Mengubah Wajah Muram Peternak 1

Saat pensiun Sudarmoko beternak sapi sebagai jalan untuk mengabdi pada negeri.

Sudarmoko, berternak sapi perah dan mengembankan pertanian terintegrasi.

Sudarmoko, berternak sapi perah dan mengembankan pertanian terintegrasi.

Sudarmoko mengenakan sepatu bot dan topi kemudian berkeliling peternakan sapi perah miliknya, Lembah Kamuning setiap pagi. Pria yang tinggal di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu akrab dengan debu dan aroma kotoran sapi. Padahal, sembilan tahun sebelumnya Sudarmoko menjabat sebagai direktur perusahaan swasta asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang lisensi dan farmasi.

Berternak sapi perah sejak 2007.

Berternak sapi perah sejak 2007.

Ketika itu hampir setiap hari pria yang besar di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, itu mengenakan jas dan dasi saat bekerja. Ia pun hanya duduk di balik meja dengan ruang kerja yang mewah. Pada 2007 Sudarmoko yang ketika itu berusia 55 tahun pensiun dari jabatan direktur. Teman mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Sekolah Menengah Atas (SMA) itu memutuskan berternak sapi setelah pensiun.

Ke Selandia Baru
Sudarmoko membudidayakan sapi setelah menyaksikan seorang peternak berwajah muram usai menjual sapi. Peternak itu terpaksa menjual sapi dengan harga murah lantaran terdesak kebutuhan. Sejak kejadian itu Sudarmoko berjanji suatu saat akan memperbaiki kondisi peternakan di tanah air. Sebelum berternak, Sudarmoko belajar ke sebuah peternakan sapi perah di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Terung putih ditanam di polibag di Lembah Kamuning.

Terung putih ditanam di polibag di Lembah Kamuning.

Ia juga berguru pada seorang rekan asal Kabupaten Kuningan yang juga kompeten di bidang peternakan. Tak lama kemudian Sudarmoko dan rekannya membuat peternakan sapi perah bernama Lembah Kamuning di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Lokasi ternak di kaki gunung Ceremai yang berketinggian 800 meter di atas permukaan laut (m dpl). Lokasi itu cocok untuk budidaya sapi perah.

Saat pertama beternak Sudarmoko membeli 30 sapi perah. Ia menambah jumlah sapi perah menjadi 50 ekor, lalu bertambah lagi menjadi 120—150 ekor pada tahun yang sama. “Sumber air dan pakan sudah tersedia. Sumber air berasal dari mata air di sekitar Gunung Ceremai,” katanya. Mata air berada 200 meter di atas area peternakan sehingga kebutuhan air untuk peternakan sapi perah tercukupi.

Masih pada tahun yang sama, salah satu koperasi susu nasional di Selandia Baru menghubungi ayah 2 anak itu dan mengajaknya bergabung menjadi salah satu direktur di sana. Mereka tertarik merekrut Sudarmoko karena pengalamannya memimpin perusahaan lisensi dan farmasi. Meski baru merintis usaha berternak sapi, Sudarmoko akhirnya menerima pinangan koperasi itu.

Lembah Kamuning, berada di ketinggian 800 m dpl di lereng Gunung Ceremai,  Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Lembah Kamuning, berada di ketinggian 800 m dpl di lereng Gunung Ceremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

“Saya bersedia karena sambil belajar berternak sapi perah yang baik dan benar,” tutur Sudarmoko. Negeri seluas 269.057 km² itu sohor sebagai salah satu produsen susu terbaik. Selama 5 tahun pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, itu menjadi direktur koperasi di Selandia Baru. Di negeri itu ia juga belajar peternakan sapi di Fonterra. Sementara itu peternakan sapi di Kuningan dikelola oleh putra sulung dan rekannya. Ia tetap memantau peternakannya meski berada di mancanegara.

Baca juga:  Hasil Tinggi Karena Kelinci

Dirikan koperasi
Pada 2013 Sudarmoko pensiun dari koperasi di Selandia Baru. “Saya memutuskan untuk lebih fokus dan menangani peternakan sendiri,” kata pria 63 tahun itu. Kembali ke tanahair Sudarmoko bertekad untuk memperbaiki tata niaga susu yang dinilai memberatkan peternak. “Tata niaga susu sapi di tanah air waktu itu sangat kacau, ada margin sekitar Rp1.500 per liter. Dari harga Rp3.500, peternak hanya mendapat Rp2.000,” kata anak ke-3 dari 5 bersaudara itu.

Terdapat bioflok untuk lele di Lembah Kamuning sebagai sarana untuk penelitian.

Terdapat bioflok untuk lele di Lembah Kamuning sebagai sarana untuk penelitian.

Oleh karena itulah Sudarmoko membentuk koperasi susu untuk menjaga harga tetap stabil. Namun, membuat koperasi ternyata penuh perjuangan. Sarjana Ekonomi alumnus Universitas Airlangga itu mengalami kesulitan mulai dari perizinan hingga pihak-pihak tertentu yang merasa dirugikan dengan berdirinya koperasi itu. Meski mengalami berbagai kendala, Koperasi Gapura Sehat itu akhirnya berdiri pada Oktober 2014.

Sejak berdirinya koperasi itu harga susu segar di tingkat peternak relatif stabil, yakni Rp5.000 per liter. Harga itu lebih tinggi dibandingkan dengan pada 2013 yang hanya Rp3.500 per liter. “Koperasi ini saya buat untuk para peternak dan milik para peternak,” kata ayah 2 anak itu. Kini Sudarmoko membina setidaknya 200 peternak yang mengelola 1.200 sapi perah. “Kebanyakan sapi perah. Jumlah sapi pedaging hanya sekitar 5%,” katanya.

Sapi pedaging yang dikembangkan adalah hasil perkawinan silang sapi perah dan pedaging unggul. “Induk sapi pedaging yang digunakan sebaiknya jenis limousin atau simental agar kualitasnya baik,” kata peternak yang hobi bermain tenis itu. Menurut Sudarmoko harga jual anakan hasil persilangan sapi perah jenis friesian holstein dengan pedaging simental atau limousin juga relatif mahal, yakni Rp6-juta untuk anakan jantan.

Sudarmoko dan istri, di Lembah Kamuning.

Sudarmoko dan istri, di Lembah Kamuning.

“Anakan jantan hasil persilangan itu mahal. Uang hasil penjualan anakan bisa untuk membeli indukan sapi perah baru,” kata Sudarmoko. Selain berternak sapi sendiri, Sudarmoko juga menitipkan sapi miliknya untuk dipelihara oleh para peternak binaan. “Nantinya menjadi milik peternak dengan cara dicicil,” katanya. Sudarmoko juga rutin memberikan pelatihan kepada pelajar atau masyarakat.

Baca juga:  Inovasi Bioteknologi Unggulan

Hampir setiap pekan ia memberikan pelatihan kepada siswa taman kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Para pelajar itu mengunjungi peternakan sapi yang kini terdiri atas 1.100 ekor. “Untuk anak-anak TK tersedia pula taman seluas 120 m² sehingga anak-anak bisa belajar sambil berinteraksi dengan alam,” kata Sudarmoko yang memanen rata-rata 24 liter susu per ekor per hari. Kini ia mengelola 700 sapi produktif.

Pupuk organik

Sudarmoko juga mengembangkan komoditi jahe merah, dengan rata-rata hasil panen 5 kg per polibag.

Sudarmoko juga mengembangkan komoditi jahe merah, dengan rata-rata hasil panen 5 kg per polibag.

Pembinaan atau pelatihan tidak hanya diikuti pelajar atau mahasiswa. “Terkadang instansi pemerintahan juga ada yang ingin belajar dan berkunjung ke Lembah Kamuning,” kata Sudarmoko. Itulah sebabnya ia menyematkan istilah eduekotourisme pada program pembinaan dan pelatihan itu. “Sambil berwisata, pengunjung juga mendapatkan pendidikan mengenai cara beternak sapi,” kata Sudarmoko.

Sudarmoko juga memanfaatkan kotoran dan urine sapi menjadi biogas dan pupuk cair. Setiap bulan Lembah Kamuning rata-rata menghasilkan 100 ton kotoran sapi. “Jika kotoran dan urine sapi diolah menjadi pupuk, maka akan menghasilkan pupuk berkualitas lebih baik,” katanya. Ia juga menambahkan berbagai jenis rempah ke dalam pupuk organik cair hasil racikannya.

Sabun dari susu sapi khas Lembah Kamuning.

Sabun dari susu sapi khas Lembah Kamuning.

“Pupuk organik cair sudah diuji pada berbagai jenis komoditas,” kata Sudarmoko. Hasilnya memuaskan. “Hasil panen dan kualitas jahe merah, padi, pepaya, cabai, melon, dan kakao, meningkat dari segi kuantitas dan kualitas,” tuturnya. Sudarmoko juga memanfaatkan pupuk kotoran sapi sebagai media berkembang baik cacing tanah Lumbricus rubellus. “Dari rumah budidaya cacing berkapasitas 5 ton, bisa dipanen 1/2 ton cacing tanah tiap bulan,” katanya.

Ia lalu mengolah cacing tanah itu menjadi pakan ikan dengan menambahkan kolostrum sapi. Pakan ikan hasil racikannya juga sukses meningkatkan hasil panen lele dan udang vanamei. “Dengan hasil panen yang tinggi saya harap pendapatan petani dan peternak meningkat. Kesejahteraan petani adalah langkah awal tercapainya swasembada pangan,” katanya. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *