Mengenang Kisah Penyumbang Jakarta 1
Wajah Kota Jakarta yang berumur 478 tahun pada malam hari

Wajah Kota Jakarta yang berumur 478 tahun pada malam hari

Kartini Seno mafhum betul nama-nama daerah di Jakarta Barat seperti Kedoya, Durikosambi, atau Srengseng. Ia lahir dan tumbuh di Kembangan, Kota Jakarta Barat, 45 tahun silam. Mantan wartawan televisi itu juga acap menyambangi daerah-daerah itu. Namun, tak pernah terbersit di benaknya bahwa nama-nama itu juga nama pohon. “Baru tahu kalau itu nama-nama pohon,” kata Kartini singkat. Jakarta yang 22 Juni 2014 berulang tahun ke-487 memang memiliki banyak kelurahan atau kecamatan yang diambil dari nama tumbuhan. Setidaknya 35% dari 257 kelurahan di Provinsi Jakarta mengadopsi nama tanaman.

Kini banyak penduduk Jakarta tak lagi mengenali sosok pohon yang namanya diabadikan untuk menyebut nama tempat itu. Harap mafhum pohon kedoya, kesambi, atau srengseng memang makin langka. Trubus menemukan pohon kedoya Dysoxylum gaudichandianum bukan di Kedoya Utara atau Kedoya Selatan, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat. Sosok itu tumbuh di Pulau Rakata dan hutan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Provinsi Lampung. Perjalanan eksplorasi ke Rakata itu bersama ahli ekologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Tukirin Partomihardjo PhD.

Buah kedoya kuning cerah berkhasiat sebagai antioksidan

Buah kedoya kuning cerah berkhasiat sebagai antioksidan

Tim eksplorasi Trubus dan Tukirin menganalisis vegetasi hutan Anak Krakatau dengan membuat 25 petak. Ukuran setiap petak 10 m x 10 m. Petak terendah di dekat pantai dan semakin ke atas di punggung gunung. Menurut Tukirin keanekaragaman hayati di hutan Anak Krakatau relatif tinggi. Di petak pertama, misalnya, terdapat 15 spesies. Di hutan Anak Krakatau juga tumbuh ivory mahagony alias mahoni gading—sebutan kedoya di mancanegara, tetapi belum berbuah.

Keesokan harinya, barulah tim menyambangi Pulau Rakata. Waseh yang mengendarai kapal cepat Subur mengantar tim eksplorasi ke pulau itu. Ketika melintas di sisi Anak Krakatau, terjadi hujan kerikil kecil—seukuran bulir padi—yang menimbulkan suara riuh di atap kapal cepat. Waseh lantas melabuhkan kapal cepat di tepi pulau. Setelah berjalan kaki hampir sejam, barulah tim menemukan pohon menjulang hingga 20 meter yang tengah memamerkan buah berwarna kuning cerah. Warnanya amat seronok.

Pohon kedoya di Pulau Rakata, Selat Sunda, Provinsi Lampung

Pohon kedoya di Pulau Rakata, Selat Sunda, Provinsi Lampung

Menurut doktor Biologi alumnus Universitas Kagoshima, Jepang, itu burung berjasa membawa buah kedoya ke Krakatau. Biji kedoya yang terjatuh kemudian tumbuh membesar menjadi pohon hingga berkembang biak di pulau itu. Bukan hanya sosok yang elok, buah anggota famili Meliaceae itu sejatinya berkhasiat sebagai antioksidan. Begitu juga dengan kulit batang pohon kerabat majegau atau cempaga Dysoxylum densiflorum—flora simbol Provinsi Bali—itu.

Periset di Pusat Penelitian Biologi, Chairul membuktikan nilai peroksida (POV) buah kedoya 68,90 μg. Menurut Chairul dalam “Laporan Teknik 2003” semakin kecil nilai peroksida, semakin tinggi aktivitas antioksidan dan sebaliknya. Chairul juga menguji sitotoksik alias antikanker kulit batang kedoya. Hasilnya nilai LC50 kedoya 347 μg. LC50 alias Lethal Concentration 50 merupakan riset untuk menentukan keaktifan suatu ekstrak atau senyawa. Pada konsentrasi berapa sebuah senyawa mampu mematikan separuh organisme uji seperti larva Artemia salina. Menurut Chairul aktivitas antikanker dalam kedoya yang mengandung triterpenoida itu tergolong rata-rata atau berkekuatan sedang.

Hutan yang terbentuk secara alamiah di Kepulauan Krakatau

Hutan yang terbentuk secara alamiah di Kepulauan Krakatau

Dalam riset lain, Chairul dan Praptiwi membuktikan buah kedoya mengandung antara lain asam dekanoat, asam oleat, asam palmitat, dan obat serta pelembut tekstil. Sementara sinamat aldehida berfungsi sebagai perasa dan pengharum pada industri parfum. Itu bukti bahwa pohon kedoya bukan sekadar bahan baku perahu seperti kerabatnya majegau yang lazim sebagai bahan baku roda pedati.

Baca juga:  Asap Usir Elmaut

Kayu Dysoxylum sp kuat, tahan air, berkayu indah dan mudah dikerjakan untuk perabot atau roda pedati. Untuk membuat roda pedati, bahkan berasal dari kayu yang utuh. Bagaimana dengan pohon kosambi alias kesambi yang juga diabadikan untuk menyebut kelurahan di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat? K Heyne dalam “Tumbuhan Berguna Indonesia” menyebut pohon anggota famili Sapindaceae itu kuat, padat, sangat keras, dan lebih berat daripada kayu besi. Sifatnya yang adaptif terhadap kelembapan dan kekeringan, menyebabkan masyarakat mengolah kayu menjadi jangkar perahu berukuran kecil.

Sosok daun kesambi mirip daun lengkeng

Sosok daun kesambi mirip daun lengkeng

Pemanfaatan lain kayu kosambi Scleichera oleosa untuk sisir, penggilingan tebu, dan antan. Jika pohon untuk beragam keperluan, kulit batang kerabat rambutan itu berkhasiat obat. Peneliti di Puslitbang Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan, Sri Komarayati, menyebutkan kulit kesambi berkhasiat untuk mengatasi penyakit kulit. Caranya dengan menumbuk kulit batang dan mencampurkan sedikit minyak kelapa, lantas mengoleskan di bagian yang sakit. Masyarakat Bali dahulu memanfaatkan kulit batang sebagai sabun mandi. Mereka menumbuk kulit batang kesambi hingga lumat dan membalurkan ke sekujur tubuh.

Pohon kesambi di lokasi pembantaian ratusan warga Rawagede, Kabupaten Karawang, oleh Belanda

Pohon kesambi di lokasi pembantaian ratusan warga Rawagede, Kabupaten Karawang, oleh Belanda

Sosok kesambi sangat khas. Bentuk, ukuran, dan warna daunnya persis daun lengkeng. Sebab antara kesambi dan lengkeng memang masih berkerabat dekat. Keduanya sama-sama anggota famili Sapindaceae alias rambutan-rambutanan. Di kompleks 431 pusara—korban pembantaian dan sinamat aldehida. Beragam senyawa itu multimanfaat. Asam dekanoat, misalnya, berperan sebagai pengemulsi makanan Belanda pada 7 Desember 1947—di monumen Rawagede, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pohon kesambi tumbuh amat rimbun. Pohon yang senantiasa hijau—meski musim kemarau—itu amat elok ketika bermunculan daun baru berwarna merah kecokelatan. Daun muda itu lezat sebagai lalap atau setelah direbus.

Bagi masyarakat Bugis, daun kedaeng alias kesambi bekal wajib bagi nelayan atau pemburu rusa. Daun kedaeng salah satu bumbu untuk mengolah ikan atau rusa sehingga citarasa lebih lezat. Anak-anak lazim mengonsumsi buahnya yang bulat memanjang hingga 15 mm. Rasanya manis masam. Itu jika sudah matang. Ketika masih hijau, buah bahan baku asinan. Burung juga menggemari buah kesambi. Itulah sebabnya kesambi amat pas sebagai pohon penghijauan karena mengundang beragam burung.

Pohon gondang Ficus variegata berpotensi jadi raksasa berdiameter 1,75m

Pohon gondang Ficus variegata berpotensi jadi raksasa berdiameter 1,75m

Riset Saefudin dan W. Widiono dari Pusat Penelitian Biologi membuktikan kesambi salah satu di antara delapan spesies yang sesuai untuk pohon penghijauan dan penataan lingkungan embung atau penampungan air hujan bervolume kecil, 30.000 m3. Pertumbuhan kesambi relatif cepat, berakar dalam—panjang akar tunggang hingga 84 cm, toleran terhadap iklim kering, selalu hijau, dan berbunga indah. Kesambi juga adaptif di tanah bobonaro alias tanah marginal.

Baca juga:  Manggis untuk Bronkitis

Bukan hanya daun atau buah, bahkan bijinya pun berfaedah. Biji kesambi mengandung minyak hingga 70%. Pantas penemu spesies itu, ahli Botani asal Portugis, Joao de Loureiro (1717—1791) memberi nama oleosa, meminjam bahasa Latin olearius berarti minyak hasil pengepresan biji. Minyak itulah yang berkhasiat untuk mengatasi luka, kudis, beri-beri, dan menghilangkan capai. Produsen sabun dan salep juga menyukai minyak kesambi sebagai campuran pembersih tubuh dan obat yang harum untuk mengatasi penyakit kulit.

Daun muda kesambi lezat untuk sayur atau lalap segar

Daun muda kesambi lezat untuk sayur atau lalap segar

Minyak kesambi juga bermanfaat sebagai bahan bakar lentera. Masyarakat mengambil minyak dengan cara memanggang biji ceylon oak alias oak srilanka—julukan kesambi di mancanegara—untuk mengelupas kulit biji. Kemudian setelah bersih tanpa kulit tipis, biji mengalami pemanasan ulang beberapa saat. Kini saatnya mengepres biji hingga keluar minyak kuning bening dan beraroma khas.

Tanaman lain yang juga menjadi nama kelurahan di Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, adalah gondang. Ficus variegata itu adaptif di dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Gondang juga mengacu nama spesies keong Pila ampullacea yang hidup di rawa-rawa. Di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, kini sulit mencari pohon anggota famili Moraceae itu. Wartawan Trubus Argohartono Arie Raharjo menemukan pohon gondang di hutan di Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, milik Pusat Penelitian Hasil Hutan. Penjaga hutan, Yusuf Supriatna, mengatakan populasi gondang di kawasan itu 120 pohon.

Ondel-ondel acap menyemarakkan ulang tahun Kota Jakarta

Ondel-ondel acap menyemarakkan ulang tahun Kota Jakarta

Pohon-pohon gondang itu tumbuh menjulang hingga 15-an meter dan berdiameter 20 cm. Gondang sohor sebagai raksasa rimba karena mampu tumbuh menjulang hingga 40 cm dan berdiameter 1,75 m. Sayang kayunya tidak tahan, termasuk kelas IV. Di hutan di Cikampek sebagian pohon kerabat buah tin Ficus carica itu tengah berbuah. Buah gondang berkhasiat mengatasi disentri. Caranya dengan menumbuk buah, tanpa biji, menambahkan sedikit garam, dan memeras hasil tumbukan itu.

Adapun kulit batangnya yang manis itu multifaedah. Salah satu manfaat kulit batang gondang adalah menghentikan murus darah. Bagi penyirih, kulit batang gondang menjadi pengganti biji pinang. Di tangan masyarakat Seram dan Buru, Provinsi Maluku, kulit batang gondang bahan pakaian. Itu kelaziman pada awal abad ke-19. Masyarakat setempat mengambil kulit batang selebar 1 cm dan merendamnya di air mengalir hingga seharian. Setelah itu mereka memukul-mukul kulit hingga menjadi pakaian atau sarung. Sementara di Jawa Tengah getah Ficus variegata berfaedah untuk membatik.

Gondang, kesambi, dan kedoya hanya sebagian pohon yang diabadikan untuk menyebut kawasan di Jakarta. Ibukota negara itu memang bagai arboretum yang kaya spesies. Bukan hanya Kebonpala (Myristica fragrans), Gandaria (Bouea macrophylla), atau Kebayoran (Pterospermum javanicum), tetapi juga Srengseng (Pandanus caricosus), atau Durikepa (Syzygium polyspalum). Sayangnya tetumbuhan yang menyumbang nama itu kian langka, bahkan mungkin menghilang. “Kita memang punya banyak, tetapi tak mampu merawatnya,” kata ahli Botani alumnus Universitas Birmingham, Inggris, Gregori Garnadi Hambali. Dirgahayu Jakarta. (Sardi Duryatmo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *