Mencegah Mangga Malformasi 1

Harga mangga malformasi amat rendah, bahkan tak layak ekspor. Kecukupan nutrisi mencegah buah mangga malformasi.

Mangga chokanan normal.

Mangga chokanan normal.

Yusop Juli senang bukan kepalang saat mangga chokanan yang tumbuh di halaman rumahnya berbuah lebat. Namun, pria asal Kabupaten Bireuen, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), itu heran saat melihat beberapa buah berbentuk tak beraturan (malformasi) meski berukuran jumbo, hingga berbobot 750 gram. Padahal, bentuk buah chokanan normal seharusnya lonjong memanjang dan agak meruncung di bagian ujung buah.

Mangga chokanan yang mengalami malformasi.

Mangga chokanan yang mengalami malformasi.

Kondisi serupa juga dialami buah mangga chokanan milik Mudyarto, pehobi di Bandaaceh, NAD. Dari sedompol buah, satu di antaranya berbentuk abnormal. Peneliti mangga di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) di Kebun Percobaan (KP) Cukurgondang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Ir. Rebin, mengatakan “Di KP Cukurgondang belum pernah terjadi bentuk buah seperti itu.”

Harga anjlok

Menurut ahli hama dan penyakit tanaman Balitbu, Dr. Affandi, kelainan buah seperti itu bukan karena serangan hama atau penyakit. Ia menduga malformasi buah itu seperti kasus buah duduk pada mangga gedong gincu. Bentuk buah cenderung berbentuk kotak. Bagian dasar buah mangga melekuk ke bagian dalam seperti dasar buah apel. Akibatnya, buah dapat berdiri tegak jika diletakkan secara vertikal di permukaan datar.

“Pada buah normal sulit diberdirikan secara vertikal,” tutur Affandi. Itulah sebabnya para pekebun mangga gedong gincu menyebutnya mangga duduk. Kelainan bentuk buah seperti itu merugikan pekebun. Pekebun mangga gedong gincu di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Syahril Sidik, mengatakan harga buah duduk langsung anjlok
“Terutama untuk pasar ekspor tidak boleh ada buah duduk. Kalau di pasar lokal masih bisa dijual, tapi harganya murah.” Buah yang bergetah dan mengalami kerusakan mekanis juga tidak lolos ekspor. “Rata-rata mangga yang tidak lolos sortir mencapai 10%,” kata Syahril.

Baca juga:  Urban Farming BI, Trubus & PKK: Panen Sayuran di Pekarangan

Menurut peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat, Agus Ruswandi, di sentra mangga gedong gincu kasus buah duduk peringkat ketiga kendala bagi para pekebun. Itu kejadian di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Adapun peringkat pertama dan kedua masing-masing serangan lalat buah dan ulat jengkal yang merusak bunga.

Mangga gedong gincu normal.

Mangga gedong gincu normal.

Di sentra mangga di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, hanya 20—30% hasil panen yang lolos sortir untuk ekspor. Sisanya gagal ekspor akibat serangan lalat buah, ulat jengkal, buah duduk, dan kehitaman pada bagian daging buah. Affandi menduga malformasi buah mangga terjadi akibat perkembangan sel yang tidak seragam.

Boron

Menurut Affandi sel terbentuk oleh protein. Penyusun utama protein adalah nitrogen. “Bisa jadi nitrogen tidak tersedia pada saat perkembangan buah,” ujarnya. Bisa juga nitrogen tersedia, tapi tidak terserap oleh tanaman, misalnya karena kekeringan pada saat fase perkembangan buah. Affandi mengatakan, malformasi juga bisa terjadi jika pekebun menggunakan paklobutrazol, yakni zat pengatur tumbuh (ZPT).

Malformasi buah duduk pada mangga gedong gincu.

Malformasi buah duduk pada mangga gedong gincu.*

Pekebun memanfaatkannya untuk membuahkan mangga di luar musim. Paklobutrazol berperan menghentikan pertumbuhan vegetatif tanaman. “Pada saat diberi paklobutrazol tanaman membutuhkan pasokan nutrisi supertinggi,” ujarnya. Jika tanaman diberi ZPT, tapi ketersedian nutrisi kurang memadai, maka perkembangan buah menjadi tidak optimal. “Namun, itu baru teori. Untuk kasus itu perlu penelitian khusus,” kata Affandi.

Menurut peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Jawa Barat, Drs. Agus Nurawan, M.P., penyebab malformasi buah kemungkinan akibat kekurangan unsur mikro, terutama boron (B). Unsur itu berperan dalam translokasi atau pengangkutan hasil fotosintesis (asimilat) ke buah sehingga berpengaruh terhadap perkembangan buah.

Baca juga:  Inovasi Baru dari Aceh

Hasil penelitian di sentra mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon, menunjukkan pemberian 5 gram mikroboron per pohon dapat menurunkan kejadian buah duduk dari semula 30% menjadi 10%
Lokasi penanaman juga harus diperhatikan. Pilih lahan yang subur sehingga mampu memasok kebutuhan nutrisi yang cukup saat tanaman berbuah. Pastikan juga air tersedia selama perkembangan buah. Kekeringan saat fase buah menghambat pengangkutan nutrisi dari tanah ke tanaman. Akibatnya nutrisi yang tersedia di tanah tidak mampu diserap tanaman sehingga perkembangan buah menjadi tidak optimal. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *