Memperkenalkan kucing tangkaran melalui kontes dan jejaring media sosial.

Mengikuti kontes merupakan salah satu cara untuk mempromosikan kucing hasil tangkaran.

Mengikuti kontes merupakan salah satu cara untuk mempromosikan kucing hasil tangkaran.

Tiga tahun terakhir Muhammad Taufiq Hermawan senang menghadiri pertemuan antarkomunitas penggemar kucing. “Semakin banyak yang mengenal kita, semakin banyak pula peluang bertambahnya konsumen,” ujar Taufiq yang mengelola Hermawan Cattery di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Dari sekadar hobi, kini pria 29 tahun itu menangkarkan maine coon.

Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, pada 31 Agustus 1986 itu mengelola 12 maine coon terdiri atas dua induk pejantan, lima induk betina, dan sisanya anakan. Saat menghadiri pertemuan komunitas penggemar kucing itulah ia kerap kali menemukan calon pengadopsi—orang yang akan mengadopsi kucing hasil tangkarannya setelah menyerahkan sejumlah uang tertentu sebagai mahar.

Seleksi pengadopsi

Paramita Suri (berkerudung) saat berpartisipasi dalam kontes skala nasional.

Paramita Suri (berkerudung) saat berpartisipasi dalam kontes skala nasional.

Taufiq sudah menjual 5—6 maine coon dengan harga Rp5-juta—Rp8-juta per ekor. Para pengadopsi berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jakarta, dan Sulawesi. Selain itu ia juga sering mengikuti kontes kucing. Menurut Taufiq manfaat mengikuti kontes adalah semakin banyak orang yang mengetahui kualitas kucing hasil tangakarannya. Apalagi jika kucing hasil tangkarannya meraih juara prestisius sehingga menaikkan nilai adopsi.

Pasangan Endra Hermawan dan Ulfa Juliaty Herman juga gemar mengikuti kontes kucing untuk memperkenalkan hasil tangkarannya. Selain itu pengelola Endefa Maine Coon Cattery di Yogyakarta mengunggah foto kitten alias anakan kucing siap adopsi di media sosial. Melepas kitten untuk adopsi menjadi keharusan demi kelangsungan hobi mereka memelihara kucing.

Namun, pasangan muda itu tidak sembarangan menerima calon pengadopsi. Endra biasanya menyelidiki lokasi dan bentuk rumah calon pengadopsi. Dari sana ia menyimpulkan kemampuan finansial calon pengadopsi memelihara maine coon. Setelah yakin dengan kemampuan calon pengadopsi, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia itu mengizinkan pengadopsi membawa kitten.

Baca juga:  Hepar Tanpa Radang

Media sosial

Ulfa Juliaty Herman beserta suami Endra Hermawan, pemilik Endefa Maine Coon Cattery di Yogyakarta, memanfaatkan jejaring media sosial untuk memperkenalkan maine coon koleksinya.

Ulfa Juliaty Herman beserta suami Endra Hermawan, pemilik Endefa Maine Coon Cattery di Yogyakarta, memanfaatkan jejaring media sosial untuk memperkenalkan maine coon koleksinya.

Pemanfaatan teknologi informasi tampaknya amat lazim bagi para penangkar kucing ras saat mencari calon pengadopsi. Penangkar kucing di Kramatjati, Jakarta Timur, Paramita Suri, mengelola situs untuk memperkenalkan kucing persia hasil tangkarannya yang siap adopsi. Cara lain rajin mengikuti kontes kucing. Lewat kedua cara itu Paramita mendapat banyak pengadopsi.

Paramita juga memilih pengadopsi berkomitmen tinggi. Itu sebabnya ia hanya melepas 1—2 kucing dalam sebulan. Setiap kucing yang siap adopsi dalam kondisi sehat, sudah vaksin, bebas cacing, dan bersertifikat. Paramita menuturkan harga setiap kucing bervariasi bergantung pada kualitas. Ia memberikan harga Rp15-juta hingga Rp25-juta untuk kucing kualitas kontes.

“Kucing kualitas kontes justru yang paling banyak dicari meskipun harganya mahal,” ujar pemilik Prabu Cattery itu. Penangkar yang juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tangkarannya adalah Olivia Bertin di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Penangkar spesialis maine coon itu getol mengunggah foto-foto anak kucing di halaman jejaring media sosial sejak 2014.

Malahan, ia membuat sebuah situs bersama rekannya yang mengerti seluk-beluk teknologi informasi. Sang rekan membantu mempromosikan situs web milik Olivia dengan teknik search engine optimization (SEO). “Itu adalah teknik untuk menempatkan sebuah situs web pada posisi teratas pada mesin pencari seperti Google berdasarkan kata kunci tertentu yang ditargetkan,” ujarnya.

Olivia Bertin menggunakan teknik Search Engine Optimization (SEO) untuk memprompsikan situs web pribadinya.

Olivia Bertin menggunakan teknik Search Engine Optimization (SEO) untuk memprompsikan situs web pribadinya.

Pemilik Y-Live Cattery itu menuturkan situs yang menempati posisi teratas pada hasil pencarian memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pengunjung. Cara itu cukup berhasil. Banyak calon pengadopsi yang menghubunginya dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Dengan upaya itu ia bahkan pernah melayani pembelian dari pehobi kucing di Brunei Darussalam.

Baca juga:  Martha Tilaar dan Kesuburan Perempuan

Lain lagi strategi Rio Boaz Wibowo mencari calon pengadopsi kucing. Pemilik Sweet Robo Cattery di Yogyakarta itu menempatkan cattery satu lokasi dengan pet shop miliknya. Rio memilih bengal sebab berperangai lincah dan sedikit ‘liar’. Ia membuka penawaran adopsi ketika kitten berumur 1 bulan.

Ia menjual 2 kelas, pedigree dan nonpedigree dengan harga Rp15-juta—Rp35-juta per ekor. “Harga kucing pedigree lebih mahal, apalagi kalau kelas show,” ujarnya. Mayoritas cattery bersedia melepas kitten jika populasinya berlebih atau menemukan pengadopsi yang sanggup memberikan kasih sayang setimpal. “Kucing tetaplah makhluk hidup yang butuh makan, tempat tinggal layak, dan perawatan,” ujar Abu Saiful, penangkar di Jakarta Timur. (Andari Titisari/Peliput: Argohartono Arie Rahardjo, Bondan Setyawan, Imam Wiguna, dan Muhammad Fajar Ramadhan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments