Emily Sutanto secara periodik mengecek kondisi lahan pertanian organik.

Emily Sutanto secara periodik mengecek kondisi lahan pertanian organik.

Mendampingi para petani organik, mengurus sertifikat, lalu memasarkan produk organik ke pasar dunia.

Seratus ton beras dan sayuran terkirim ke mancanegara setiap tahun. Sebagian besar, 90%, adalah beras organik asal pelosok Tasikmalaya, Jawa Barat. Sisanya berbagai jenis sayuran asal lereng Gunung Merbabu, Kotamadya Salatiga, Jawa Tengah. Beras terdiri atas beras putih, merah, dan hitam hasil budidaya organik dengan metode System of Rice Intensification (SRI). Kualitas beras dan sayuran itu diakui Institute for Marketecology (IMO)—lembaga sertifikasi organik asal Swiss.

Salah satu komoditas hasil budidaya petani yang diekspor Emily Sutanto adalah tomat.

Salah satu komoditas hasil budidaya petani yang diekspor Emily Sutanto adalah tomat.

Dengan kemasan menarik, sedikit orang yang tahu bahwa itu beras asal Tasikmalaya. Itu cara Emily Sutanto menembus pasar mancanegara. Ia mengirim beras dan sayuran organik ke Asia (Malaysia dan Singapura), Eropa (Jerman, Belanda, Belgia, dan Italia), Amerika Serikat, dan Australia. Emily paham, pasar negara maju tidak hanya menghendaki makanan sehat. Penampilan dan kemasan pun salah satu syarat agar bisa diterima.

Jerat tengkulak
Kualitas terbaik. Itu berkebalikan dengan kebanyakan konsumen di Indonesia yang, “Lebih memilih harga murah,” kata Emily. Sejatinya sejak lama Emily prihatin dengan produk pertanian di tanah air.

Setiap kali ia masuk gerai pasar modern, tidak pernah ia menjumpai produk dari Indonesia terpampang di rak pajang. Pada 2007, seorang relasi mengisahkan kondisi petani organik di Tasikmalaya. Meskipun menanam secara organik dan mengadopsi metode SRI, mereka terjerat tengkulak.

Petani sayuran organik di Salatiga, Jawa Tengah.

Petani sayuran organik di Salatiga, Jawa Tengah.

Sebagai pengikat, tengkulak menjamin kebutuhan hidup petani dan keluarganya sebelum panen. Semula Emily tidak percaya bahwa mereka benar-benar berorganik. “Meski diadopsi luas di negara maju, kesadaran berorganik saat itu masih langka di Indonesia. Apalagi ada yang menerapkan dalam skala massal,” ungkapnya mengenang.

Baca juga:  Seri Walet 212: Menjulang Berkat Kain

Untuk memastikan kebenarannya, Emily memutuskan datang langsung ke Tasikmalaya. Di sana ia melihat sendiri bahwa petani benar-benar menerapkan budidaya organik murni. Kelemahannya, mereka sekadar mengantongi hasil uji laboratorium. Padahal, pasar mencanegara menghendaki sertifikat dari lembaga sertifikasi organik terkemuka.

Selama 2 tahun, Emily bolak-balik Autralia-Tasikmalaya untuk mendampingi kelompok tani Simpatik—gabungan petani organik di Tasikmalaya. Akhirnya pada 2009, beras Sunria—label miliknya—menembus pasar Amerika Serikat setelah mengantongi sertifikat organik dari lembaga sertifikasi internasional. “Itu produk tersertifikasi organik internasional pertama di Indonesia,” ujarnya.

Pembeli dari Belgia menikmati kelapa muda ketika berkunjung ke Tasikmalaya.

Pembeli dari Belgia menikmati kelapa muda ketika berkunjung ke Tasikmalaya.

Amerika Serikat salah satu pasar tersulit dunia. Karakternya sebagai penyuka tantangan membuat Emily bertekad menembus pasar negara Abang Sam itu. Kebetulan, ia kerap berkonsultasi tentang budidaya organik ke lembaga Cornell International Institute for Food, Agriculture, and Development (CIIFAD). Lembaga bentukan Universitas Cornell, Amerika Serikat, itu memerhatikan keamanan pangan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat di berbagai negara. Melalui CIIFAD Emily berjumpa pembeli pertamanya.

Ketat
Sebanyak 18 ton (1 kontainer) beras terkirim ke Amerika Serikat. Setelah itu, pasar negara lain terbuka satu per satu. Kesuksesan menembus pasar ekspor membuat Emily tergerak mengajak lebih banyak petani untuk menanam sayuran dan padi secara organik. Namun, dari sekitar 2.000 petani, hanya 500 yang bergabung. Keberhasilan mengantongi sertifikat internasional memantik kelompok tani lain seperti Aliansi Petani Padi Organik Boyolali untuk mengikutinya.

Sejak itu Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli) mengadopsi pola tanam SRI. Setelah melakukan pola organik, hasil panen dari 6 ton menjadi 8 ton gabah kering panen (GKP). Pada 2010, Appoli menjalin kontak dengan Emily. Melalui pengawasan ketat selama 2 tahun, lahan milik lebih dari 3.000 petani di 9 kecamatan itu akhirnya mengantungi sertikat IMO.

Kemasan indah memikat konsumen mancanegara.

Kemasan indah memikat konsumen mancanegara.

Selanjutnya Emily mengirim beras dari lereng Gunung Merbabu itu ke Belgia. Setahun terakhir, Emily juga mengekspor 50 jenis sayuran organik asal Kota Salatiga, Jawa Tengah. Sejatinya ia terpikir menerjuni ekspor produk sayuran sejak 2013. Namun, tidak mudah mencari produsen dan pemasok yang jujur dan serius berorganik. Pada 2016, rekan Emily bertemu kelompok tani dalam sebuah seminar.

Baca juga:  Tanam Stroberi Gaya Jepang

Perwakilan kelompok itu lantas menawarkan produk mereka. Untuk memastikan, Emily langsung datang ke lahan. Terbukti, mereka mampu memproduksi wortel, terung, paprika, dan berbagai jenis sayur lain secara organik. “Karakter petani di sana jujur dan polos tapi benar-benar ingin maju,” kata Emily. Itu membuatnya makin bersemangat menjalin kerja sama. Tidak hanya beras dan sayuran, Emily Sutanto juga mengekspor gula aren organik dan garam dari Tasikmalaya.

Masyarakat negara maju yang sadar kesehatan membatasi asupan gula tebu dan beralih ke gula berbasis tanaman palma seperti kelapa atau aren. Musababnya, gula palma lebih aman bagi kesehatan, terutama untuk penderita diabetes mellitus. Gula aren untuk ekspor pun mesti memenuhi standar ketat, terutama bebas dari bahan pengawet. Namun, yang paling membuat Emily antusias adalah produksi garam.

Garam panggang bambu atau bamboo roasted salt dalam kemasan siap ekspor.

Garam panggang bambu atau bamboo roasted salt dalam kemasan siap ekspor.

Ia gemas dengan impor garam, sementara Indonesia mempunyai ribuan kilometer garis pantai yang bisa memproduksi garam. Nyatanya, garam laut dari tanah air justru digemari konsumen negara maju. Tentu saja bukan garam kasar biasa yang ia tawarkan. Terinspirasi cara etnis Sunda memasak ayam dalam potongan bambu, ia melakukannya untuk memanggang garam. Hasilnya produk yang ia beri nama bamboo roasted salt.

Beras organik dalam kemasan siap ekspor.

Beras organik dalam kemasan siap ekspor.

“Garam itu mampu menguatkan rasa bumbu-bumbu lain sehingga cita rasa makanan meningkat,” ungkap alumnus program Master Manajemen Internasional Universitas Bond, Queensland, Australia, itu. Terbukti, garam itu digandrungi pembeli di Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa. Melalui ekspor produk organik, Emily Sutanto mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu berkiprah tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain. (Argohartono Arie Raharjo)

Baca juga:  Serit Kita Juara Dunia

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d