Kornelis Ndapakamang, ketua kelompok tenun ikat dengan pewarna alami.

Kornelis Ndapakamang, ketua kelompok tenun ikat dengan pewarna alami.

Agustina Kahi Atanau atau yang akrab dipanggil dengan Mama Dan merupakan tokoh pelestari tenun ikat dengan pewarna alami di Sumba Timur. Mama Dan dan keluarganya menjadi mesin penggerak dari kelompok t

Kornelis Ndapakamang, ketua kelompok tenun ikat dengan pewarna alami.

Kornelis Ndapakamang, ketua kelompok tenun ikat dengan pewarna alami.

enun ikat Paluanda Lama Hamu—perajin kain tenun ikat sumba dengan pewarna alami. Di tengah meningkatnya penggunaan pewarna sintetis dalam pembuatan kain tenun, Paluanda Lama Hamu bergeming.

Bagi mereka tenun ikat sumba dengan pewarnaan alami ibarat satu napas. Kini tongkat estafet kepemimpinan Paluanda Lama Hamu berada di tangan Kornelis Ndapakamang—anak kedua Mama Dan. Kornelis menggunakan rumahnya untuk sekretariat Paluanda Lama Hamu. Di rumah Kornelis terdapat sanggar kerja, berbagai kegiatan dalam proses pembuatan kain tenun ikat berlangsung seperti desain, pewarnaan, penenunan, dan ruang pameran. Lembaga itu akan menyelenggarakan ekshibisi di Jakarta pada 3—8 Oktober 2017.

Pria kelahiran 20 Oktober 1972 itu menuturkan ketepatan merupakan unsur penting dalam proses pewarnaan. Sebut saja ketepatan ukuran, bahan, cara, waktu persiapan bahan, dan pencampuran. Selain ahli pewarnaan, Kornelis juga seorang desainer kain tenun ikat. Ia menguasai motif tradisional maupun moderen. Dari motif patola ratu yang tertua, sampai ke motif yang lebih kontemporer seperti patola bunga, patola gajah, patola kamba, papanggang, dan motif binatang lainnya.

Kini Kornelis bekerja sama dengan Yayasan Sekar Kawung—yayasan yang giat mengampanyekan dan mendorong perajin menggunakan warna alam. Paluanda Lama Hamu didukung oleh yayasan itu dalam mengembangkan tenun pewarna alam.

Proses tenun yang masih tradisional menjadikan harga kain bernilai tinggi. Menurut Kornelis harga tinggi merupakan apresiasi terhadap warisan leluhur. “Kalau kami sudah tidak menetapkan standar tinggi bagi karya kami bagaimana orang lain?” kata Kornelis. Ia yakin akan datang orang yang mau memahami betapa bernilainya kain tenun ikat sumba produksi kelompoknya. Buktinya, sebuah merek fashion kelas dunia sudah melirik dan menjajaki kerja sama. (Nora Ekawani, pencinta kain dan budaya)

Baca juga:  Usai Listada Jumpa Acetosa

Tags: kain tenun, lestarikan

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d