Cabai komoditas yang mempengaruhi inflasi.

Cabai komoditas yang mempengaruhi inflasi.

Cabai tak tergantikan dan memicu inflasi sehingga perlu penanganan serius.

“Harga cabai naik sedikit saja jadi isu hangat,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr. Spudnik Sudjono K, M.M. Harga cabai yang berayun-ayun memang kerap membuat ketar-ketir kaum perempuan. Kebiasaan masyakat Indonesia yang tidak bisa lepas dari konsumsi cabai segar membuat sayuran buah anggota famili Solanaceae itu menjadi bumbu masak paling penting.

Apalagi cabai termasuk komoditas hortikultura yang tidak bersubtitusi. Kegunaannya tidak bisa digantikan dengan bumbu lain yang sama-sama bercita rasa pedas, misalnya lada. Dalam seminar nasional Strategi Kendalikan Pasokan dan Harga Cabai itu Spudnik menuturkan banyak informasi yang simpang siur berkaitan dengan harga cabai yang sempat melambung hingga ratusan ribu rupiah per kilogram itu.

Masa paceklik
Spudnik mencontohkan media memberitakan harga cabai hingga Rp200.000 per kg di Kalimantan Tengah. Yang sebenarnya terjadi di sana harga cabai hanya Rp75.000 per kg. Ekkspektasi harga yang diangkat terus-menerus ke media lambat-laun menjadi sebuah pembenaran. Publikasi yang masif membuat masyarakat panik. Padahal, harga cabai di tingkat pekebun tidak semahal itu.

Dr. Spudnik Sudjono K, M.M., direktur Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian.

Dr. Spudnik Sudjono K, M.M., direktur Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian.

Kenaikan harga juga bukan semata-mata karena pasokan kurang. Ada banyak faktor yang menyebabkan harga cabai naik turun. Menurut anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan, Khudori, harga cabai kerap bergejolak terjadi karena banyak faktor. Salah satunya yakni sentra produksi yang terbatas. Kantong-kantong pasokan cabai hanya berpusat di Jawa dan Sumatera.

“Nyaris 70% kebutuhan cabai nasional dipasok dari dua wilayah itu,” kata Khudori. Selain itu produksi bulanan tidak merata, sedangkan kebutuhan pasar cenderung naik. Bahkan waktu-waktu tertentu permintaan cabai sangat tinggi yakni pada Syakban, Ramadan, dan Syawal. Permintaan cabai yang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai membuat harga di pasar melonjak.

Baca juga:  Bangladesh Bergairah Organik

Khudori menuturkan fluktuasi harga juga terjadi karena adanya panen raya dan paceklik. Pada cabai merah panen raya terjadi mulai Februari—Mei. Kemudian pekebun menghadapi masa paceklik pada Oktober—Januari. Sementara cabai rawit panen raya pada Mei—Juli lalu paceklik pada Desember—Maret. Apabila digabungkan maka masa paceklik cabai merah dan rawit terjadi pada Oktober sampai Maret.

Cabai segar komoditas sayuran tak tergantikan.

Cabai segar komoditas sayuran tak tergantikan.

“Jika saat paceklik pasokan cabai sedikit maka harga akan naik,” kata Khudori. Sejatinya masa paceklik bukan menjadi masalah asal rantai tata niaga cabai tertata. Namun, realita di lapangan menunjukkan, rantai dagang cabai sangat panjang. “Ada 8 titik yang harus dilewati sebelum cabai sampai di tangan konsumen,” kata Khudori. Margin pengecer dan pengangkut mencapai 20%. Idealnya 10—15%.

Oleh karena itu, harga cabai yang diterima konsumen sangat tinggi. Sayangnya belum ada instrumen maupun peraturan yang bisa mengawal pasokan dan harga cabai di pasaran. Selama ini cabai diserahkan pada mekanisme pasar. Belum lagi adanya sejumlah pekebun yang latah. Mereka berama-ramai menanam ketika harga cabai tinggi dan tidak mau menanam saat harga rendah.

Manajemen budidaya
Menurut Khudori keberadaan daerah penyangga produksi cabai harus dihidupkan “Terutama untuk daerah yang memiliki kebutuhan cabai sangat besar,” katanya. Manajemen tanam sebaiknya pun dikerjakan serius sehingga mampu meredam gejolak harga. Sayangnya, belum ada manajemen dan disiplin tanam yang baik. Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (ACCI) Ciamis, Pipin Arif Apilin, sulit sekali menerapkan pola tanam.

Afrizal Gindow, direktur pemasaran PT East West Seed Indonesia.

Afrizal Gindow, direktur pemasaran PT East West Seed Indonesia.

Pekebun menanam cabai terus-menerus. Soal harga memang kerap menjadi masalah dan fluktuatif. Suatu ketika Rp100.000 per kg, lain waktu hanya Rp20.000 per kg di tingkat pekebun. Hari raya pun tidak menjamin harga mahal malahan turun. Menurut asisten direktur Departemen Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Bank Indonesia, Nurchair Farliany, inflasi justru datang dari harga komoditas pangan, termasuk cabai.

Baca juga:  Elok Luar Dalam

“Sebab itu Bank Indonesia berkonsentrasi pada komoditas pangan untuk pengembangan UMKM,” ujarnya. Bank Indonesia mengembangkan model bisnis hilirisasi sistem klaster dengan mengoptimalkan pengelolaan peran kelompok tani maupun gabungan kelompok tani dalam bentuk lembaga ekonomi petani. Program pemerintah berupa pengaturan pola tanam, termasuk gerakan tanam cabai di musim kemarau.

Itu merupakan upaya pemerintah yang sejalan dengan Bank Indonesia. Sejak 2015 sampai 2016 Bank Indonesia menerapkan gerakan tanam cabai di musim kemarau di empat wilayah klaster binaan yakni Kabupaten Sinjai (Sulawesi Selatan) Kabupaten Bangka (Bangka Belitung), Kabupaten Jember (Jawa Timur), dan Kabupaten Lombok Timur dan Bima (Nusa Tenggara Barat).

Peserta seminar antusias mendengarkan pemaparan para narasumber.

Peserta seminar antusias mendengarkan pemaparan para narasumber.

Budidaya cabai di berbagai daerah pun tidak sama. Ada yang mempertahankan cara konvensional dan ada pula yang sudah modern. Kualitas benih merupakan aspek penting dalam budidaya cabai. Benih tahan penyakit menjadi andalan pekebun untuk menjaga produksi. Menurut Direktur Pemasaran PT East West Seed Indonesia, Afrizal Gindow, penyakit cabai yang menjadi momok bagi pekebun yakni antraknosa.

Pekebun yang bisa mempertahankan panen 10% saja akibat serangan antraknosa itu sudah sangat bagus. Oleh karena itu, sebagai perusahaan benih PT East West Seed Indonesia berusaha untuk merakit varietas unggul yang tahan serangan antraknosa. Itu merupakan sebuah langkah terbaru agar pasokan cabai terjaga. Seminar nasional itu diselenggarakan Majalah Trubus bersama dengan Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi (Pataka), dan PT East West Seed Indonesia. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments