Mulsa Meningkatkan Produksi Bawang Putih

Mulsa Meningkatkan Produksi Bawang Putih 1

Penggunaan mulsa dalam penanaman bawang putih efektif meningkatkan produktivitas.

Sejak bawang putih impor asal Tiongkok memasuki tanahair pada pertengahan dekade 1980-an, perlahan tapi pasti produksi bawang putih lokal tiarap hingga nyaris lenyap. Untungnya, tidak semua petani berhenti menanam umbi Allium sativum itu. Salah satunya petani di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Komang Sukarsana.

Ia memanfaatkan lahan 1.000 m² dari 2 ha miliknya untuk menanam bawang putih. Sebagai generasi ketiga petani bawang putih, ia konsisten menanam bawang putih meski dalam jumlah sedikit di antara tanaman bawang merah.

Bawang putih lokal Kintamani mememiliki ukuran lebih kecil tapi unggul dalam citarasa.

Bawang putih lokal Kintamani mememiliki ukuran lebih kecil tapi unggul dalam citarasa.

Ia bertahan menanam bawang putih untuk melestarikan bibit lokal. Maklum, meski produktivitas dan ukuran umbinya kalah dengan jenis impor, bawang putih lokal mempunyai penggemar setia.

“Konsumen menyatakan rasa bawang putih lokal lebih gurih dan menyengat ketimbang impor,” kata Komang. Padahal bagi petani, secara ekonomis bawang putih kurang menguntungkan daripada bawang merah. Masa tanam bawang putih mencapai 95 hari, sedangkan bawang merah hanya 60 hari.

Tanam berantai
Dengan ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut, lahan milik Komang itu cocok untuk menanam bawang putih. Sayang, ketiadaan bibit genjah memaksa Komang memanfaatkan umbi hasil panen sebelumnya sebagai bibit. Meski hanya menanam seluas 0,1 ha, Komang tidak asal-asalan.

Pria 33 tahun itu membudidayakan secara intensif dengan pemupukan dan perawatan yang baik. Sebelum menanam, Komang membenamkan 2 ton pupuk kandang terfermentasi.

Komang Sukarsana sudah tiga generasi membudidayakan bawang putih.

Komang Sukarsana sudah tiga generasi membudidayakan bawang putih.

Sepekan setelah dibenamkan, pupuk dibalik dan didiamkan kembali selama sepekan. Setelah sepekan, ia menggemburkan kembali lahan, membuat bedengan, lalu menutup dengan mulsa plastik. Komang membenamkan pupuk sebanyak itu lantaran menerapkan metode tumpang sari berantai.

Baca juga:  Laba dari Yoghurt Talas

Menjelang panen salah satu komoditas, ia menanam komoditas lain untuk budidaya selanjutnya. Sekali pemupukan dasar digunakan untuk 3 kali budidaya tanpa menambah pupuk dasar dan tanpa membuka mulsa.

Komang mengadopsi teknik budidaya bawang merah pada budidaya bawang putih. Ia menanam 2—3 siung dalam
1 lubang tanam dengan jarak antarlubang 15 cm. Di lahan 0,1 ha itu Komang menanam 280 lubang tanam atau sekitar 840 umbi.

Dua pekan pertama, ketika bibit mulai bertunas, ia mengocorkan pupuk cair berbahan urine sapi terfermentasi. Seliter urine sapi diencerkan dalam 10 liter air, yang seluruhnya ia kocorkan ke lahan seluas 0,1 ha itu.

Pemupukan berikutnya menggunakan NPK, KCL dan ZA ia berikan sebanyak 50 kg. Pemupukan dilakukan setiap 12—15 hari sekali atau menyesuaikan kondisi pertumbuhan kurang bagus atau daun tanaman menguning. Penyiangan pun cukup 2 kali karena mulsa efektif menghambat pertumbuhan gulma.

Bawang putih relatif aman serangan hama sehingga minim penyemprotan pestisida. Walaupun berada di dataran tinggi, lahan milik Komang tidak kesulitan air.

Budidaya bawang putih menggunakan mulsa plastik di Desa Songan, Kintamani, Bali.

Budidaya bawang putih menggunakan mulsa plastik di Desa Songan, Kintamani, Bali.

Alumnus Universitas Pendidikan Ganesa, Bali, itu memompa air dari Danau Batur untuk mengairi lahan pertaniannya. Ketika panen di umur 90—95 hari, ia memperoleh 1,15 ton dari 0,1 ha lahan, setara  11,5 ton per hektare. Jumlah itu melampaui produktivitas nasional, yang menurut data Kementerian Pertanian pada 2016 hanya 8,79 ton per ha.

Hasil panen kemudian ia pilah berdasarkan ukuran dan kualitas umbi. Komang menyisihkan sebanyak 30—40 kg sebagai bibit untuk masa tanam berikutnya.

Mulsa
Dalam setahun, Komang Sukarsana menanam bawang putih 3 kali, yaitu pada Februari, Juli, dan November. Harga membuat peminat bawang putih terbatas hanya dari rumah tangga yang memang menyukai bawang lokal. Industri makanan rata-rata memilih bawang putih impor lantaran lebih murah dan lebih besar sehingga memudahkan pengupasan.

Baca juga:  Ubi Cilembu Kini di Pot

Toh, Komang tidak merisaukan pasar. Berapa pun jumlah yang ia panen senantiasa terserap dengan harga pasaran. Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayur (Balitsa) Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Ir Diny Djuariah menjelaskan, penggunaan mulsa dapat menambah periode panen menjadi 2 kali setahun.

Ir Diny Djuariah, peneliti dari Balitsa.

Ir Diny Djuariah, peneliti dari Balitsa.

Jenis mulsa yang digunakan pun menyesuaikan dengan cuaca saat budidaya. Saat musim hujan, Dini menyarankan penggunaan mulsa plastik untuk menahan kelebihan air.

Hal itu dilakukan petani bawang putih di Temanggung, Jawa Tengah. Sebaliknya ketika kemarau, gunakan mulsa jerami untuk mempertahankan kelembapan tanah. Petani di Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Bejo Supriyanto, membuktikan efektivitas mulsa jerami.

Ia menanam bawang putih di sawah sebagai tanaman sela ketika pasokan air minim. Itu sebabnya Bejo hanya menanam bawang putih sekali setahun. Toh ia puas lantaran produktivitasnya tinggi, mencapai 18 ton per ha. Ia menanam varietas Tawangmangu yang adaptif pada musim kemarau.

Ia memerlukan 600 kg bibit untuk sehektare lahan. Beberapa varietas yang direkomendasikan Balitsa adalah tawangmangu, lumbu hijau, lumbu kuning dan lumbu putih karena merupakan bibit unggul dengan produksi tinggi.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x