Budidaya hidroponik lazimnya menggunakan meja berbahan talang air

Budidaya hidroponik lazimnya menggunakan meja berbahan talang air

GRC pengganti stirofoam, asbes pengganti talang, beberapa siasat hemat para pekebun hidroponik.

Angin kencang itu datang pada pukul 13.00—14.00. Kedatangannya memporakporandakan sebuah greenhouse hidroponik di Cianjur, Jawa Barat, pada April 2013. Penutup meja hidroponik yang terbuat dari stirofoam juga patah. Direktur Produksi dan Kemitraan Parung Farm, Yudi Supriyono, mengatakan,  “Tanaman tidak sampai mati, karena langsung dipindah ke meja di greenhouse lain.”  Parung Farm setidaknya rugi Rp2-juta.

“Biaya itu untuk perbaikan greenhouse dan penggantian penutup meja talang yang berbahan stirofoam,” kata Yudi. Pascakejadian itu Parung Farm mengganti stirofoam sebagai penutup meja hidroponik dengan Glassfiber Reinforced Cement  (GRC).  GRC bahan seperti beton yang terdiri dari campuran semen dengan pasir, dan menggunakan serat sebagai penguatnya.  Masyarakat memanfaatkan GRC untuk plafon rumah. “GRC lebih berat daripada stirofoam, sehingga tidak mudah rusak ketika terkena angin kencang,” kata Yudi.

 

Yudi Supriyono, direktur produksi dan kemitraan Parung Farm

Yudi Supriyono, direktur produksi dan kemitraan Parung Farm

Hemat biaya

Menurut Yudi harga GRC memang lebih mahal dibanding stirofoam. Harga GRC di toko bangunan mencapai Rp25.000 per m2, sementara stirofoam hanya Rp12.500 per m2. Namun, dari segi keawetan, GRC terbukti lebih awet. “Jika menggunakan stirofoam, penggantiannya sekitar 6 bulan sekali, sementara jika menggunakan GRC, masih bisa awet hingga 2 tahun lebih,” katanya. Selain lebih awet, GRC juga tidak mengundang lumut.

“Pori-pori GRC lebih sempit dibanding stirofoam dan GRC tidak mudah menyerap air yang menyebabkan kondisi lembap sehingga berlumut. Adanya lumut membuat tampilan kebun kurang bersih dan bisa memicu cendawan berkembang,” kata Yudi. Ketika menggunakan stirofoam pembersihan lumut berlangsung usai panen atau rata-rata sebulan sekali. Namun, sejak memanfaatkan GRC, Yudi tak lagi membersihkan lumut.

Baca juga:  Solusi Daging Sapi Langka

Tak hanya penutup meja hidroponik, Parung Farm juga bisa menghemat biaya pembuatan meja. “Jika lazimnya meja hidroponik dari talang, kami mencoba menggunakan asbes dan ternyata harganya lebih murah dan lebih cepat dalam pembuatannya,” kata Yudi. Untuk melubangi asbes, Yudi terlebih dahulu memaku titik tempat lubang tanam. Ia kemudian  mengebor titik itu hingga diameter sekitar 5 cm sebagai lubang tanam sayuran. Yudi mengatakan biaya  pembuatan meja hidroponik menggunakan asbes hanya Rp60.000 per m2, talang, Rp90.000 per m2.

GRC sebagai penutup meja lebih awet dibanding penutup berbahan stirofoam

GRC sebagai penutup meja lebih awet dibanding penutup berbahan stirofoam

Menurut pakar hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, penggunaan asbes untuk meja hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) memiliki kelebihan dan kekurangan. “Kelebihannya memang murah dari segi biaya pembuatannya, tetapi sulit untuk dipindah-pindahkan,” kata Yos. Sebab, bobot asbes lebih berat dibanding talang, apalagi jika asbes sudah terkena air terus-menerus. “Pemindahan meja asbes dilakukan ketika ada kerusakan pada greenhouse,” kata Yudi.

 

Hemat listrik

Pekebun hidroponik di Yogyakarta, Sapto Prayitno, menyampaikan hal senada. Penggunaan asbes sebagai meja hidroponik memiliki kekurangan dalam penataannya. “Dari pabrik, bentuk asbes sudah seperti itu yakni bergelombang dengan ketinggian tertentu dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Jika menggunakan talang masih mudah untuk mengubah-ubah bentuknya lantaran bahan lebih tipis,” kata Sapto.  Selain itu meja asbes juga tidak bisa disusun bertingkat.

Sistem pasang surut lebih cocok untuk proses penyemaian benih

Sistem pasang surut lebih cocok untuk proses penyemaian benih

“Berbeda dengan talang yang masih bisa disusun bertingkat karena relatif ringan,” kata pekebun hidroponik sejak 2007 itu. Menurut Sapto, meja hidroponik dari asbes hanya cocok untuk memproduksi sayuran daun. Menurut Yudi, penggunaan asbes dari segi biaya produksi memang lebih murah, tetapi dari segi hasil masih lebih tinggi menggunakan talang. “Selisihnya sekitar 0,2—0,4 kg per m2. Artinya jika menggunakan talang 1,25 kg per m2, dengan asbes hanya 1 kg per m2,” ujarnya. Menurut Yudi, penggunaan asbes sebagai meja hidroponik cocok untuk pekebun yang memiliki modal pas-pasan.

Baca juga:  Elok Sosok Euphorbus

Selain berhemat biaya, Parung Farm juga bisa menghemat penggunaan listrik. Parung Farm menggunakan teknik Ebb and Flow System atau sistem pasang surut. Yudi memasukkan tanaman pada gelas plastik bekas sebagai pot.  Media tanam dalam pot itu berupa rockwool atau arang sekam. Ia menata pot-pot kecil itu dalam satu wadah. “Per m2 dapat dihuni sekitar 140 tanaman,” kata Yudi. Yudi dua kali mengairi pot-pot per hari, yaitu pukul 09.00 dan pukul 14.00.

Sistem pasang surut pada rak bertingkat di Parung Farm

Sistem pasang surut pada rak bertingkat di Parung Farm

Namun, jika cuaca panas, pengairan bisa ditambah sekali pada pukul 12.00. “Penggunaan listrik hanya sekitar 2 kali 5 menit per hari. Bandingkan dengan teknik NFT yang butuh listrik minimal 12 jam sehari,” kata Yudi. Namun, kelemahan sistem itu, tanaman terlihat kurang bersih, sehingga teknik ini lebih cocok untuk fase penyemaian. Inovasi hidroponik memang tak terbatas pada teknik pengairan semata, penggunaan bahan maupun alat-alat yang lebih awet dan lebih murah akan mampu meningkatkan keuntungan budidaya. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d