Mendambakan Abnormal 1
Pachypodium lamerei kristata. Foto diambil di kediaman Soeroso Soemopawiro, Jakarta, pada 2007

Pachypodium lamerei
kristata. Foto diambil
di kediaman Soeroso
Soemopawiro, Jakarta,
pada 2007

Siang itu terik matahari membakar bumi Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Panasnya sang surya pun terasa di Saung Balad milik Mulyono yang halamannya penuh dengan tanaman. Saung Balad tampilannya mencolok dibanding lingkungan sekitar. Bangunan kayu bertingkat berbentuk joglo tampak asri di tengah halaman yang berisi aneka tabulampot.

Ada yang unik di sana. Di samping kanan halaman, pada sebatang pohon jambu yang dipangkas habis,  tampak terikat polibag hitam berisi jambu citra.   Daun sang jambu bukan hijau cerah, tetapi kuning dengan semburat hijau. Jambu citra variegata! Jika ditabulampotkan, jambu citra  berdaun abnormal itu bakal menjadi pesaing berat bagi saudaranya yang normal.

Susah dapat

Tanaman variegata sudah sangat populer sejak dahulu. Bagi penggemarnya, harga bukan masalah besar. Lokasi jauh pun akan disambangi demi si belang. Pramote Rojruangsang, seorang kawan pencinta tanaman di Thailand, bercerita bahwa ia sudah lama mencari Sanseviera pinguicula variegata. Saat mencari di internet, tanaman superlangka itu sedang dilelang secara daring alias  online dengan harga awal US$100 dan kemudian melonjak ke US$1.200.  Pramote menyodorkan angka US$1.300.  Alhasil pinguicula nan langka itu terbang dari Amerika ke kebun Pramote di  Pathumtani, Thailand.

Pinguicula yang diburu Pramote itu adalah variegata yang sulit diperbanyak, seperti yang jarang terjadi pada encephalartos, anthurium, sikas, dan palem. Mereka variegata  kelas kolektor. Variegata yang mudah diperbanyak dan bersifat stabil, tidak berubah sampai anak cucu, menjadi elemen pilihan untuk permainan warna di taman.

Belang warna-warni itu terjadi karena tanaman tidak memproduksi klorofil dalam jumlah memadai. Muncullah warna lain seperti putih, kuning, merah,  atau warna lain.  Pada tanaman yang berwarna hijau, klorofil mendominasi; kuning, kromoplas yang berisi pigmen karetonoid berkuasa. Saat variegata muncul, pada bagian hijau dan kuning misalnya, tetap saja ada klorofil dan klomoplas. Hanya saja di bagian berwarna hijau, kromoplasnya tersembunyi. Demikian juga sebaliknya. Pigmen warna tersembunyi itu kadang-kadang bisa muncul sedikit karena pemberian pupuk. Itulah sebabnya sering terjadi muncul bintik hijau—yang semula tidak ada—di bagian warna kuning atau putih.

Baca juga:  Dahulu Pemulung Kini Pengusaha

Mutasi gen penyebab variegata dapat terjadi pada kondisi ekstrem, misalnya di perbatasan padang pasir dan daerah subur yang penuh pepohonan. Di laboratorium, dengan tingkat keahlian tinggi, gen dari satu tanaman dapat dipindah ke tanaman lain melalui tali putri  Cassytha filiformis. Infeksi virus dan bakteri pun memicu belang warna-warni. Hanya pakar berpengetahuan luar biasa yang dapat membedakan penyebab variegata: mutasi gen atau infeksi patogen? Kekurangan unsur hara, terutama magnesium, menyebabkan daun kekuningan layaknya variegata. Daun kembali hijau setelah asupan hara memadai.

Beringin putih—sering menjadi elemen taman—pun salah satu bentuk variegata yang kerap disebut kimera. Beringin putih muncul lantaran salah satu bagian tanaman mengalami perubahan sel, sehingga warna daun menyimpang dari bentuk normal. Berbeda dengan variegata karena mutasi gen yang stabil sampai keturunannya,  variegata yang disebabkan kimera tidak stabil. Suatu saat warna daun kembali ke semula. Variegata stabil jika mutasi gen terjadi di titik tumbuh yang selalu membelah diri; tidak stabil andaikan mutasi hanya ada di lapisan epidermis. Lapisan epidermis tidak akan membelah diri.

Ini juga abnormal

Abnormal lantaran mutasi di titik tumbuh tidak hanya menyebabkan tanaman berubah belang-bentong.  Saat titik tumbuh terbelah, maka bentuk tanaman berubah drastis. Seluruh permukaan batang bisa ditumbuhi tunas yang membesar berdempetan. Mungkin pula pertumbuhan tunas yang banyak dan tumbuh berhimpitan satu sama lain itu terjadi hanya di sebagian areal tanaman. Di mana pun tunas-tunas itu muncul, nama abnormalitasnya tetap sama, kristata. Tunas tumbuh berdempetan dan melebar ke samping bagaikan kipas.

Di masa kejayaan tanaman hias, tujuh tahun lalu,  kristata bagaikan emas hijau. Pachipodum rosulatum kristata terjual seharga Rp20-juta; Pachypodium lamerei kristata “hanya” Rp6-juta. Nepenthes rafflesiana variegata diboyong pembeli senilai Rp4-juta; Ariocarpus fissuratus variegata Rp5-juta. Harga melonjak, niat coba-coba pun memuncak. Variegata dicoba diciptakan melalui pemupukan dan pemberian hormon. Kristata “diciptakan” dengan cara menusuk atau mengiris titik tumbuh. Ada yang berhasil, banyak yang gagal. Kendatipun tidak semahal masa silam, kristata dan variegata masih tetap bercokol di atas harga rata-rata.  Tahun lalu, di Tian Wei Garden, Taiwan, Euphorbia flanaganii kristata dibanderol NT 3.000 setara Rp1,2-juta.

Baca juga:  Plasma Nutfah

Kristata bisa muncul di semua tanaman, tetapi yang paling sering terlihat di sukulen dan kaktus. Salah satu kristata spektakuler pernah terjadi di Agave geminiflora. Pada kondisi normal, bunga agave ini lurus saja seperti bunga lidah buaya Aloe vera.  Kristatanya muncul justru di tangkai bunga yang berubah bentuk. Tangkai bunga melebar bagaikan pelepah kelapa. Bagian atas tangkai membelah diri menjadi beberapa bagian dan melebar  pula seperti pelepah. Bentuk kristata memang beragam. Kian langka bentuknya, kian menarik tampilannya, kian mahal pula harganya.

Alam mempersembahkan abnormalitas untuk manusia. Kondisi abnormal kebanyakan justru merupakan petaka. Namun, ketika abnormalitas itu terjadi pada tanaman dalam bentuk mutasi gen, sehingga muncul aneka warna variegata, aneka ragam kristata, maka itu menjadi pemicu bagi manusia untuk menikmati keindahannya. (Onny Untung, redaktur senior)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *