Mengangkat Pamor Jengkol 1

Omzet hingga belasan juta rupiah per bulan hasil penjualan kerupuk jengkol.

Imas Mintarsih mengangkat pamor kerupuk jengkol menjadi makanan ringan modern.

Imas Mintarsih mengangkat pamor kerupuk jengkol menjadi makanan ringan modern.

Sejak lulus dan meraih gelar Sarjana Pertanian pada 2015 di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Imas lebih memilih mengembangkan bisnis kerupuk jengkol. Ia mengolah rata-rata 20 kg buah jengkol per hari. Mula-mula Imas merebus buah jengkol hingga matang kemudian menghancurkan sampai halus.

Perempuan asal Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu lalu menambahkan tepung tapioka dan bumbu penyedap rasa. Imas lalu mencetak adonan hingga berbentuk memanjang dan mengukusnya hingga matang. Perempuan kelahiran 1995 itu kemudian mengiris adonan matang yang telah didinginkan hingga menjadi lembaran-lembaran tipis. Perempuan 23 tahun itu menjemur irisan adonan hingga kering. Pada tahap akhir, Imas menggoreng irisan adonan itu menjadi kerupuk jengkol.

Berkembang

Imas lalu menambahkan bumbu untuk menciptakan aneka varian rasa, seperti rasa original, pedas, dan sapi panggang alias barbeque. Ia mengemas kerupuk jengkol itu dalam kemasan plastik berisi 80 g. Imas menjual kerupuk jengkol buatannya melalui media sosial dan situs penjualan daring dengan harga Rp10.000 per kemasan. Dalam sebulan perempuan 23 tahun itu menjual rata-rata 1.000 kemasan berbobot 80 gram atau total omzet Rp10 juta per bulan.

Selain itu Imas juga memperoleh pendapatan dari penjualan kerupuk dalam kemasan kecil, yakni 10 gram. Harga setiap kemasan kecil Rp1.000. Volume penjualan mencapai 1.000 kemasan kecil per bulan. Pengusaha muda itu memberi label merek Jengkol Oyoh—diambil dari panggilan sang ibu yang bernama Yoyoh—di setiap kemasan. Di kediaman Imas, yakni di Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, nama Oyoh sohor sebagai produsen kerupuk jengkol sejak 1980-an.

Baca juga:  Tidur di Desa, Jadi Petani

Trubus Juni 2018 Highrest.pdf

Namun, ketika itu sang ibu hanya memasarkan kerupuk buah tanaman anggota famili Fabaceae itu di warung-warung di seputaran rumahnya dengan harga murah, yakni hanya Rp1.000 per bungkus. Imas ingin produk buatan ibunya itu naik kelas. Ia lalu mencari cara untuk membesarkan usaha kerupuk jengkol yang dirintis sang ibu.
Pada 2014 Imas mulai mewujudkan mimpinya dengan mendaftarkan produk kerupuk jengkol miliknya ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang untuk memperoleh izin edar sebagai Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Imas juga mengurus sertfikat halal.

Perbaiki kemasan

Mengangkat Pamor Jengkol 2

Kerupuk jengkol produksi Imas Mintarsih dapat diperoleh di toko-toko yang menjual oleh-oleh.

Imas Mintarsih juga merancang kemasan agar kerupuk jengkol produksinya lebih terlihat menarik dan modern. Semula kemasan kerupuk hanya plastik transparan ukuran kecil. Kini kerupuk jengkol bikinan Imas berbalut kemasan aluminium foil berperekat sehingga dapat dibuka-tutup. Untuk mengembangkan pemasaran, Imas mengikuti berbagai program pembinaan untuk pengembangan wirausaha.

Salah satunya Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) di kampus saat ia masih kuliah. Pada 2015 ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan pembinaan dan pameran yang digelar Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Barat. Ia juga aktif mengkuti beberapa pameran melalui komunitas pelaku usaha di Kabupaten Sumedang, pemerintah Kabupaten Sumedang, maupun koperasi Wirausaha Jabar Sejahtera (WJS).

Pengusaha muda itu juga menggunakan sarana media sosial dan situs penjualan daring untuk memasarkan kerupuk jengkol. Berkat berbagai upaya pemasaran itu, kerupuk jengkol buatannya kini makin sohor. Permintaan tak hanya datang dari Kabupaten Sumedang, tapi juga dari kota lain seperti Bandung, Jawa Barat, serta kota-kota lain di Jawa Timur dan Pulau Kalimantan. Beberapa konsumen bahkan membawa kerupuk jengkol buatan Imas ke mancanegara, seperti Mesir, sebagai buah tangan.

Baca juga:  Sukses Menanam Katuk

Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan buah jengkol Pithecelebium jiringa dalam bentuk olahan gulai atau rendang.

Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan buah jengkol Pithecelebium jiringa dalam bentuk olahan gulai atau rendang.

Pada awal 2017 Imas membaca sebuah pengumuman tentang kompetisi wirausaha pemula bertajuk The Big Start Indonesia Season 2 yang digelar salah satu perusahaan penjualan

Imas Mintarsih saat menerima penghargaan juara ke-3 Big Start Indonesia Season 2.

Imas Mintarsih saat menerima penghargaan juara ke-3 Big Start Indonesia Season 2.

daring terkemuka di tanah air. Ia pun memberanikan diri untuk berpartisipasi. Tak disangka dari 20.000 peserta, Imas lolos menjadi salah satu dari 100 peserta terbaik. Selanjutnya dari 100 peserta terbaik itu panitia menyaring lagi hingga menjadi 20 peserta terbaik.

Dalam seleksi selanjutnya panitia memilih 4 peserta terbaik. Kegigihan dan percaya diri membawa Imas menjadi salah satu di antara 4 peserta yang terpilih menjadi finalis dan akhirnya meraih juara ke-3. Dalam kompetisi itu ia memperoleh hadiah Rp200 juta. Dengan prestasi itu Imas berharap kerupuk jengkol Oyoh semakin berkembang menjadi salah satu produsen makanan ringan terbesar di Indonesia. Dengan begitu ia juga berharap dapat menyejahterakan para petani jengkol. “Jengkol juga menjadi makanan yang dapat diterima oleh semua kalangan,” tutur Imas. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments