Mereka Merawat Mbeliling 1
Kelompok Kembang Mekar dengan 33 anggota perempuan menjaga alam Mbeliling

Kelompok Kembang Mekar dengan 33 anggota perempuan menjaga alam Mbeliling

Air jernih dan segar mengucur dari keran di kamar mandi rumah Patrisius Pen di Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat. “Pipanya menyambung langsung dari sumber air di atas. Saat kemarau pun air tetap mengalir,” ujar Patrisius. Jaringan pipa hasil kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2005 itu memasok air ke 100 kepala keluarga di sana. Ucapan Patrisius bukti bahwa hutan yang terjaga bermanfaat langsung untuk masyarakat.

Di Desa Pulaununcung, Kecamatan Sanonggoang, yang bertetangga dengan Waesano, Laurensius Laman pun merasakan lancarnya pasokan air berkat hutan yang terjaga. Menurut Hendrikus Habur, pegiat lingkungan Desa Waesano, 80% makhluk hidup menggantungkan hidup dari hutan di sisi selatan yang membatasi Waesano dengan Laut Sawu itu.

Agavitus Ampur, koordinator pengembangan ekoturisme lembaga Burung Indonesia tim Mbeliling, menyatakan, sambutan hangat itu menjadi daya tarik untuk wisatawan, khususnya dari mancanegara.

Kedatangan tamu keruan saja menambah isi pundi-pundi masyarakat Waesano. Menurut Tiburtius Hani, kepala lembaga Burung Indonesia tim Mbeliling, Burung Indonesia fokus kepada penguatan ekonomi masyarakat.

“Kalau warga merasa diuntungkan oleh kelestarian hutan, justru merekalah yang aktif menjaga,” ujar Tiburtius. Burung Indonesia tim Mbelililng aktif membina 21 kelompok ekonomi masyarakat melalui usaha bersama simpan pinjam. Pembentukan kelompok itu juga menjadi wadah yang memfasilitasi bantuan dari berbagai pihak sehingga tidak salah sasaran.

Bantuan dari Burung Indonesia tidak diberikan secara cuma-cuma. Masyarakat terikat oleh kesepakatan pelestarian alam desa, yang salah satu kegiatannya adalah pemantauan layanan alam. Dengan kata lain, Burung Indonesia membantu pengembangan kelompok ekonomi, tetapi anggota kelompok pun mesti menjaga kelestarian alam. Menurut Tiburtius, ada 5 sumber daya yang menjadi sasaran pengembangan: alam, manusia, ekonomi, fisik, dan sosial. “Kelimanya harus dikembangkan bersama, barulah lingkungan terjaga,” ujar Tiburtius.

Baca juga:  Kefir Jaga Tubuh Ideal

Contohnya, produksi kopi robusta tumbuk di Desa Liangndara, Kecamatan Mbeliling. Burung Indonesia memberikan pelatihan kepada masyarakat agar mampu menghasilkan kopi yang disukai konsumen. Hasilnya, kopi berlabel Tuk Bambam itu kini dipasarkan sampai kota kecamatan Labuanbajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Menurut Stefanus Landing, koordinator kelompok konservasi dan pembangunan Lestari Jaya, Desa Liangndara, Mbeliling.

Namun, kalau biasanya setelah panen warga hanya menunggu pengepul, kini mereka bisa memproses biji-biji kopi itu menjadi bubuk kopi siap seduh. Penjagaan alam tak melulu dominasi kaum adam. Di Desa Golodamu, Kecamatan Mbeliling, ada kelompok Kembang Mekar yang anggotanya didominasi perempuan. Mereka sukses menanam kacang panjang, sawi putih, bayam, cabai, dan tomat secara organik. Hasilnya selain dikonsumsi sendiri, dikirim ke Labuanbajo. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *