Penyaringan menjadi bagian vital akuaponik. Kangkung bongsor berkat sistem penyaringan yang baik.

Kangkung segar dengan daun hijau lebar dan batang hampir sebesar ibu jari tumbuh subur berjajar. Meski daun lebar, batang yang bongsor kokoh menopang sehingga tanaman tidak rebah ke samping. Kangkung jumbo itu bukan tumbuh di tanah ataupun tepi saluran air, melainkan di pipa polivinil klorida (PVC) di atas genting sebuah rumah. Selain kangkung, ada bayam merah, selada keriting, dan cabai rawit yang tumbuh di tempat berbeda.

Air dari kolam ikan mampu menyokong pertumbuhan cabai sampai berbuah lebat.
Air dari kolam ikan mampu menyokong pertumbuhan cabai sampai berbuah lebat.

Tanaman-tanaman itu memperoleh air dari 6 bak berbeda ukuran. Bak besar, berbentuk silinder bergaris tengah 2,5 m berbahan fiber, berisi 200 gurami, 400 nila, dan 10 ikan mas. Ke-4 bak lain berukuran 2 m x 1 m berlapis terpal berisi total 2.000 lele. Sementara di teras dekat garasi, sebuah tangki Intermediate Bulk Container (IBC) berfungsi sebagai kolam berisi 250 lele dan 10 patin.

Aerob

Setiap kolam dilengkapi sistem penyaring alias filterisasi berupa 2 drum plastik berkapasitas 200 l sebagai sistem penyaring. Drum pertama berfungsi sebagai tangki mineralisasi.

“Prinsipnya memperlambat laju air sehingga kotoran berat mengendap,” kata Tengku Hazmi, pemilik rangkaian akuaponik di Gunungputri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Fungsi tangki mineralisasi itu sebagai penyaring mekanis.

Komponen tangki nitrifikasi di tempat Tengku Hazmi berfungsi memperluas permukaan tumbuh mikrob.
Komponen tangki nitrifikasi di tempat Tengku Hazmi berfungsi memperluas permukaan tumbuh mikrob.

Air dari kolam memasuki drum melalui pipa PVC berukuran 2 inci yang menghubungkan dinding kolam dengan dinding drum di bagian dekat dasar. Di dalam drum, pipa itu membelok tegak lurus ke atas hingga 3 cm di bawah tutup. Sebuah pipa berdiameter 4 inci yang melekat ke tutup drum “menyarungi” pipa saluran masuk itu dan memanjang sampai 15 cm dari dasar.

Kemudian air dari kolam ikan menyembur masuk, membelok naik dalam pipa 3 inci, menabrak tutup drum, lalu berbalik ke dasar drum melalui pipa 4 inci. Setelah hampir mencapai dasar, air baru naik kembali dan mengisi seluruh drum. Sistem itu memperlambat kecepatan air.

Perlambatan itu memberikan waktu bagi partikel-partikel besar dan berat seperti gumpalan kotoran ikan untuk turun ke dasar drum.

Baca juga:  Bisnis Sayuran Perkotaan

Adapun kotoran yang lebih ringan bisa mengapung di permukaan air dekat tutup drum. “Partikel terhalus ada di tengah,” ungkap Hazmi. Menurut praktikus akuaponik di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rusdy Hidyatmojo, proses mineralisasi vital lantaran kandungan sekresi ikan dominan unsur nitrogen, berupa urea dan amonia.

“Sejatinya kotoran ikan dalam air kolam lengkap mengandung 13 macam nutrisi makro dan mikro,” kata Rusdy.

Rusdy Hidyatmojo, praktikus akuaponik di Bantul, Yogyakarta.
Rusdy Hidyatmojo, praktikus akuaponik di Bantul, Yogyakarta.

Meski demikian kotoran ikan tidak cukup mengandung besi (Fe), kalsium (Ca), dan kalium (K). Di sanalah peran proses mineralisasi, mengurangi dominasi unsur nitrogen agar tanaman tidak keracunan.

Penyaringan mekanis dalam tangki mineralisasi terjadi melalui pemecahan protein dalam sisa pakan menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Proses pemecahan terjadi lantaran perlambatan aliran, tumbukan dengan dinding drum maupun pipa. Selain itu proses pemecahan jika karena pengadukan akibat terjadinya pusaran.

Kekurangan mineral

Air termineralisasi mengalir ke dalam tangki nitrifikasi di sebelah tangki mineralisasi. Tangki nitrifikasi, berisi bioball, bola-bola mainan, dan lembaran plastik sisa potongan gelas air mineral yang Hazmi gunakan sebagai pengganti netpot. “Bahan-bahan itu menjadi tempat tumbuh mikrob pengurai,” ujar ayah 4 anak itu.

Maklum, bakteri memerlukan permukaan keras untuk menempel. “Bakteri nitrifikasi memerlukan oksigen (aerob) dan tidak suka cahaya,” kata Rusdy Hidyatmojo. Untuk itu Hazmi memasang aerator yang lazim digunakan dalam akuarium untuk memasok udara segar ke dalam tangki.

Proses nitrifikasi adalah penguraian amonia menjadi nitrat atau nitrit. Amonia berasal dari urine dan feses ikan serta sisa pakan yang tidak termakan dan terurai di dasar kolam.

Cara Kerja Penyaringan Mekanis dan Biologis.
Cara Kerja Penyaringan Mekanis dan Biologis.

Proses nitrifikasi diperlukan lantaran tanaman hanya dapat menyerap unsur nitrogen dalam bentuk ion, baik amonium (NH4+), nitrat (NO3-), maupun nitrit (NO2-). Setelah melalui growbed—meja tanam—unsur nitrogen terserap tanaman sehingga kandungan nitrogen dalam air aman untuk ikan.

Itu sebabnya nitrifikasi kerap disebut biofiltrasi, yang artinya penyaringan secara biologis oleh mikrob.

Menurut Rusdy biofiltrasi berefek ganda, menyediakan nutrisi penting bagi tanaman sekaligus mendukung kehidupan ikan. Proses itu menyempurnakan penguraian urea dan amonia yang bersifat racun bagi ikan. Air hasil penyaringan itu ideal untuk tanaman. Buktinya tanaman subur dan lebat.

Baca juga:  Tiga Semangka Membuka Pasar

Hasil pengukuran Hazmi menunjukkan, parameter air dari filter mempunyai tingkat keasaman 6,8—cocok untuk pertumbuhan tanaman.

Nyamuk berkumpul dan bertelur di drum sifon, menyediakan pakan tambahan bagi ikan.
Nyamuk berkumpul dan bertelur di drum sifon, menyediakan pakan tambahan bagi ikan.

Dari penyaringan, air memasuki sepasang drum di atas genting. Drum itu berfungsi sebagai tangki pengumpul yang menyatukan air dari ke-6 kolam sebelum mengalirkan ke meja tanam. Aliran air dikendalikan oleh sistem sifon dalam drum. Dengan sifon, kecepatan aliran air berubah berkala sesuai ketinggian kolom air di meja tanam

Jentik nyamuk

Hazmi membuktikan pentingnya sistem penyaringan. Semula ia langsung mengalirkan air dari kolam ke tanaman. Hasilnya, tanaman kekuningan dan kerdil. Menurut Rusdy itu lantaran tanaman terlalu banyak menyerap amonium sehingga kekurangan mineral.

Maklum, bobot molekul kalium mencapai 40 g per molekul sementara amonium hanya 16. Sudah begitu, muatan keduanya seimbang.

Akibatnya, amonium terserap banyak sementara kalium tidak terambil. Setelah mempelajari berbagai literatur, alumnus Politeknik Negeri Jakarta itu pun membuat penyaring. Drum sifon yang berisi air bersih menarik nyamuk berkumpul dan bertelur. Namun, itu tidak membuat Hazmi resah.

“Jentik nyamuk terbawa masuk ke dalam kolam dan menjadi pakan tambahan bagi ikan,” ungkap anak ke-3 dari 6 bersaudara itu.

Selain pelet, ia menambahkan kiambang Azolla pinnata untuk pakan ikan. Sistem penyaringan yang Hazmi gunakan hampir sama dengan Sri Ika Yunisilawati di Pondokaren, Tangerang, Provinsi Banten. Ika juga menggunakan penyaringan 2 lapis dengan tangki mineralisasi dan nitrifikasi. Bedanya, Ika tidak menggunakan tangki sifon, melainkan hanya tangki pengumpul alias sump tank.

Diagram Sistem Akuaponik ala Tengku Hazmi.
Diagram Sistem Akuaponik ala Tengku Hazmi

Fungsinya mengumpulkan air dari penyaring sebelum mengalir ke tanaman. Ibu 2 anak itu menanam kangkung, bayam merah, dan daun poko di pelataran depan kediamannya. Ia mempunyai 2 kolam ikan berisi lele dan nila serta 1 akuarium berisi ikan hias kecil termasuk sapu-sapu.

Pelaku akuaponik di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Syafei Muhammad, menggunakan sistem penyaringan serupa.

Bedanya, Syafei menambahkan probiotik ke dalam tangki nitrifikasi. Probiotik berbahan sayuran, buah, umbi, atau rumen sapi itu bertujuan meningkatkan populasi mikrob nitrifikasi. Pria yang membuat akuaponik sejak 2 tahun lalu itu langsung menambahkan probiotik setelah menyadari tanamannya menguning lantaran kekurangan nutrisi.

Diagram Sistem Akuaponik ala Sri Ika Yunisilawati.
Diagram Sistem Akuaponik ala Sri Ika Yunisilawati.

Menurut periset di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Bogor, Eri Setiadi SSi MSc, penyaring vital untuk mempertahankan kondisi air agar sesuai kebutuhan ikan dan tanaman. Maklum, akuaponik terdiri dari 2 komponen, yaitu ikan dan tanaman. Namun, “Ikan paling rentan perubahan kondisi air. Penyaringan tidak sempurna bisa mematikan ikan,” ungkap Eri.

Idealnya, air bersuhu 25—26°C dengan pH 6—7. Sementara kadar nitrit air yang kembali ke kolam ikan idealnya 0,01—0,25 ppm. Penyaringan menjaga akuaponik berfungsi optimal dengan sayuran dan ikan sama-sama tumbuh baik dan selamat sampai waktunya panen.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d