Semut bersarang di bibit tanaman buah. Suhu ideal untuk perkembangan semut, yakni 30-33°C.

Cara menabung indukan semut rangrang di luar ruangan

Pristyono mendekatkan 10 bibit jambu air setinggi 1 m itu di kebunnya sehingga tajuknya menyatu. Area kanopi tanaman menjadi lebih lebar, tetapi posisinya rendah. Perlakuan itu membuat kondisi lingkungan sama seperti pada pohon besar. Peternak di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu mengukur suhu di sela-sela tajuk 32,2-32,9°C dan kelembapan 62-65%. Pengukuran pada pukul 10.00-10.30.

Jika lingkungan sesuai, semut cepat membuat sarang.
Jika lingkungan sesuai, semut cepat membuat sarang.

Kondisi lingkungan itu sama saja dengan di dalam kandang semut milik Pristyono di dekat kebun itu. Ia memanfaatkan bibit jambu air untuk menabung bibit semut. Jika sewaktu-waktu hendak menambah kandang baru, ia mengambil indukan dari pohon jambu itu. Menurut peternak semut sejak 2008 itu Tanaman lain yang dapat dipakai adalah avokad, nangka, mangga, rambutan, dan mengkudu. Pohon-pohon itu berdaun agak lebar, tidak bergetah, dan tajuk agak rapat.

Pakan sendiri

Untuk menabung indukan, Pristyono mengambil dua stoples sarang semut dari kandang peternakannya. Ia kemudian meletakkan sarang itu di atas pot jambu tanpa membuka penutupnya. Semut-semut pun keluar dari stoples lalu naik ke atas pohon dan daun. Kondisi suhu dan kelembapan di lingkungan baru yang sama dengan di kandang, diduga menenangkan kawanan serangga Oecophylla smaragdina itu sehingga tidak melarikan diri meski tinggi pohon kurang dari 1 m.

Bahkan, menurut Pristyono, “Dalam 2-5 hari semut-semut itu sudah membuat sarang baru di daun jambu air itu. Itu tandanya semut cocok dengan lingkungan baru, sehingga mau beraktivitas.” Meski demikian peternak 50 tahun itu tetap memberikan pakan semut berupa ulat hongkong dan air gula—sama dengan pakan semut di kandang.

Baca juga:  Lovebird Baru Seharga Mobil

Ia meletakkan pakan di bawah tajuk. Namun, ternyata air gula tidak berkurang. Semula ayah satu anak itu menduga semut berkurang karena volume air gula tetap. Untunglah semut di sarang tetap banyak dan bahkan jumlah sarang bertambah jadi 5 buah. Ia menduga semut memperoleh minum dengan mengisap air dari daun jambu. Sejak itu ia berhenti menyiapkan air gula. Pakan ulat hongkong tetap diberikan.

Pakan dan minuman akan ditinggalkan semut bila menemukan pakan alami
Pakan dan minuman akan ditinggalkan semut bila menemukan pakan alami

Di alam semut memakan binatang yang dianggap sebagai musuhnya. Menurut karyawan swasta itu, semua binatang yang mendekati sarang seperti jangkrik dan ulat dianggap musuh, sehingga semut menyerangnya.

Cegah pindah

Beternak semut rangrang di pohon sebenarnya bukan hal baru. Beberapa peternak seperti Hardjanto di Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah dan drh Budi Pramono (Kaliurang, Yogyakarta) pernah melakukannya pada 2006. Budi Pramono, misalnya, meletakkan sebuah sarang semut rangrang di cabang atas pohon avokad setinggi 2 m. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu mengikat sarang dengan tali rafia. Ia lantas melumuri batang pokok dengan pelumas mesin agar semut tak pergi.

Peneliti itu memberikan pakan berupa ikan cere di atas mangkuk yang terikat di cabang. Di sampingnya juga disediakan mangkuk berisi air. Menurut Pramono dalam sepekan semut-semut sudah membuat 5 sarang lain. Ia pernah mengecek dengan membuka daun penyusun sarang, terdapat kroto di dalamnya. “Intinya kalau tersedia pakan, semut akan rajin bereproduksi,” ujar Pramono.

Untuk menghindari semut pindah, maka peternak harus menjaga kondisi lingkungan mikro. Suhu dan kelembapan, misalnya harus dijaga tetap hangat. Kalau tidak, serangga sosial itu akan berpindah. Pada suhu 270C semut merasa tak nyaman sehingga terdorong untuk meninggalkan tempat itu. Dari pengamatan Pristyono, semut akan membuat sarang mengikuti arah sinar matahari. Semut cenderung membuat sarang di lintasan sinar matahari yang memancar dari arah timur sehingga menerima sinar matahari lebih banyak.

Baca juga:  Rahasia Menaikkan Produksi Kroto 100%
Bibit di kandang dapat dipindahkan ke alam untuk selanjutnya diambil kembali saat dibutuhkan.
Bibit di kandang dapat dipindahkan ke alam untuk selanjutnya diambil kembali saat dibutuhkan.

Ketika sarangnya terhalang daun atau ranting, sehingga tidak menerima sinar matahari, mereka akan bermigrasi. Pada musim kemarau, semut tidak akan membuat rumah di pinggir tajuk. Alasannya suhu di tepi tajuk lebih tinggi membuat semut kepanasan. Serangga anggota famili Formicidae itu membuatnya di tengah. Sebaliknya pada musim hujan ia buat sarang di pinggir agar tidak lembap.

Oleh karena itulah sebaiknya peternak meletakkan pohon di tempat terbuka sehingga selalu hangat. “Kalau di tempat baru suhu hangat, dia tidak akan berimigrasi,” tutur Pristyono. Kebiasaan itu sama saja dengan budidaya semut di dalam kandang. Ketika suhu dingin mereka cenderung meninggalkan sarang dan berkumpul ramai-ramai di satu sarang. Dari 10 stoples akan berkumpul hanya dalam 2-3 stoples. Bila tempat lembap dalam jangka panjang, semut tidak akan menghasilkan zat feromon.

Zat feromon berguna untuk mengenali sesama jenis. Tanpa zat feromon, mereka tidak saling mengenali. Bahkan menyebabkan semut menjadi kanibal dengan saling menyerang hingga mati. Menurut Pristyono semut berkembang biak secara aktif di lingkungan yang hangat dengan suhu 30-33°C. Pada kondisi itu, semut aktif bergerak dan mudah berpindah karena lingkungannya sudah cocok.

Kendala beternak semut di bibit tanaman ialah air. Karena akar tanaman tidak tembus ke tanah sehingga tanaman harus disiram setiap hari. Semut yang tidak mendapat minuman akan lari ke pohon lain yang ketersediaan airnya lebih baik. Pristyono menyarankan untuk membuat saluran air dari plastik di tanah di sekeliling pohon untuk mencegah semut lari.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d