Indonesia cocok mengembangkan varietas yang matang sejak muda.

Indonesia cocok mengembangkan varietas yang matang sejak muda.

Lazimnya kurma tumbuh di daerah panas dengan kelembapan rendah. Indonesia tetap berpeluang untuk mengembangkan kurma.

Nilai impor buah kurma Indonesia cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015, menunjukkan nilai impor kurma mencapai 9,99-juta kg senilai US$ 13,18 juta atau sekitar Rp171-miliar. Nilai itu cenderung meningkat setiap tahun. Untuk menekan nilai impor, beberapa pegiat kurma mencari solusi lewat penanaman kurma di Indonesia. Di antaranya Indonesia Date Palm Association (IDPA) yang mengadakan seminar kurma dengan mendatangkan ahli kurma internasional, Prof Dr Abd Basit Oudah dari Oman.

Menurut Basit permintaan kurma dunia memang terus meningkat. Manfaat kurma yang cukup banyak, membuat buah Phoenix dactylifera itu kian dibutuhkan, mulai dari sumber nutrisi hingga alkohol. Buahnya sumber nutrisi yang lengkap, antara lain: gula, vitamin, dan mineral. “Semua orang Arab pasti memakannya setiap hari,” ungkap doktor lulusan University of Al Basra itu. Bahkan Oman, kini juga menanam sejuta pohon kurma. Padahal di sana tumbuh 8,5 juta pohon produktif.

Prof Dr. Abdul Basit Oudah, pakar kurma internasional asal Oman.

Prof Dr. Abdul Basit Oudah, pakar kurma internasional asal Oman.

Mereka mengembangkan kurma di daerah baru, jauh dari pemukiman warga. Dalam budidayanya, mereka menerapkan berbagai teknologi mutakhir untuk memodifikasi lingkungan yang tandus itu agar kurma dapat tumbuh. Mereka memanfaatkan air tanah yang sangat dalam dan sebagian air irigasi dengan memasang pipa yang sangat panjang. Setiap sudut kebun juga dilengkapi kamera closed circuit television (CCTV) untuk memantau kondisi tanaman.

Baca juga:  Putih Berkat Stroberi

Iklim Indonesia
Kurma tumbuh baik di daerah beriklim kering lebih dari 3 bulan dan kelembapan rendah, di bawah 60%, dan suhu 40°C. Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Republik Indonesia, Dr. Ir. Spudnik Sujono K, MM, iklim yang sesuai dengan habitat kurma ada di Wilayah Indonesia timur, yakni Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu ia mendukung penanaman kurma di wilayah itu, meski tidak tertutup bagi daerah lain bila ingin mencobanya.

Fakta kurma dapat berbuah di Indonesia, diungkapkan oleh Alwi Rahmatullah, pegiat kurma di Pekanbaru, Provinsi Riau yang juga ketua panitia seminar. Dari laporan anggota IDPA, kurma berbuah ada di Bangka, Lampung, Bekasi, Sumatera Utara, Riau, Yogyakarta, dan Jawa Barat. Produksi memang belum sebaik di negara-negara Arab. Pohon kurma di Indonesia, buahnya hanya bisa bertahan sampai pada fase khalas atau sekitar 100 hari, setelah itu rontok. Rasanya sepat sehingga tidak begitu disukai masyarakat. Oleh karena itu, perlu mengembangkan varietas yang rasanya sudah manis sebelum buah gugur.

Pegiat kurma dari berbagai daerah di Indonesia, tertantang untuk hasilkan kurma.

Pegiat kurma dari berbagai daerah di Indonesia, tertantang untuk hasilkan kurma.

Lingkungan panas dengan kelembapan rendah menjadi penting pada kurma. Sebab, penyakit sulit berkembang di daerah itu. Tanaman anggota Araceae itu juga tidak luput dari serangan hama dan penyakit. Indonesia mempunyai iklim panas tetapi dengan kelembapan tinggi. Selain itu memiliki curah hujan tinggi minimal 2—3 bulan. Kondisi iklim itu membuat penyakit berkembang biak dengan cepat. Penyakit yang lazim menyerang kurma ialah busuk bunga atau inflorescence rot yang disebabkan oleh Mauginiella sceattae. Penyakit itu dapat merugikan pekebun 50—70%. Pada pohon produktif bisa mengurangi buah hingga 40 kg per tahun. Ada pula penyakit lain yang menyerang buah sebelum matang penuh, yaitu cendawan. Untuk mengatasi masalah-masalah itu, Basit menyarankan untuk mengembangkan varietas yang sesuai dengan lingkungan di Indonesia, yakni dengan menanam varietas yang tahan kelembapan tinggi. Atau varietas yang buahnya manis meski belum matang, contohnya barhee, khalas, dan majhool. Varietas barhee yang paling banyak dikembangkan oleh pekebun di berbagai negara.

Baca juga:  Halal Bihalal Maniak Durian

Tanam biji

Sari kurma, olahan kurma yang banyak dikenal masyarakat.

Sari kurma, olahan kurma yang banyak dikenal masyarakat.

Cara lain ialah mencari varietas baru yang telah beradaptasi dengan lingkungan di Indonesia. Basit, pakar kurma kelahiran Irak 61 tahun silam itu menyarankan untuk menanam bibit dari biji. Setelah tumbuh, perkembangannya diamati dan mencari yang bisa tumbuh dan berbuah dengan baik. “Cara ini memang lama, di Amerika pun diperoleh varietas yang cocok dengan iklim Amerika setelah mencarinya selama 20—25 tahun,” ungkap Basit.

Pekebun-pekebun di Maroko pun menanam kurma dari biji. Tujuannya ialah untuk menghindari penyakit fusarium. Dengan menanam dari biji, mereka kerap mendapatkan individu baru yang tahan cendawan. Menurut Basit, peluang pohon menghasilkan kurma jantan mencapai 52% dan kurma betina 48%. Penanaman 1000 pohon kemungkinan menghasilkan kurma jantan 550 pohon dan betina 450 pohon.

Dari 550 pohon jantan itu, kerap diperoleh 10 tanaman unggul. Adapun dari 450 pohon betina, akan diperoleh 1—2 pohon unggul. Menurut Basit, bibit asal kultur jaringan relatif baru sehingga belum bisa menjadi andalan. Sebab, daya adaptasi di lapangan belum benar-benar teruji. Ia menyebutkan, umur kurma itu sangat panjang, lebih 100 tahun. Pada umur 1—4 tahun, masih tergolong bibit atau tanaman muda. Pada umur 5—10 tahun, tanaman remaja. Setelah lebih 10 tahun, barulah digolongkan kurma dewasa dengan produktivitas mencapai 100 kg/pohon per tahun.

Kondisi lingkungan kurang pas untuk hasilkan kurma yang matang sempurna.

Kondisi lingkungan kurang pas untuk hasilkan kurma yang matang sempurna.

Ada beberapa varietas yang cocok untuk kondisi Indonesia, di antaranya, maktumi yang berkulit cokelat, buah dimakan segar. Selain itu ada sheeshee, varietas asal Arab Saudi, juga enak dimakan segar, dan jabry asal Oman.
Sedangkan varietas yang tahan kelembapan tinggi ialah layli dan khanaizi. Sayangnya khanaizi tidak bisa dimakan segar. Varietas barhee dianggap paling baik, sehingga paling banyak ditanam dan dijadikan induk silangan oleh pemulia kurma. Menurut Basit, penyilangan kurma kerap menjadi kendala sebab tidak semua penyerbukan menghasilkan buah. Hal itu pernah dialami oleh pekebun di Australia.

Baca juga:  Teknologi Hidroponik 4 Negara

Kurma berumur 13 tahun mereka belum pernah berbuah. Mereka pun memanggil Basit untuk membantu mengatasi. Menurut Basit itu terjadi karena varietas yang digunakan tidak cocok dengan lingkungan di Australia. Bila Indonesia ingin mempunyai kurma sendiri, ia menganjurkan untuk menanamnya dari biji. Pohon yang berbuah bijinya ditanam kembali. Di situlah peluang dihasilkan kurma Indonesia. Namun, ia mengharuskan untuk menyeleksi agar diperoleh kurma unggul yang cocok untuk iklim Indonesia. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d