Durian si honje hasil petikan, kualitasnya mirip dengan buah jatuhan saat menjadi juara lomba.

Durian si honje hasil petikan, kualitasnya mirip dengan buah jatuhan saat menjadi juara lomba.

 

Durian si honje berpotensi sebagai varietas unggul baru asal Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Penampilan durian si honje menarik perhatian para juri dan pengunjung Festival Buah Lokal Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Daging buah Durio zibethinus itu berwarna kuning tua semu jingga. Warna daging buah itu mencolok karena sebagian besar kontestan berdaging buah putih dan krem. Di antara 27 peserta, hanya 8 peserta yang berwarna mentereng, yaitu semu jingga dan kuning.

Warna semu jingga itu mengingatkan kita akan kelopak bunga kecombrang Nicolaia spiciosa. Itulah sebabnya warga menamakan durian jawara itu dengan sebutan si honje. Dalam bahasa Sunda, honje berarti kecombrang. Dari segi rasa si honje paling juara dibandingkan dengan 7 peserta lain yang berdaging buah atraktif. Si honje memiliki keharuman sedang, daging buah kuning tua merata.

Kunjungan

Daging buah si honje relatif tebal, creamy, lengket, dengan rasa manis pahit seimbang. Keunggulan lain, tekstur daging buah juga tidak berserat, lembut, dengan sedikit rasa unik tepung sari atau polen. Biji normal sedang dengan prosi buah yang dapat dikonsumsi atau edible portion yang mencapai 28,9%.

Daging buah terlihat empuk meski buah petikan.

Daging buah terlihat empuk meski buah petikan.

Dengan berbagai keunggulan itu pantas bila para juri sepakat menobatkan si honje menjadi jawara kontes. Dalam kontes durian itu si honje memperoleh nilai tertinggi, yakni 461,1 poin. Jumlah itu berbeda jauh dengan juara kedua kontes yang hanya meraih 440,75 atau terpaut hingga 21 poin. Penulis pun menghampiri sang pemilik pohon, yaitu Ating, usai menerima piala dari bupati.

Menurut Ating si honje berasal dari pohon berumur sekitar 70 tahun dengan diameter batang mencapai 80 cm. Meski tua pohon itu tergolong produktif. “Setiap musim rata-rata menghasilkan 300—400 buah. Saat ini masih tersisa sekitar 150 buah,” ujar pria 57 tahun itu. Mumpung masih ada buahnya, tiga hari setelah kontes, penulis berkunjung ke lokasi pohon si honje.

Baca juga:  Legit Nian Raja Musang

Dalam kunjungan itu tim Pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Banten dan Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Ir.Heni Supiani, M.M., turut serta. Lokasi pohon ternyata dekat dari pusat kota, yakni di Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Kampung itu hanya berjarak sekitar 4—5 km dari alun-alun Pandeglang. Pohon si honje tumbuh menjulang di area pemukiman warga. Sayangnya

Pohon induk si honje berumur 70 tahun.

Pohon induk si honje berumur 70 tahun.

ketika berkunjung, Ating memetik hampir seluruh buah yang tersisa. Biasanya kualitas rasa durian hasil petikan kurang enak karena ada kemungkinan umur buah masih muda sehingga daging buahnya mengkal dan rasanya hambar. Penasaran dengan rasanya di luar kontes, penulis lalu memilih salah satu buah si honje yang sudah harum pertanda buah sudah tua.

 

Ating lalu membelah salah satu buah yang terpilih. Begitu terbelah ternyata warna daging buah persis seperti saat kontes, yakni berwarna semu jingga. Sebelum menyantap, penulis mencoba menekan daging buah salah satu pongge. Meski buah hasil petikan, daging buah terasa empuk saat ditekan. Begitu dicicip daging buah ternyata lembut dan terasa lengket di lidah. Karakter rasanya persis saat mencicipnya ketika lomba.

Tim Pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Banten dan Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Ir.Heni Supiani, M.M. (paling kanan).

Tim Pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Banten dan Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Ir.Heni Supiani, M.M. (paling kanan).

Itu berarti pohon yang dikunjungi benar-benar pohon si honje. Sebab, kadang-kadang yang mengikutkan durian sebagai peserta kontes adalah pedagang sehingga tidak mengetahui persis lokasi pohon asalnya. Pekebun juga sering kali lupa dari pohon mana ia mengambil buah saat diikutkan lomba. Akibatnya, sering kali terjadi kesalahan memperbanyak bibit. Begitu bibit dikebunkan dan berbuah ternyata karakter buah berbeda dengan aslinya.

Baca juga:  Cetak Lovebird Biola

Kasus seperti itu terjadi pada si radio yang menjadi jawara kontes durian di Kabupaten Pandeglang pada 2010. Di kebun milik Josia Lazuardi di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, karakter buah si radio berbeda dengan ciri-ciri yang dideskripsikan saat menjadi juara. Padahal, ketika itu ia membeli bibit dari si pemilik pohon.

Varietas unggul

Pemilik pohon si honje, Ating dari Majasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Pemilik pohon si honje, Ating dari Majasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Heni berencana mendaftarkan si honje sebagai salah satu varietas unggul nasional ke Kementerian Pertanian. Ia bekerja sama dengan tim SDG BPTP Provinsi Banten tengah menyusun kelengkapan pendaftaran varietas. Si honje bakal menyusul si radio dan si seupah yang lebih dahulu terdaftar sebagai varietas unggul nasional. “Rencananya diusulkan tahun ini adalah si honje, si bintang, baranjang, ketan jaya, top one , si buaya, dan si kucing,” kata Heni.

Menurut Heni program pendaftaran varietas unggul itu merupakan bagian dari program pemerintah Kabupaten Pandeglang melalui Dinas Pertanian menjadikan durian sebagai komoditas andalan. Bupati Pandeglang Irna Narulita, menyampaikan bahwa durian seharusnya menjadi salah satu komoditas andalan Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten. “Saat ini banyak pedagang durian yang menjajakan durian medan padahal isinya durian asal Pandeglang,” ujarnya.

Apalagi lokasi Pandeglang relatif lebih dekat dengan Jakarta yang merupakan pasar terbesar komoditas pertanian. Heni bersama tim memetakan wilayah yang menjadi sentra durian, yaitu Kecamatan Cadasari, Karangtanjung, Pandeglang, Majasari, Kaduhejo, Mandalawangi, Pulosari, dan Carita. (M. Iwan Subakti, pengurus Yayasan Durian Indonesia)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d