kotoran kelinci untuk meningkatkan produksi kubis

Produksi kubis naik 50% setelah menggunakan pupuk kelinci. Itulah hasil riset Sajimin dan rekan dari Balai Penelitian Ternak, Bogor, Jawa Barat. Pada riset itu Sajimin membuktikan penggunaan pupuk yang berasal dari kotoran kelinci mampu meningkatkan produksi kubis menjadi 2,20 kg per m2 semula 1,50 kg per m2. Itu karena kotoran kelinci Oryctolagus cuniculus memiliki unsur hara lengkap.

Penyebab kotoran kelinci dapat meningkatkan produksi kubis

Kandungan kotoran kelinci

Bahkan unsur haranya lebih tinggi dibandingkan kotoran hewan lain seperti domba, sapi, kerbau, dan kuda. Kandungan nitrogen (N) dan fosfor (P) kotoran kelinci sebesar 2,62% dan 2,46%. Bandingkan dengan kotoran sapi yang kandungan N dan P hanya 2,0% dan 1,5%.

produksi kubis naik
Produksi kubis meningkat 50% setelah menggunakan pupuk kotoran kelinci

Kandungan N tinggi diperlukan untuk pembentukan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang, dan akar. Unsur N juga berguna untuk pembentukan klorofil yang berperan dalam fotosintesis. Selain N, P, dan K (kalium), berdasarkan data Crossroads Rabbitry, peternakan kelinci di Selandia Baru, kotoran kelinci juga mengandung protein tinggi, 28,5%.

Sistem pencernanan kelinci

Tingginya kandungan N, P, dan K pada kotoran kelinci sangat berkaitan erat dengan sistem pencernaan hewan mamalia itu. Kelinci memiliki sistem lambung tunggal atau monogastrik seperti ruminansia.

Namun, pemisahan pakan justru terjadi pada sekum-usus besar, sedangkan pada hewan ruminansia proses itu terjadi di lambung. Itulah sebabnya kelinci sering kali disebut ruminansia semu.

Proses pembusukan makanan yang terjadi pada sekum itulah yang membuat kotoran kelinci lebih kasar. Sekum dikenal kaya akan bakteri. Feses kelinci yang keluar akan turut membawa bakteri itu, sehingga feses mengandung bahan organik yang dapat melepaskan gas metana.

Baca juga:  8 Langkah Mudah Budidaya Ciplukan

Kelinci juga merupakan hewan yang dapat tahan hidup dengan sedikit air. Karena proses digestibilitas-daya cerna-menjadi terbatas akibat kurangnya air maka unsur hara yang dikeluarkan melalui feses menjadi tinggi.

Kotoran kelinci
Kotoran kelinci memiliki N dan P lebih tinggi dibandingkan domba, sapi, dan kuda

Feses kelinci terbagi menjadi dua: feses kering dan feses lunak. Yang disebut terakhir merupakan hasil pembusukan nonserat, berbentuk bulat seperti anggur yang disebut cecotrop. Pada malam hari, feses lunak itu dimakan lagi oleh kelinci dan disebut coprophagi.

Salah satu keunikan pencernaan kelinci lainnya yaitu tidak dapat mengunyah kembali pakan dari rumen ataupun memuntahkannya. Itulah sebabnya kelinci tidak mengeluarkan zat metana dari mulut.

Kelebihan lain, kotoran kelinci merupakan kotoran dingin (cold manure). Artinya kotoran itu dapat langsung diberikan ke tanaman sebagai pupuk. Bandingkan dengan kotoran sapi, kerbau, kuda, kambing, dan ayam yang kotorannya panas (hot manure).

Kotoran panas harus melalui proses pengeringan terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk. Jika langsung diaplikasikan dapat merusak tanaman. Bahkan tanaman bisa mati.

Memanfaatkan urine kelinci sebagai pupuk

Sayang, selama ini kotoran kelinci belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal populasi kelinci di tanah air cukup besar. Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan populasi kelinci di Indonesia pada 2012 mencapai 833.666 ekor.

Menurut Dr Yono C dari Balai Penelitian Ternak, kelinci hanya mencerna 70-80% dari pakan yang ditelan dan sisanya akan dibuang sebagai feses. Jika kelinci dewasa diberikan 100 gram pakan per hari maka feses yang dikeluarkan sebanyak 20-30 gram per hari. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg pupuk organik per hari diperlukan 33-50 kelinci.

Kotoran yang diperoleh pun akan lebih besar jika berasal dari kelinci pedaging seperti flemish giant, new zealand, satin, dan rex. Lantaran berbobot tubuh besar, hingga 5 kg, kelinci pedaging pun menghasilkan kotoran lebih banyak daripada kelinci hias seperti lop, jersey, dan wooly.

Baca juga:  Duo Padi Gogo Baru

Selain feses, urine kelinci juga dapat digunakan sebagai pupuk. Umumnya, seekor kelinci berurine 100-150 cc setiap hari. Urine kelinci dengan kandungan N, P, dan K tertinggi bisa didapatkan pada kelinci berumur 6-8 bulan.

Berbeda dengan kotorannya, urine kelinci perlu melalui proses fermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk. Fermentasi menjadi penting untuk mereduksi atau mengurangi kadar amonia sehingga dapat terurai menjadi nitrat yang berguna bagi tanaman.

Sebelum digunakan urine terfermentasi dicampur air dengan perbandingan 1:20. Atau 0,5 liter urine dicampur dengan 10 liter air. Aplikasinya dengan cara disemprotkan pada daun bagian bawah di mana stomata berada.

Bahan pelengkap pupuk kotoran kelinci : Probiotik

Untuk mendapatkan hasil maksimal, pekebun juga dapat mengombinasikan pemberian pupuk kotoran kelinci dengan probiotik atau disebut pupuk probiotik organik. Probiotik adalah sejumlah mikroorganisme hidup yang dapat membantu pertumbuhan tanaman.

Berdasarkan hasil riset peneliti di Balai Penelitian Ternak pada 2005, tanaman yang diberikan pupuk kotoran kelinci dan probiotik memiliki produksi lebih tinggi.

Kubis, misalnya, produksinya meningkat 85,3% dari semula 1,50 kg per m2 menjadi 2,78 kg per m2 akibat diberikan pupuk kotoran kelinci plus probiotik. Itu karena kombinasi pupuk kotoran kelinci dengan probiotik mengandung P dan K lebih tinggi dibandingkan jika dicampur dengan biovet ataupun trichoderma. Probiotik dicampurkan saat dekomposisi atau pembusukan pupuk.

Tak hanya kubis, beberapa komoditas lain pun mengalami peningkatan setelah menggunakan pupuk kotoran kelinci. Sebut saja buncis yang produksinya naik 11,8%, kacang merah (22,7%), dan kentang (16,3%).

Perbandingan unsur hara kotoran ternak: domba, sapi, ayam, kuda dan kelinci

perbandingan unsur hara kotoran ternak, kandungan kotoran sapi,kandungan kotoran domba, kandungan kotoran ayam, kandungan kotoran kelinci, kandungan kotoran kuda

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d