menyimpan air hujan,memanfaatkan air hujan

Memanfaatkan air hujan

Hujan memanglah bukan favorit semua orang, bahkan juga Sebagian orang memandang hujan bisa menghalangi kegiatan keseharian, mengakibatkan beragam penyakit, hingga menyebabkan demam, masuk angin, dan sakit di kepala.

Namun, tidak dapat disangkal jika manfaat hujan sangat banyak untuk bumi. Hujan yang turun telah menyiram tanaman pertanian dan tanaman liar yang berada di hutan di penjuru dunia. Air hujan melembapkan udara, membuat aliran dan sungai, mengisi kembali permukaan air, bahkan juga membuat suasana hati manusia menjadi lebih tenang.

Kali ini kita akan membahas sedikit tentang memanfaatkan hasil penyimpanan air hujan untuk menurunkan suhu ruangan dan menyirami taman saat kemarau tiba.

Air hujan untuk menurunkan suhu ruangan

Pada Agustus 2015 gemericik air sayup terdengar di atap sebuah rumah di Pondokaren, Tangerang Selatan, Banten. Padahal saat itu matahari tengah bersinar terik. Hujan pun hampir sebulan tidak membasahi tanah di daerah itu. “Suara” hujan itu hanya terdengar di kediaman milik pasangan arsitek Martin L Katoppo ST MTArs dan Ruth Euselfvita Oppusunggu ST MT.

sistem pemanenan air dan biopori
Pasokan air di rumah cukup memadai saat kemarau karena sistem pemanenan air dan biopori

Ketika menatap atap, tampak air mengalir menuruni genting seperti hujan. Banyu—air dalam Bahasa Jawa—itu keluar dari lubang kecil pada pipa berdiameter 1 inci sepanjang 7 m.

“Lazimnya kami menyiram atap antara pukul 13.00—15.30 agar suhu dalam rumah tidak terlalu panas,” kata Martin. Hasil penelitian pasangan suami istri itu menunjukkan hujan buatan selama 30 menit menurunkan suhu dalam ruangan 1,5ºC.

Air hujan untuk menyirami taman

Hujan buatan tidak hanya menyiram atap. Tetesan air dari pipa juga membasahi taman tegak di sisi barat rumah seluas 110 m2 itu. Penyiraman dilakukan saat pagi pukul 06.30 dan sore pukul 15.30.

Baca juga:  Dominggus Nones, Petani Pala Beromzet Rp 31,5 Miliar

“Setiap penyiraman rata-rata berlangsung 3 menit,” ucap Martin yang juga alumnus Magister Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Martin dan Ruth tidak khawatir kekurangan air karena melakukan penyiraman pada atap dan taman saat kemarau.

Padahal, banyak tetangga sekitar yang mengeluh pasokan air mengecil karena hujan tak kunjung datang. Bahkan beberapa tetangga meminta air kepada mereka untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci. Lalu apa rahasia Martin dan Ruth sehingga pasokan air mereka relatif banyak saat kemarau? “Ide dasar menampung hujan kami ketahui dari teknik Zero Delta Q Technology,” kata Martin.

Menyimpan air hujan

menyimpan air hujan
Air dalam tangki dipompa ke atas atap untuk membasahi genting sehingga suhu dalam ruangan lebih rendah 1,5ºC dari sebelumnya. Air dari atap kembali ke tangki. Untuk menyiram tanaman, buka keran di taman tegak sehingga air mengalir dari tangki.

Teknik itu hasil riset dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta. Penyiraman pada atap dan taman berasal dari tabungan air hujan. Sistem penyimpanan air hujan ala Martin dan Ruth relatif sederhana (lihat gambar).

Menyimpan air hujan dalam tangki

Seratus liter air hujan pertama masuk ke dalam pipa berdiameter 4 inci sepanjang 2 m yang disusun tegak. Jika pipa itu penuh air masuk ke dalam 2 tangki masing-masing berkapasitas 1.000 l. Sebelum masuk tangki, air hujan melewati 2 pipa yang berisi filter setinggi 1 m. Bahan filter adalah spons, ijuk, batu karang, dan arang.

Menurut Martin dan Ruth saat hujan deras kedua tangki terisi dalam 15—20 menit. Ketika kedua tangki penuh air mengalir ke pipa pelimpasan yang menembus tanah sedalam 4 m.

Menyimpan air hujan dalam tanah

“Pipa itu menembus lapisan akuifer. Selama 2 jam air yang masuk mencapai 3,58 m3,” kata Martin yang juga arsitek bersertifikasi nasional tingkat pratama itu. Selang 2 jam air dalam lapisan akuifer jenuh dan akhirnya keluar melalui pipa berdiamater 4 inci dan masuk lubang biopori sedalam 1,2 m.

Menurut ahli hidrologi dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Hendrayanto, lapisan akuifer tiap daerah berbeda, tidak mesti pada kedalaman 4 m.

Baca juga:  Buncis terbukti klinis turunkan bobot tubuh

Doktor Hidrologi Hutan alumnus Kyoto University, Jepang, itu juga mengatakan penyerapan air kurang efektif jika pipa saja yang masuk ke tanah, tanpa ada sumur resapan. Simpanan air tanah di kediaman Martin dan Ruth tidak hanya meningkat karena memanen air hujan.

Biopori untuk mempercepat resapan air kedalam tanah

Mereka juga membuat biopori di sekitar rumah untuk mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah dan mengurangi sampah organik.

Hasil penilitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dengan Pusat Pengkajian, Penelitian Dan Pengembangan Agribisnis (P4) Fakultas Pertanian Universitas Darul ‘Ulum Jombang pada 2011 menunjukkan penerapan biopori meningkatkan simpanan air tanah.

Martin L Katoppo ST MTArs
Martin L Katoppo ST MTArs menyimpan air hujan sejak 2013

Kehadiran biopori juga mengurangi sampah organik di rumah yang kerangkanya terbuat dari besi hollow itu. Hasil penelitian Martin dan Ruth serta rekan menunjukkan 200 rumah besi—sebutan populer rumah Martin dan Ruth—mampu mengelola sendiri 73,76% sampah rumah tangga.

Rinciannya seperti termaktub dalam Journal of Architecture and Built Environment yakni mereka mengomposkan 39,89% sampah organik dalam biopori dan 33,87% sampah plastik diberikan ke bank sampah, serta sisanya 24,24% dibuang di tempat pembuangan sampah.

Martin dan Ruth memiliki sekitar 39 biopori di sekitar rumah. Dua puluh sembilan biopori khusus untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah.

Sementara 10 biopori lain khusus untuk membuang sampah organik seperti sisa sayuran, daun, bahkan kulit telur. Biopori ala Martin dan Ruth menggunakan pipa sepanjang 1,2 m dan berdiameter 10 cm yang ditanam ke dalam tanah.

Pada pipa terdapat lubang kecil yang berjarak 10 cm antar lubang. Di dalam pipa juga dimasukkan alat yang berfungsi menarik kompos jika sudah siap panen. Lubang biopori ditutup kawat kasa dan batu seukuran batu bata. Dengan memanen hujan dan biopori ketersediaan air di kediaman kedua pendiri komunitas Design as Generator (DAG) itu selalu terpenuhi.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d