Merak hijau

Merak hijau

Saya masuk Grup Bina Swadaya pada Agustus 1992 dengan gaji Rp415.000 sebulan. Di kantin, Jumino menawarkan sepasang anakan burung merak hijau Rp400.000.  Waktu itu bulu merak dijual eceran Rp1.000. Mana lebih bagus? Membawa pulang burung itu dengan risiko dicubit istri sampai mati? Atau setorkan gaji ke rumah dan memandang saja si burung merak dari jauh? Saya pilih yang kedua, sambil menarik napas panjang.

Merak adalah makhluk indah yang tidak dapat dilupakan. Konon di Taman Firdaus, Hawa dibujuk setan agar memetik buah terlarang.  “Kalau makan buah khuldi, kamu akan awet cantik. Bahkan tidak bisa mati,” kata setan yang bersembunyi di mulut ular. Hawa memetik tiga buah yang mirip apel itu.  Satu dimakan sendiri. Satu diberikan kepada Adam. Dan satu lagi untuk burung merak yang menemaninya. Makanya sampai sekarang burung merak sangat cantik dan bikin kontroversi.

Penangkaran
Sebagian umat manusia membenci merak sebagai makhluk yang egoistis, angkuh, sombong! Adapun pemujanya bilang, merak berani tampil beda. Merak percaya diri dan pandai menyambung silaturahmi.  Pelopor periklanan Indonesia, almarhum Ken Sudarto, membiarkan merak mondar-mandir di halaman rumahnya. Saat berdoa untuk upacara 40 hari wafatnya, saya sebut dia sebagai merak jingga yang tidak takut pada siapa pun.  Merak berani mematok ular dan memakannya.

Merak bersobat dengan siapa saja dan suka membersihkan kutu harimau. Kita melihat merak jawa bertengger di kepala harimau jawa dalam pentas reog ponorogo. Kalau mau mengembangkan reog ke seluruh dunia, peternakan merak tentu sangat penting. Oleh karena itulah saya kembali mengontak Jumino. Sekarang pasaran bulu merak polos mencapai Rp30.000 selembar.  Pemerintah menetapkan harga merak dewasa minimal Rp20-juta sepasang.

Meskipun begitu, orang tidak perlu menjadi kaya raya untuk menangkarkan burung merak. Ini dialami oleh Surat Suyoto, warga Desa Tawangrejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Pria sederhana kelahiran November 1957 itu mulai beternak merak sejak 1998. Dengan caranya sendiri ia berhasil menetaskan sekitar 70 telur. Sejak tiga tahun terakhir, ketekunan dan dedikasinya dipuji banyak media massa.

Baca juga:  Hobi Kucing Jadi Bisnis

Kesulitan muncul ketika terjadi wabah flu burung. Banyak meraknya mati, hingga tersisa 20-an ekor saja.  Selain penyakit, kualitas ternak kelas rumah tangga begini cenderung turun akibat perbiakan sedarah. Perkawinan sedarah menghasilkan keturunan yang rentan penyakit dan berumur pendek.  Usia burung merak alami mencapai 24 tahun.  Menurut pengamatan Jumino umur merak antara 10—15 tahun.

Untuk memperpanjang umur dan memulihkan kualitas merak perlu dukungan penelitian.  Kerja sama antara balai konservasi, taman burung, dan taman safari pun perlu digalakkan. Sekarang saatnya perguruan tinggi, pemerintah, dan swasta perlu lebih berperan melestarikan burung merak.

545_ 87-2Historis
Hampir empat abad silam, pada tanggal 10 November 1681, beberapa ayam jago dan burung merak itu dinaikkan ke kapal layar bernama “London” menuju Inggris. Pelabuhan tempat menaikkan burung itu terkenal dengan nama Merak, sampai sekarang. Itulah titipan Sultan Banten untuk Raja Inggris, melalui dua utusannya, Naya Wipraya dan Jaya Sedana. Selain burung hidup, diangkut juga 200 karung lada berikut perhiasan merak dari bahan emas bertabur intan baiduri.

Jangan lupa, kaum ningrat Inggris suka mengonsumsi daging merak pada abad pertengahan.  Hidangan merak utuh berhias bulu menjurai di meja makan, dijumpai pada lukisan dari abad ke-16. Namun, selanjutnya Inggris menjadi bangsa penyayang satwa. Kiriman Sultan Banten mendapat apresiasi yang tinggi.  Ayamnya memasyarakatkan kata bantam—sebutan Banten—untuk melukiskan kelas jagoan. Burung meraknya populer disebut java green peafowl.

Tak lama sesudah itu, London membuka kebun binatang pertama di dunia yang mengenakan karcis pada para pengunjungnya. Sampai sekarang merak jawa adalah produk andalan penangkar burung hias di Inggris. Meskipun merak hijau juga didatangkan dari Laos, Kamboja, dan Birma, namanya tetap merak jawa.  Sayangnya, terjadi perubahan yang drastis dalam status burung merak sebagai satwa yang dilindungi.

Konversi lahan dan maraknya perburuan membuat populasi merak hijau berkurang drastis.  Menurut perkiraan, di seluruh muka Bumi maksimal tinggal 30.000 ekor saja. Seribu di antaranya dalam peternakan yang aman di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Sementara di Pulau Jawa semakin terdesak, diperburuk dengan lepasnya merak hibrida. Pada 2012 Menteri Perdagangan Indonesia, Gita Wirjawan, dengan tegas mengeluarkan larangan ekspor dua macam merak, yakni merak hijau Pavo muticus dan merak kerdil Polypectron malacense.

Baca juga:  Selembar Daun Selaksa Kisah

Merak kerdil terkenal dengan sebutan merak melayu, kebanggan Kebun Binatang Kualalumpur. Sepintas mirip burung kuwau, tetapi berbulu indah dengan bercak-bercak biru. Sejak larangan ekspor itu beredar, merak hijau pun disembunyikan dari pasar burung. Meskipun begitu, kita masih dapat memesan dan merawatnya dengan baik, bila mendapat izin untuk mengembangkan balai konservasi.

Eka Budianta

Eka Budianta

Berbagai penjual burung di Inggris juga merespons positif perubahan status merak hijau.  Di sana merak hijau tidak diperdagangkan lagi. Anakan merak biru berumur satu tahun masih diiklankan seharga 75 pondsterling setara Rp1-juta rupiah seekor. Di Indonesia kebalikannya,  merak biru justru dijual lebih mahal daripada merak lokal.  Harga sebutir telurnya saja Rp600.000 sebutir.

Jumino pernah menjual anakan merak berumur empat bulan Rp2-juta. “Padahal merak hijau jauh lebih bagus. Warnanya berkilap-kilap, sementara merak biru dan putih cenderung kusam dan pucat,” katanya. Pakar burung, Endang Budi Utami, yang pernah merawat merak hijau, merak biru, dan merak putih di Taman Mini Indonesia Indah, merasa heran dan menyayangkan hal ini. “Merak jawa jauh lebih bernilai dari segi konservasi. Seharusnya tidak dijual lagi, dan kita harus patuh pada undang-undang,” ia mengingatkan.

Yang sangat diperlukan sekarang adalah sentra-sentra budidaya merak jawa.  Peluang terbuka di seputar Pelabuhan Merak, terutama Tanjunglesung yang sudah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus.  Provinsi Banten adalah rumah bagi sapi jawa atau banteng dan badak jawa.  Namun,  ratunya tetap merak jawa, keturunan yang tidak pergi ke Inggris. Semuanya masih dapat disaksikan hidup leluasa di Ujungkulon yang sudah diakui sebagai World Natural Heritage atau pusaka alam dunia, sejak 1992. Di sana pula kita bisa bertamasya bersama burung merak paling indah. Mari, kita sayangi teman Hawa yang setia. (Eka Budianta*)

 *) Kolumnis Trubus, pencinta burung Indonesia, pengurus Tirto Utomo Foundation dan advisor Senior Living di Jababeka.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d