Mencuri Hati Juri 1
Grand Champion kontes anggrek di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan.

Grand Champion kontes anggrek di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan.

Membangkitkan gairah memelihara tanaman hias Indonesia.

Tiga tangkai tegak menopang puluhan kuntum yang mekar sempurna, bersih, dan segar. Setiap tangkai memamerkan 18—20 kuntum. Lembaran daunnya hijau, sehat, dan mulus menandakan tanaman sedang berada dalam kondisi prima. Itulah sosok Dendrobium ‘Burana Jade Bertha Chong’ setinggi 60 cm yang menjuarai kontes di aula Taman Anggrek Ragunan (TAR), Jakarta Selatan.

Dendrobium hibrida milik Wiyono Panca di Jakarta Selatan itu memperoleh nilai tertinggi dari juri yang terdiri atas Endah Malahayati, Dyah Widiastuti, dan Briliantoro. “Sosoknya paling showy dengan jumlah bunga yang padat,” ujar Brilliantoro. Dua buah pita merah dan triwarna (merah, hijau, kuning) membuatnya melenggang mulus ke puncak tertinggi sebagai grand champion. Burana Jade Berta Chong menyisihkan 50 kontestan lain.

Juara kelas phalaenopsis kategori warna lain.

Juara kelas phalaenopsis kategori warna lain.

Semarak
Perhelatan pada 5 April 2015 itu, hanya melombakan 2 jenis genus anggrek yaitu dendrobium dan phalaenopsis. Kedua genus itu paling populer di kalangan pehobi. Panitia membagi setiap genus menjadi 3 kategori warna yaitu putih, ungu, dan warna campuran. Antusiasme pehobi mengikuti kontes anggrek yang sudah mati suri selama 9 tahun itu ternyata cukup tinggi.

“Kontes ini bertujuan membangkitkan kontes anggrek yang sempat berjaya pada awal 2000,” ujar Filly Kamal, penanggung jawab kontes. Hajatan untuk menyambut ulang tahun Taman Anggrek Ragunan itu juga melombakan anthurium karakter. Pehobi datang dari dalam dan luar negeri. “Kehadiran kontestan dari Thailand membuktikan tren anthurium belum mati,” ujar Sapto Birowo, penanggung jawab kontes.

Ia menuturkan kemeriahan kontes bahkan mengalahkan kontes bergengsi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, yang diadakan rutin setiap tahun. Ada 99 pot yang turun arena kontes, sedangkan pada kontes di Lapangan Banteng 2014 hanya 80 pot. Panitia membagi peserta dalam 9 kelas yaitu kobra senior, kobra junior, mangkuk senior, mangkuk junior, variegata senior, variegata junior, kobra, jenmanii campurnan, dan nonjenmanii campuran.

Suasana penjurian kontes anthurium.

Suasana penjurian kontes anthurium.

Penilaian tanaman melibatkan 3 juri profesional terdiri atas Ukay Saputra Sanusi dan Ansori (Jakarta) serta Tejo Trisaptono (Semarang). Format penilaian meliputi 60% karakter, 20% penampilan, dan 20% kesehatan. Proses penjurian bahkan berlangsung lebih dari 3 jam untuk menentukan anthurium berkarakter terbaik di masing-masing kelas. “Kami butuh waktu panjang untuk menilai sebab persaingan antartanaman di setiap kelas sangat ketat,” ujar Ukay Saputra Sanusi.

Barisan sansevieria siap tanding.

Barisan sansevieria siap tanding.

Telaten
Pengumuman pemenang baru dilakukan menjelang malam. Di kelas mangkuk senior, Anthurium jenmanii milik Eko Rianto asal Surakarta, Jawa Tengah, keluar sebagai pemenang. Juri mengukuhkan tanaman berumur 2 tahun itu sebagai jawara lantaran berkarakter mangkuk sangat kuat. Bentuk daun bulat, cekung, rapat, dan tersusun kompak dari bawah ke atas.

Baca juga:  Sukun Musuh Baru Malaria

Penampilan tanaman tampak sehat dan segar dengan warna daun hijau dan tanpa cacat. Ketekunan Eko Rianto merawat klangenannya tak sia-sia. “Sebenarnya pemeliharan setiap jenis anthurium hampir sama, tetapi jenmanii mangkuk butuh ketelatenan,” ujarnya. Setiap pagi, ia mengelap daun untuk menghilangkan titik-titik air akibat gutasi atau pengeluaran tetesan air dari permukaan tumbuhan.

COVER 1.pdf

Juara pertama kelas mangkuk senior milik M. Eko Irianto.

Juara pertama kelas mangkuk senior milik M. Eko Irianto.

Pria berusia 40 tahun itu juga memastikan setiap helai daun bebas dari air yang menggenang. “Air di atas permukaan daun bila terkena matahari akan mengering. Proses itu dapat memicu gosong pada daun sehingga merusak penampilan,” ujar Eko Rianto.

Sansevieria di Kediri
Kontes tanaman hias lain berlangsung di aula Pabrik Gula Pesantren Baru, Kediri, Provinsi Jawa Timur, pada 12 April 2015. Di sana pencinta sansevieria menggelar kontes sekaligus ajang untuk membangkitkan kembali semangat pehobi.

Juara kelas roundleaf dan flatleaf utama campuran.

Juara kelas roundleaf dan flatleaf utama campuran.

Itulah sebabnya, panitia memilih “Spirit Sansevieria” sebagai tema acara. Kehadiran kontes membantu mengisi kembali semangat pehobi yang mulai mengendur memelihara sansevieria,” ujar Wakhyu P. Siswosumarto, ketua panitia. Kompetisi persahabatan itu diikuti 144 pot sansevieria yang beradu cantik di 12 kelas. Kontestan datang dari berbagai provinsi seperti Jawa Barat (Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor), Jawa Tengah, Wonosobo, Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo, Ngawi, dan Kediri), DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali.

Wakhyu menuturkan kualitas kontestan sangat baik. Persaingan pun berlangsung ketat. Buktinya, ada beberapa tanaman yang meraih gelar juara pada kontes sebelumnya di Malang, Jawa Timur, justru kalah oleh pendatang baru. Yang paling menarik adalah Sansevieria ‘Zimbabwe’ milik Alam Pesona dari Nganjuk, Jawa Timur. Lidah mertua itu tergolong tua. Namun, kondisi kesehatan masih prima.

Peserta kontes “Spirit Sansevieria 2015” di Kediri, Jawa Timur.

Peserta kontes “Spirit Sansevieria 2015” di Kediri, Jawa Timur.

Selain itu karakter daun tegas dan tajam. Penampilan tanaman pun cukup bagus. Bagian belakang tampak jangkung dan besar, sedangkan lebih rendah di depan. Tim juri yang terdiri atas Sapto Nugroho (Surabaya, Jawa Timur), Yoyok (Jember, Jawa Timur), Syah Angkasa dan Kieny (Depok, Jawa Barat), Febri Widhi Armanu (Magelang, Jawa Tengah), dan menobatkan Zimbabwe sebagai juara di kelas roundleaf dan flatleaf utama campuran. (Andari Titisari/Peliput: Syah Angkasa)

Baca juga:  Manjakan Para Penarik Kail

COVER 1.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *