Menjebak Ulat Tentara 1
Tenaga kerja lebih banyak untuk memanen bawang akibat serangan ulat

Tenaga kerja lebih banyak untuk memanen bawang akibat serangan ulat

Penggunaan pestisida dan pengendalian hama terpadu tekan serangan ulat.

Sutarno memanen bawang merah lebih cepat, saat tanaman berumur 63 hari setelah tanam (hst). Lazimnya petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, itu memanen umbi Allium cepa saat berumur 70 hari. Artinya Sutarno memanen 7 hari lebih awal. Ia juga mengandalkan 13 tenaga kerja untuk memanen umbi lapis, sebelumnya 8 orang. Itu bukan karena produksi meningkat. Tanaman milik Sutarno terserang ulat grayak.

Daun tanaman anggota famili Liliaceae itu berlubang dan terdapat bercak putih. Tanaman normal berciri utuh, tidak berlubang, dan berwarna menguning tanda siap panen. Dampak serangan serbuan ulat grayak Spodoptera litura waktu panen lebih awal, tenaga kerja lebih banyak, dan tanaman yang kurang sehat. Sutarno memanen sayuran umbi itu lebih awal karena khawatir serangan ulat makin menyebar. 

Ulat grayak hama utama budidaya bawang merah di musim kemarau

Ulat grayak hama utama budidaya bawang merah di musim kemarau

Merugikan

Tanaman yang tak lagi berdaun menyulitkan Sutarno memanen bawang merah. Sejatinya memanen bawang mudah. Petani menggenggam daun lalu menariknya ke atas hingga umbi tercabut. Namun, tenaga sewa di kebun Sutarno tidak melakukan cara itu. Mereka menggunakan alat untuk mencungkil umbi bawang sambil memegang daun yang tersisa. Oleh karena itu Sutarno memerlukan tenaga kerja lebih banyak daripada sebelumnya agar panen tepat waktu.

Ayah 2 anak itu beruntung masih bisa panen karena serangan ulat terjadi pada tanaman berumur 60 hst. Sutarno mengatakan jika tanaman berumur 25—30 hst terserang, petani bisa gagal panen. “Meskipun serangan ulat grayak segera diatasi, petani hanya memanen 60% bawang,” kata pria kelahiran Nganjuk itu. Hasil panen Sutarno pada Agustus 2014 itu juga merosot akibat ulah ulat anggota famili Noctuidae itu. Ia hanya memperoleh 3 ton bawang merah, lazimnya lebih dari 4 ton dari lahan 1.750 m2.

Baca juga:  Mawar Gurun Anyar

Dengan harga jual Rp8.000/kg, omzetnya Rp24-juta. Setelah dikurangi biaya operasional Rp15-juta, Sunarto mendapat laba bersih Rp9-juta. “Saya bisa mendapat untung lebih besar lagi jika serangan ulat bisa diatasi,” katanya.

Serangan ulat tentara juga ditemukan di luar Nganjuk. Nun di Brebes, Jawa Tengah, ulat berwarna hijau itu merusak bawang merah milik Kusriyanto. Pria berumur 69 tahun itu mengatakan lahan 0,5 ha miliknya terserang ulat sejak tanaman berumur 10 hari. Kusriyanto menduga hasil panen pada akhir Agustus menurun hingga 54% menjadi 5 ton, sebelumnya 11 ton. Lahan tetangga di sekitar kebun Kusriyanto seluas 35 ha juga terserang, bahkan kondisinya lebih parah.

Sejak umur 2 pekan

Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Ir Baswarsiati MS, mengatakan ulat grayak hama utama pada budidaya bawang merah. Ulat bawang menyerang pada setiap umur tanaman. Siklus hidup hama ini yaitu telur, larva, pupa dan imago yang berupa ngengat. Serangga dewasa meletakkan telur pada daun bawang merah dan gulma yang tumbuh di sekitarnya. Pada awal pertumbuhan bawang merah, kelompok telur dan larva stadia awal (instar 1 atau 2) lazim dijumpai.

Hasil panen menurun akibat serangan ulat grayak bawang

Hasil panen menurun akibat serangan ulat grayak bawang

Populasi itu terus meningkat mulai tanaman berumur 2 pekan hingga waktu panen. Daur hidup ulat sangat tergantung pada suhu lingkungan. Suhu yang makin tinggi memperpendek lamanya stadia telur, larva, pupa, dan ngengat. Ulat menyerang tanaman dengan cara memakan daun bagian dalam. Akibatnya daun bawang merah hanya tersisa bagian epidermis sehingga terlihat bercak putih transparan. Jika tidak segera ditangani petani bisa gagal panen seperti pengalaman tetangga Sutarno dan Kusriyanto.

Baswarsiati menuturkan petani biasanya menggunakan insektisida untuk membasmi ulat bawang. Itu juga yang dilakukan Sutarno dan Kusriyanto. Yang disebut pertama mengandalkan insektisida berbahan aktif siantraniprol. Sutarno mencampur 200 cc insektisida dengan 56 liter air. Frekuensi penyemprotan 2 hari sekali. Ia hanya menggunakan 2 kali insektisida itu karena bawang memasuki waktu panen.

Baca juga:  Martha Tilaar dan Kesuburan Perempuan

Sementara Kusriyanto menyemprot insektisida berbahan aktif emamektin benzoat dan lufenuron hingga 15 kali dengan frekuensi penyemprotan setiap 2 hari. Sekali menyemprot ia merogoh kocek Rp200.000. Maklum, ia tidak hanya menggunakan insektisida, tapi juga fungisida dan perekat. Sebanyak 250 cc insektisida, 2 sendok makan fungisida berupa tepung, dan 5 cc perekat ia larutkan dalam 142 liter air. Larutan itulah yang ia gunakan untuk mengendalikan hama ulat.

Biaya pembuatan perangkap lampu lebih mahal daripada perangkap bikinan Kusriyanto

Biaya pembuatan perangkap lampu lebih mahal daripada perangkap bikinan Kusriyanto

Perangkap

Baswarsiati menyarankan petani menerapkan pengendalian hama secara terpadu. Misal menggunakan jebakan dengan lampu untuk mengendalikan ulat bawang. Namun, menurut Kusriyanto penggunaan perangkap lampu relatif mahal Rp1-juta—Rp2-juta. Untuk menghemat biaya, Kusriyanto menggunakan botol air mineral bekas bervolume 600 ml. Ia lalu memasukkan gulungan kertas putih ke dalam botol.

Setelah itu Kusriyanto melumuri bagian luar botol dengan lem tikus. Pemberian lem tikus 2/3 dari seluruh bagian luar botol. Kemudian ia memasukkan mulut botol ke kayu yang tertancap di lahan. Posisi botol 60 cm dari permukaan tanah. Kusriyanto menggunakan perangkap itu sejak Juli 2014. “Saya yang pertama menggunakan alat itu,” kata pria kelahiran Brebes itu. Kusriyanto memodifikasi alat serupa yang sudah ada dari seorang teman. Namun, teman Kusriyanto itu menggunakan pipa 2,5 inci.

Pengalaman Kusriyanto, dalam semalam alat itu memerangkap 3 ngengat. Jika dalam 1 ha terdapat 200 botol, maka dalam semalam alat itu menangkap 600 ngengat. “Tertangkapnya ngengat mengurangi telur ulat sehingga serangan berkurang,” kata Kusriyanto. Ayah 4 anak itu mengklaim alat temuannya itu mengurangi 25% populasi ulat. Keunggulan alat ciptaan Kusriyanto dari segi biaya. Untuk lahan 1 ha petani memerlukan Rp250.000 yang terdiri atas 200 botol. Dengan teknologi sederhana itu Kusriyanto menghemat Rp750.000—Rp1,75-juta. (Riefza Vebriansyah)

538_ 35

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments