ikan tenggiri

“Anak perempuan Indonesia mesti paham ikan laut,” pesan nenek saya, Mbah Nasipah. Keluarganya keturunan pendalungan, orang Madura yang lahir di Pulau Jawa. Berjiwa merantau dan kenal bermacam ikan. Lebih dari pintar  dari sekadar mengolah teri, cue, selar, kerapu, cucut, dan kembung.

Semestinya setiap lulusan Sekolah Menengah Pertama kenal minimal 30 macam ikan! Mulai dari bawal, kakap merah, mata goyang, ekor kuning, baronang, cakalang, sampai kakap putih alias baramundi.

Jangan hanya menikmati lele, mujahir, dan gurami, tapi nikmatilah ikan kakap dan ikan tenggiri.Susi Pudjiastuti

Selama bertahun-tahun masyarakat pasrah pada sedikit produk ikan air tawar. Sementara itu ikan laut semakin tidak dikenal. Hanya tiga jenis yang populer: ikan japuh alias sardin, ikan tongkol atau tuna, dan ikan tenggiri yang lazim disebut mackerel.

Ternyata ikan tenggiri/ Scomberomorus sp bisa mendongkrak nilai rupiah. Maklum, pasar ikan menyumbang 7% produk domestik bruto (PDB) negara kita.  Padahal, banyak negara yang makmur dan sejahtera berkat ikan tenggiri. Contohnya Eslandia, Norwegia, dan Kanada.

Jenis Ikan Tenggiri

Terdapat lebih dari 21 jenis keluarga ikan tenggiri. Ada ikan king mackerel alias tenggiri raja. Ada yang mirip tapi beda yaitu ikan barracuda. Ada pula beda tapi sama yakni wahoo Acanthocybium solandri atau ikan tenggiri laki.  Tenggiri itulah yang disukai nenek saya.

“Tiga kriteria tenggiri berkualitas adalah: segar, insangnya tidak rusak, dan matanya jernih,” kataya. Jangan lupa, di Indonesia ada 91 resep mengolah tenggiri.

Aneka Olahan Ikan Tenggiri

Kita beruntung menikmatinya dalam bentuk otak-otak, empek-empek, siomay, bakso ikan, kerupuk tenggiri, filet tenggiri, steak tenggiri, rolade tenggiri, dan abon tenggiri. Yang mendasar tentu tenggiri bakar, tenggiri rasa kari, tenggiri asam-pedas, tenggiri gulai santan, dan tenggiri goreng tepung. Namun, yang paling top adalah pindang ikan tenggiri, dengan potongan nanas, batang sereh, dan kemangi.

ikan tenggiri bakar;ikan tenggiri panggang
ikan tenggiri bakar

Boleh saja, tenggiri diganti dengan ikan patin. Nanasnya diganti belimbing wuluh. Saya khawatir resep itu tidak bisa mengalahkan lezatnya ikan tenggiri. Mengapa? Ada legendanya! Tenggiri, termasuk ikan pelagis–perenang permukaan dan bermigrasi yang paling cantik.

Tubuhnya langsing, panjang semampai, gerakannya lincah. Tenggiri juga suka menyendiri.  Menurut sahibul hikayat, ikan tenggiri adalah penjelmaan istri Malin Kundang.

Baca juga:  Cara Budidaya Kutu Air (Daphnia sp.)

Seorang perantau durhaka dikutuk menjadi batu karena tidak mengakui ibunya. Kapalnya terempas ke pantai. Sampai sekarang ada batu berbentuk kapal dan patung si Malin Kundang. Ke mana istrinya? Perempuan itu tercebur ke dasar lautan.

Serpihan tubuhnya berubah menjadi ikan tenggiri. Sampai sekarang ia masih terus berenang, mencari suaminya. Dalam perjalanan ia bertemu pria dan punya anak.

Mula-mula ia membesarkan anaknya. Namun setelah lahir anak-anak lainnya, ia berkata pada anaknya tertua, “Kakak, jagalah adik-adikmu.  Ibu harus pergi mencari ayah kalian.” Menurut siklus kehidupan, ibu tenggiri meninggalkan anak-anaknya di tempat yang tenang.

Namun, ia akan menyambut arus deras, hingga tubuhnya hancur berkeping-keping. Dagingnya menjadi konsumsi generasi yang mendatang.  Tenggiri adalah pemakan daging. Hidup dari ikan-ikan kecil dan cumi-cumi.

Bisa dipastikan, betapa dalam kasih ibu tenggiri.  Barang siapa menyantapnya mendapat kenikmatan tak terhingga. Sayangnya, bangsa Indonesia belum menikmati tenggiri sebanyak Jepang. Setiap tahun Jepang mengimpor 100.000 ton mackerel senilai 180-juta Euro dari Norwegia saja. Berapakah total ekspor produk ikan laut Indonesia? Konon hanya 2.000 ton. Kalah dibandingkan ekspor Thailand dan Vietnam.

Padahal pantai kita lebih panjang, dan perairan kita jauh lebih luas. Konsumsi ikan laut per kapita pun sangat rendah, sekitar 30 kg per kapita per tahun. Padahal, rata-rata warga negara tetangga di atas 70 kg per kapita per tahun.

Pantaslah kita perlu kampanye bersinambungan, supaya anak-anak suka makan ikan. Bung Karno mulai  mengajar kita cinta ikan tenggiri. Ketika ditahan di Pulau Bangka, dia memberi nama sebuah pantai Parai Tenggiri–surga tempat menikmati tenggiri bakar, di dekat Sungailiat.

Khasiat Ikan Tenggiri

Jadi, apa khasiat ikan tenggiri. Bagi ibu-ibu yang sedang mengandung, kabarnya daging tenggiri memperkuat janin. Tenggiri juga meningkatkan kecerdasan anak, berkat kandungan omega 3.  Bagi bapak-bapak, steak tenggiri dipercaya menstabilkan kolesterol, mencegah penyakit jantung dan kepikunan.

Terpenting: lezatnya tenggiri mengatasi depresi. Pertanyaan pertama, bagaimana menambah pasokan tenggiri?  Kedua, setelah banyak ikan tersedia, harganya harus terjangkau masyarakat seluas-luasnya.

Keramba & rumpon

Keramba ikan di air tawar pun ditertibkan. Mungkin karena perikanan di laut sempat kurang diminati, sebagian nelayan berpaling ke danau, waduk, dan bendungan.  Waduk Jatiluhur idealnya hanya cukup untuk 4.000 keramba.  Nyatanya dipadati oleh 23.000 keramba.

Baca juga:  5 Cara Budidaya Udang Sistem Bioflok Agar Hasil Panen Meningkat

Mulai Februari 2015 sebanyak 19.000 keramba harus dibongkar, supaya kondisi air sehat. Akibat terlalu banyak keramba, limbah makanan ikan menumpuk di dasar danau dan menjadi racun. Kalau  terjadi arus balik, berton-ton ikan mati mengambang.

Sebaliknya, rumpon dan keramba di laut perlu selalu diupayakan. Para nelayan tradisional di Madura dan Sulawesi Selatan mulai membangun rumpon di lintasan migrasi tenggiri.  Rumpon adalah sarana sederhana untuk mengumpulkan ikan-ikan pelagis.

Dengan mengumpulkan ikan di seputar rumpon, nelayan tidak perlu berkejar-kejaran di laut lepas. Sayangnya, tidak semua nelayan kecil mau dan mampu membangun rumpon. Pertama, perlu biaya.

Akibatnya, tidak jarang terjadi persaingan antara nelayan gurem yang tidak mampu membangun rumpon dengan nelayan pendatang yang berperalatan lengkap. Di perairan Nusa Tenggara Timur, pernah terjadi konflik antara nelayan lokal dan pendatang.

Kedua, memang ada kawasan berarus sangat deras. Contohnya, nelayan di seputar Pulau Nunukan, Kalimantan Utara, mengaku kesulitan membangun rumpon apalagi keramba. Padahal prinsipnya sederhana.

Detektor ikan

Rumpon terdiri dari penarik minat ikan yang disebut atraktor. Bisa terbuat dari tali-temali, daun kelapa, dan bahan-bahan yang menarik ikan untuk datang, bertelur, berlindung, dan mencari pakan. Untuk mempertahankan atraktor itu diperlukan pemberat. Bisa dari kerangka logam atau struktur beton.

Pada bagian atas perlu ada pelampung sebagai penanda lokasi. Biasanya terbuat dari drum atau bola-bola fiber, bahkan botol-botol plastik.

Jepang, Australia, Filipina, dan Srilanka sudah lama membangun teknologi rumpon di laut. Rumpon dikenal sebagai FAD Fish Aggregating Device.  Teknologi FAD mutakhir yang dilengkapi detektor ikan perlu dimasyarakatkan dan dikembangkan.  Tentu dengan dukungan dan penyuluhan, supaya hasilnya optimal.

Perihal keramba, ada yang memanfaatkan untuk menyegarkan tenggiri yang pingsan kena bom. Terutama tenggiri macan tutul diburu dengan bom.

Itu juga harus dicegah, dilarang! Dalam keadaan hidup, tenggiri macan tutul dihargai Rp 80.000 per kilogram (th 2015). Jadi, keramba diperlukan untuk penyegaran. Padahal, kalau mau lebih serius, di dalam keramba istri Malin Kundang pun bisa dimanja, dibudidayakan. Diekspor dan diajak membahagiakan, menyehatkan rakyat.

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *