangsung pada Mei 2018 dan September 2018. (Fakhri Muhammad Luthfi)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *