Prospek berkebun lada tetap bagus karena ceruk pasar besar.

Prospek berkebun lada tetap bagus karena ceruk pasar besar.

Harga bagus memicu perkebunan lada menggeliat.

Penantian panjang hingga 12 bulan itu hanya memberikan laba bersih Rp540.000. Itu setelah Supirno panen 3 ton singkong di lahan 1.500 m2. Pekebun di Desa Kedarpan, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, itu menjual umbi singkong Rp600 per kg sehingga omzetnya Rp1,8-juta. Ia mengutip laba 30% atau Rp540.000 dari penjualan Manihot utilissima.

Pemanfaatan lada tidak melulu sebagai bumbu masak, tapi juga untuk parfum dan farmasi.

Pemanfaatan lada tidak melulu sebagai bumbu masak, tapi juga untuk parfum dan farmasi.

Menurut Supirno hampir semua warga desa membudidayakan tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu. Namun pada Agustus 2015 omzet Supirno membubung, yakni Rp23,5-juta. Dari jumlah itu labanya fantastis: Rp20,5-juta. Artinya penghasilan pria kelahiran Purbalingga itu meningkat 3.600%. “Saya sangat senang dengan peningkatan pendapatan ini,” kata pekebun yang akhirnya meninggalkan singkong itu.

Berkah merica
Peningkatan laba itu bukan karena Supirno menambah populasi tanaman. Bukan juga karena ia menggunakan pupuk khusus pemacu produksi. Penghasilan Supirno melonjak karena ia beralih membudidayakan lada Piper nigrum. Pria berumur 41 tahun itu menanam lada di lahan bekas singkong seluas 1.500 m2 berpopulasi 300 tanaman. Panen terakhir pada Agustus 2015 ia mendapat 140 kg merica kering.

Produksi lada meluas di luar sentra utama Bangka Belitung.

Produksi lada meluas di luar sentra utama Bangka Belitung.

Saat itu Supirno menjual hasil panen ke eksportir di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur, Rp168.000 per kg. Omzet penjualan buah tanaman kerabat sirih itu Rp23,5-juta. Supirno mengatakan total biaya produksi Rp3-juta. Jadi, keuntungannya Rp20,5-juta. Menurut Supirno keuntungan bisa lebih besar lagi seiring pertumbuhan tanaman. Panen pada Agustus 2015 kali kedua di kebun ayah 4 anak itu.

Panen perdana pada 2014 menghasilkan 80 kg lada kering seharga Rp125.000. Oleh karena itu ia meraih omzet Rp10-juta. Supirno tertarik mengembangkan pepper—sebutan lada di Inggris—karena menguntungkan. Lada hanya tanam sekali, tapi bisa panen hingga tanaman berumur 15 tahun. Sementara satu kali tanam singkong, sekali pula panen. Sejatinya tidak hanya Supirno yang mendulang laba lada.

Hampir semua pekebun di Desa Kedarpan mendapat berkah bertanam lada. Suharsono misalnya. Ia meraih Rp50-juta dari perniagaan poivre—sebutan lada di Prancis—pada 2015. Saat itu Suharsono melego lada di lahan 5.000 m2 kepada tengkulak. Padahal, lada baru siap panen 3 bulan berikutnya. Ia memprediksi hasil panen saat itu mencapai 500 kg kering dan mendapat harga Rp160.000 per kg.

Ir Joko Sagastono mengatakan International Pepper Community meminta pasokan lada hitam sebanyak-banyaknya.

Ir Joko Sagastono mengatakan International Pepper Community meminta pasokan lada hitam sebanyak-banyaknya.

Jadi sebetulnya pria berumur 68 tahun itu berpeluang mendapat omzet Rp80-juta. Sayang ia menjual paminta—sebutan lada di Filipina—karena, “Saya perlu uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata pekebun lada itu. Senyum kebahagiaan juga menghias wajah Sutarso. Ia menuai 100 kg kering dari lahan 220 m2.

Harga lada pada panen Agustus 2015 itu Rp150.000 per kg kering. Jadi Sutarso meraih omzet Rp15-juta. Pekebun lada itu menjual hasil panen ke pasar di Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sebelumnya ia bertanam singkong. “Membudidayakan lada sangat menguntungkan,” kata pria kelahiran 11 April 1949 itu.

Penanaman lada berkembang di Purbalingga, Jawa Tengah.

Penanaman lada berkembang di Purbalingga, Jawa Tengah.

Menguntungkan
Semula lada identik dengan Bangka Belitung. Namun, sejak 1980-an penanaman juga meluas di luar sentra seperti Kabupaten Purbalingga. Sementara itu para petani di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, juga mulai mengebunkan lada secara khusus pada 2010. Penanaman tanaman anggota famili Piperaceae itu kian meluas. Di Desa Sindangkerta, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Nurjaya, mengebunkan raja rempah itu di lahan total 6 ha—namun yang produktif baru 1 ha hasil penanaman pada 2010. Populasinya mencapai 3.000 tanaman. Panen perdana saat tanaman berumur 4 tahun, yakni pada 2014.

Baca juga:  Nikmatnya Laba Lada

Ketika itu ia menuai 50 kg lada kering. Dengan harga jual saat itu Rp150.000 per kg, Nurjaya meraup omzet Rp7,5-juta. Produksi setahun kemudian meningkat menjadi 150 kg kering. Harga jual sama Rp150.000 per kg. Itulah sebabnya omzet pria kelahiran 1971 itu menjadi Rp22,5-juta. Menurut Nurjaya biaya produksi mencapai Rp25.000 per pohon.

Ketua Asosiasi Pekebun Lada Purbalingga, Yogi Dwi Sungkowo, menuturkan peluang bertanam lada tetap bagus. Sebab pemanfaatan tanaman kerabat cabai jawa itu tidak melulu sebagai bumbu dapur. “Kini lada juga digunakan sebagai salah satu bahan membuat parfum dan kosmetik,” kata pria berumur 32 tahun itu.

Ketua Asosiasi Pekebun Lada Purbalingga, Yogi Dwi Sungkowo, “Peluang bertanam lada tetap bagus,”

Ketua Asosiasi Pekebun Lada Purbalingga, Yogi Dwi Sungkowo, “Peluang bertanam lada tetap bagus,”

Yogi juga menuturkan mayoritas produksi lada di Indonesia untuk tujuan ekspor, sisanya untuk pasar dalam negeri. Meski begitu permintaan lada nasional tergolong tinggi. Mulyadi dari PT Ganesha Abaditama—perusahaan pemasok lada—menuturkan kebutuhan lada nasional belum terpasok sepenuhnya.

Permintaan lada tiap tahun meningkat. Pada 2014 ia memasok 1,5 ton lada per bulan, sedangkan pada November 2015 mencapai 2 ton per bulan. Pasokan itu belum memenuhi permintaan yang datang. “Pasokan lada 10—15 ton per bulan pun pasti terjual,” kata pria kelahiran Solok, Sumatera Barat, itu.

Kurang pasokan
Ceruk pasar lada nasional pun sangat besar. Mulyadi menyarankan masyarakat yang memiliki lahan agar menanam lada karena menguntungkan. Apalagi hanya beberapa negara yang memproduksi komoditas berjuluk raja rempah-rempah itu. Selain Indonesia, negara produsen lain yakni Vietnam dan Brasil. “Jika pasokan di kedua negara itu bermasalah, konsumen pasti berlaih ke Indonesia,” kata Mulyadi.

Supirno menanam lada karena menguntungkan.

Supirno menanam lada karena menguntungkan.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Ir Joko Sagastono, pun mengatakan International Pepper Community (IPC) meminta pasokan lada hitam sebanyak-banyaknya. Lada hitam dan lada putih berbeda cara pengolahan.

Untuk mendapatkan lada hitam pekebun merontokkan dan mengeringkan lada segar. Sementara lada putih menjalani fase perontokan, perendaman, pengupasan, dan pengeringan. Oleh karena itu harga lada putih lebih mahal ketimbang lada hitam. Harga yang cenderung naik setiap tahun semakin membulatkan tekad pekebun menanam lada. Pada 2015 harga lada kering Rp150.000kg, sedangkan pada 2014 Rp140.000 per kg.

Baca juga:  Bisnis Lada: Bulan Madu Raja Rempah

Harga itu menarik pekebun baru atau pekebun lama untuk memperluas lahan. Contohnya Setiono. Pekebun di Desa Kedarpan, Kejobong, Purbalingga, Jawa Tengah, itu menambah areal tanam menjadi 1 ha, sebelumnya hanya 0,5 ha. “Saya memperluas lahan karena harga lada bagus,” kata pria berumur 29 tahun itu. Kebun Setiono terbagi di 6 lokasi berbeda. Semuanya berada di Purbalingga.

Lada perdu hasil perbanyakan lada rambat sempat diminati pekebun pada awal 2000-an.

Lada perdu hasil perbanyakan lada rambat sempat diminati pekebun pada awal 2000-an.

Pekebun baru pun bermunculan seperti Yogi. Ia mulai membudidayakan lada di lahan 1.400 m2 pada November 2015. Di kebun itu ia menanam 1.000 tanaman. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan perkebunan lada cenderung meningkat pada 2013—2015.

Luas kebun lada di Indonesia pada 2014 mencapai 172.615 ha (angka sementara), sedangkan pada 2015 area tanam lada 173.768 ha (angka estimasi). Produksi lada pun cenderung menanjak saban tahun. Pada 2015 Indonesia menghasilkan 92.946 ton lada, sedangkan pada 2014 memproduksi 91.941 ton lada. (Riefza Vebriansyah)

Penanaman kacang pintoi sangat dianjurkan dalam budidaya lada.

Penanaman kacang pintoi sangat dianjurkan dalam budidaya lada.

Hambatan dan Jalan Keluar

Tidak gampang mendapat laba dari lada. Pekebun mesti mengatasi beberapa rintangan. Pedes—sebutan lada di Jawa Barat—belajar berbuah pada tahun ketiga setelah tanam. Jadi tiga tahun pertama pekebun tidak mendapat uang, malahan merogoh kocek untuk perawatan. Tujuannya agar tanaman tumbuh subur dan berproduksi. Jika kurang perawatan, tanaman mati dan penantian 3 tahun sia-sia.

Hambatan lain yakni penyakit busuk pangkal batang akibat cendawan Phytophthora capsici. Lada milik Supirno pernah terserang penyakit itu pada 2004. “Saat itu sekitar 100 tanaman saya mati,” kata perangkat desa bidang kesejahteraan di Desa Kedarpan itu. Tanaman yang mati ia ganti dengan tanaman baru. Sayang, beberapa hari di lahan sahang—sebutan lada di Bangka Belitung—muda pun mati.

Kejadian itu terus berulang. Akhirnya Supirno berhenti membudidayakan lada di lahan itu. Ia lantas beralih ke singkong agar penyebaran penyakit itu terhenti. Baru pada 2011 ia kembali ke lada. Menurut periset di Balai Penelitian tanaman Rempah dan Obat, Dyah Manohara serangan hama dan penyakit seperti pangkal busuk batang menurunkan produktivitas lada.

Ciri tanaman terserang yakni menguning dan layu. Solusinya antara lain pekebun menanam kacang pintoi Arachis pintoii sebagai tanaman penutup tanah. Cara lain bikin parit di sekeliling kebun agar merica terhindar dari genangan air. Agar berproduksi maksimal Dyah dan Dono menganjurkan budidaya ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan benar dan tepat.

Salah satu caranya penanaman terintegrasi antara lada dengan ternak. Kebun lada mesti ditumbuhi kacang pintoi sebagai penutup tanah. Tujuannya menghambat penyebaran propagul cendawan penyebab pangkal busuk batang. Kacang pintoi juga mengonservasi musuh alami hama. Pekebun juga mesti memangkas tajuk secara berkala agar tercipta kondisi optimum pertumbuhan lada.

Kedua peneliti Balai Penelitian Tanaman Remaph dan Obat (Balittro), Bogor, Jawa Barat, itu menyarankan pekebun menggembalakan kambing peranakan ettawa di kebun. Kambing memakan kacang pintoi dan daun pangkasan pohon penaung. Sementara kotoran ternak sebagai bahan bahan organik dan substrat Tricodherma sp. pencegah penyakit busuk pangkal batang. (Riefza Vebriansyah)

Wajib Baca: Analisis Usaha Berkebun Lada

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d