Amel Carla dan iguana kesayangan, Ebon

Amel Carla dan iguana kesayangan, Ebon

Satwa tertentu tak ubahnya sahabat bagi sebagian anggota masyarakat perkotaan yang terus bergegas.

Artis Amalia Nuril Aqmarina sohor dengan nama Amel Carla acap kali mencurahkan masalah kepada Ebon, iguana kesayangannya. Ia mengisahkan pelajaran yang relatif sulit dan kejadian-kejadian lain di sekolah. “Saya sering mencurahkan isi hati alias curhat ke iguana,” kata artis film “Kau & Aku Cinta Indonesia” itu. Perempuan 13 tahun kelahiran Bontang, Kalimantan Timur, itu memelihara iguana sejak 2010.

Hewan peliharaan seperti scarlet menjadi teman berbagi di kehidupan kota yang sibuk dan bergegas

Hewan peliharaan seperti scarlet menjadi teman berbagi di kehidupan kota yang sibuk dan bergegas

Setiap hari perempuan yang hobi bernyanyi itu meluangkan waktu 10—30 menit bersama Ebon. “Biasanya saya menemui Ebon pukul 16.00,” kata Amel. Artis dalam komedi situasi “Suami-suami Takut Istri” itu tertarik memelihara satwa anggota famili Iguanidae karena lucu dan unik. Ia menganggap hewan yang dideskripsikan pertama kali oleh naturalis asal Austria, Josephus Nicolaus Laurenti, itu sebagai adiknya.

Teman bersepeda
Amel tidak memasukkan iguana jantan itu ke dalam kandang. Sebab ukuran Ebon hampir 2 meter dan tidak ada kandang yang bisa menampung. Selain itu, Ebon juga jinak. Siswi kelas 2 sekolah menengah pertama negeri di Jakarta Selatan itu memiliki 4 iguana di kediamannya. Yang paling besar Ebon dan berumur 4 tahun. Sementara tiga iguana lainnya berusia 6 bulan.

Perkenalan Amel pada reptil asli Meksiko itu bermula pada 2010. “Saya mengenal iguana dari teman ayah,” kata Amel. Saat itu Ebon berukuran 15 cm, kini panjang tubuh iguana itu lebih dari 2 m. Amel memberikan sayuran seperti kangkung dan kacang panjang sebagai pakan dua kali sehari. Ia juga memandikan Ebon setiap pagi agar tubuhnya tetap bersih.

Setiap 1—2 bulan Amel menggunting kuku Ebon agar rapi. Agar kesehatan Ebon terkontrol, bungsu dari tiga bersaudara itu membawa iguana ke dokter hewan setiap 6 bulan. Jika Amel memilih Ebon sebagai teman mengobrol, Pramono Harjanto SE memelihara Jerry sebagai kawan bersepeda. Kepala divisi sebuah badan usaha milik negara (BUMN) di Jakarta itu kerap mengajak burung paruh bengkok jenis sun conure itu berjalan-jalan pada akhir pekan.

Dra Mustika Tarigan MPsi, "Memiliki hewan peliharaan bisa mengurangi stres"

Dra Mustika Tarigan MPsi, “Memiliki hewan peliharaan bisa mengurangi stres”

Ia keluar rumah pukul 06.30 dan berkeliling di area kompleks perumahan selama sejam. “Jerry biasanya bertengger di setang sepeda atau di atas bahu saya. Kemudian Jerry terbang mengitari kompleks,” kata warga Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu. Menurut Pramono jenis burung paruh bengkok memang semestinya mengenal lingkungan sekitar.

Baca juga:  Paruh Bengkok Pintar Atraksi

Kegiatan bersepeda itu bermanfaat bagi Jerry. Pada Desember 2014 Aratinga solstitalis tidak pulang ke rumah. Sebab burung lain yang lebih besar mengejar Jerry saat terbang mengitari kompleks. Pramono berusaha mencari burung berumur 5 tahun itu dengan menyebut namanya. Sayang usaha itu gagal karena Jerry tidak merespons panggilan Pramono.

Pramono Harjanto kerap kali membawa burung paruh bengkok koleksinya bersepeda

Pramono Harjanto kerap kali membawa burung paruh bengkok koleksinya bersepeda

“Lazimnya ketika saya menyebut namanya, Jerry terbang menghampiri,” kata ayah 3 anak itu. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu mengkhawatirkan keselamatan Jerry. Pada hari kedua setelah menghilang, burung berwarna dominan kuning dan jingga itu muncul di depan pintu gerbang kompleks. Itu kali ketiga Jerry menghilang. Selain mengajak bersepeda, Pramono kerap membawa Jerry belanja keperluan sehari-hari ke pasar swlayan dan anjungan tunai mandiri (ATM).

Ia dan keluarga juga selalu membawa Jerry sarapan pagi setiap Ahad. Pria berumur 44 tahun itu juga memiliki tiga burung paruh bengkok lain, Zidane (african grey), Paulie (blue crowned conure), dan Pago (patagonian conure). Ia memboyong keempat klangenan itu bergantian keluar rumah. Pramono tertarik memelihara parrot karena itu mimpinya sejak kecil. “Sejak dahulu saya berhasrat memiliki burung peliharaan yang jinak,” kata Pramono.

Komunitas sangat berperan menyosialisasikan hewan eksotis tertentu ke masyarakat

Komunitas sangat berperan menyosialisasikan hewan eksotis tertentu ke masyarakat

Komunitas
Erwin Ratzarwin Nazar pun sering membawa hewan kesayangannya ke pasar swalayan. Pehobi di Kemanggisan, Jakarta Barat, itu mengajak musang pandan Paguma larvata ketika belanja kebutuhan harian. Erwin meletakkan Ciko—nama musang kesayangan—di atas setang sepeda motor. Aktivitas itu ia lakukan sejak Desember 2013. Selesai berbelanja, pria berumur 25 tahun itu tidak langsung pulang.

Toko hewan pun kini berada di pusat perbelanjaan modern

Toko hewan pun kini berada di pusat perbelanjaan modern

Musababnya pengunjung pasar swalayan “menahan” kepulangan Erwin. “Mereka tertarik dengan Ciko dan menanyakan beberapa hal tentang musang,” kata pria kelahiran Jakarta itu. Dari pertemuan itu, beberapa orang berniat memelihara musang. Erwin menganjurkan orang itu untuk mengikuti kegiatan komunitas musang.

Baca juga:  Keluarga Mentol Kaya Khasiat

Saat mengikuti kegiatan komunitas, calon pehobi lebih mengenal musang dan mengetahui seluk-beluk perawatannya. “Saya mengikuti kegiatan komunitas sebulan sebelum mulai memelihara Ciko,” kata pria yang memelihara musang sejak Oktober 2013 itu. Erwin mengenal satwa anggota famili Viveridae itu pada 2013 di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Pramono Harjanto meletakkan kandang paruh bengkok di teras rumah

Pramono Harjanto meletakkan kandang paruh bengkok di teras rumah

Saat berolahraga pada hari bebas kendaraan itu, sekelompok orang membawa musang. Erwin baru tahu ternyata hewan omnivora itu bisa dipelihara. “Sepengetahuan saya musang itu buas,” ujar anggota staf pemasaran sebuah perusahaan farmasi itu. Pada Maret 2014 Erwin mengadopsi musang bulan betina yang diberi nama Cimoy. Kini ada sepasang musang bulan di rumah Erwin.

Erwin Ratzarwin Nazar mengoleksi musang sejak 2013

Erwin Ratzarwin Nazar mengoleksi musang sejak 2013

Pehobi di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Chandra Gunawan, mengatakan tupai gula cocok menjadi hewan peliharaan di apartemen. Kebanyakan apartemen melarang penghuninya memelihara anjing. Tupai gula menjadi alternatif klangenan karena berukuran kecil dan perawatan juga relatif mudah.

Beragam satwa “portabel” itu acap kali menemani para pehobi di berbagai situasi. Di kehidupan kota yang sibuk dan bergegas, anggota masyarakat acap kali merasa kesepian. Musang, burung paruh bengkok, tupai gula hanya beberapa satwa klangenan menjadi sahabat. Menurut dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Medan Area, Dra Mustika Tarigan MPsi, memiliki hewan peliharaan menekan stres akibat beban pekerjaan atau masalah hidup. (Riefza Vebriansyah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d