Dengan mengubah paradigma, PT Bina Guna Kimia memberikan solusi pertanian Indonesia yang lebih berkelanjutan.

Indonesia negara agraris yang memiliki potensi sumber daya sangat besar.

Indonesia negara agraris yang memiliki potensi sumber daya sangat besar.

Hingga kini Furadan masih menjadi insektisida andalan petani. Insektisida itu diluncurkan pada 40 tahun silam, berbahan aktif karbofuran. Manfaat insektisida granular itu efektif menghalau penggerek batang dari fase vegetatif hingga generatif. Meski berumur puluhan tahun, keefektifan Furadan masih jempolan. “Furadan sudah dikenal lebih dari 10-juta petani,” ujar Manajer Pemasaran PT Bina Guna Kimia, Dudy Kristyanto.

PT Bina Guna Kimia atau yang lebih dikenal dengan FMC—kepanjangan dari Food Machinery and Chemical—terus berinovasi menghasilkan pestisida berkualitas tinggi. FMC didirikan oleh John Bean di Amerika Serikat pada 1883. Kala itu perusahaan bergerak di bidang pembuatan tangki pertanian. Perusahaan juga sempat menjadi industri pengalengan makanan. Pada dekade 1970, FMC memperkenalkan produk ke Indonesia. FMC juga menggandeng PT Parama Bina Tani untuk memenuhi persyaratan pemerintah.

Pabrik formulasi pestisida PT Bina Guna Kimia berlokasi di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pabrik formulasi pestisida PT Bina Guna Kimia berlokasi di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Produk besutan FMC lainnya adalah pestisida golongan piretroid seperti Arrivo, Bestox, dan Marshal. Ada pula Pyzero, herbisida pengendali gulma berdaun sempit. Selain itu ada Marshal 200 SC yang mampu mengendalikan penggerek batang, wereng cokelat, dan walang sangit.

Nutrisi tanah
Marshal 200 SC resmi terdaftar sebagai hama walang sangit. Serangan hama itu berupa tusukan yang dapat membuat bulir padi menjadi hampa. “Total produk kami lebih dari 30 item, yang terdiri atas pestisida dan pupuk,” ujar Dudy. Sejak 2014 FMC mendirikan divisi baru yakni Plant Nutrient Technology (PNT) yang fokus memproduksi penyubur tanaman. Itu paradigma baru lantaran biasanya perusahaan pestisida berbicara mematikan organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Melalui PNT kami berusaha menjaga kehidupan organisme dan menyuburkannya,” ujar alumnus Teknik Pertanian Lingkungan, Bonn University, Jerman, itu. FMC memproduksi penyubur setelah melihat fakta semakin merosotnya produksi pertanian. Itu menandakan kondisi tanah yang tidak lagi ideal lantaran bahan organik menipis. Kandungan organik tanah di Indonesia hanya 1%. Idealnya, unsur organik dalam tanah sebesar 3%.

Dudy Kristyanto, marketing manager PT Bina Guna Kimia.

Dudy Kristyanto, marketing manager PT Bina Guna Kimia.

Pada dasarnya FMC melihat pertanian secara menyeluruh. Tidak hanya yang tampak hijau di atas tanah, tetapi juga memperhatikan kondisi di bawah tanah. Penggunaan nutrisi bertujuan menjaga agar pertanian berkelanjutan. “Jangan sampai tanah semakin rusak,” ujar Dudy. Menurut Dudy dengan penambahan nutrisi, unsur hara untuk tanaman tersedia lebih lama. Misalnya saja Microferti Shield sebagai konsentrat penghemat pupuk, sehingga lebih efisien dalam penggunaan.

Baca juga:  Strategi Jempol

Produk lain misalnya Boom Flower. Penggunaan Boom Flower mampu meningkatkan produksi cabai. Semula frekuensi petik hanya 15 kali menjadi 20—30 kali petik. Artinya waktu panen lebih lama sehingga menguntungkan petani. Boom Flower menggunakan teknologi nitrobenzena aromatik dan terdaftar di Kementerian Pertanian sebagai pupuk mikro. Inovasi itu merupakan komitmen FMC membangun pertanian Indonesia. Apalagi Indonesia negara agraris yang memiliki potensi sumber daya sangat besar.

Pertanian berkelanjutan
Produk pertama yang diperkenalkan kepada para petani adalah Furadan. Pada 1994 FMC melakukan joint venture dengan PT Bina Guna Kimia. Komitmen FMC membangun pertanian Indonesia terus tumbuh sampai saat ini. “Pangan adalah suatu hal yang selalu dibutuhkan, bagaimana tetap menyediakannya secara berkesinambungan,” kata Dudy. Pertanian berkesinambungan mesti memperhatikan banyak faktor.

Ragam produk pestisida dan pupuk FMC.

Ragam produk pestisida dan pupuk FMC.

Misalnya saja keamanan pangan dari residu pestisida sintetis. Sebagai produsen pestisida, FMC selalu mengikuti aturan baik dari pemerintah maupun internasional. Apalagi sekarang pasar menuntut pestisida atau pupuk yang efektif tetapi ramah lingkungan. Oleh sebab itu FMC selalu memperbarui produknya agar sejalan dengan perkembangan zaman. Contoh pemutakhiran produk melalui pembenah tanah alias Mikroferti Magnet.

Produk berbasis karbon itu berisi asam humat, asam fulvat, humin, dan karbohidrat yang berperan membenahi tanah sekaligus sebagai pupuk organik. Hanya dengan 10 liter per hektare setara 30 ton pupuk kandang. “Sangat efisien dengan harga terjangkau,” tutur lelaki penggemar musik cadas itu. Harga terjangkau itu menjadi salah satu andalan FMC. Untuk aplikasi 10 liter pembenah tanah itu, petani hanya perlu membelanjakan Rp2,5-juta.

Proses produksi pestisida FMC.

Proses produksi pestisida FMC.

Itu jauh lebih ekonomis daripada 30 ton pupuk kandang kambing yang harganya Rp1.000 per kg—totalnya Rp30-juta. Untuk memastikan petani mudah memperoleh produk mereka, FMC menerapkan pola pemasaran berjenjang. Produk dari pabrik diedarkan ke distributor, subdistributor, pengecer hingga sampai ke petani. Model pemasaran seperti itu menjadikan penjualan menjadi lebih efektif.

Pendampingan
Dalam satu tahun FMC dapat memproduksi 40-ribu ton bahan butiran, lebih dari 1.000 ton bahan cair, dan sekitar 500 ton tepung. Produksi sebanyak itu sebagian besar untuk memenuhi pasar dalam negeri. Selain pasar domestik, FMC juga memasarkan produknya ke luar negeri seperti Australia. Bahan baku produk berasal dari Amerika Serikat, Tiongkok, dan India.

FMC memformulasikan bahan baku itu di pabrik yang berlokasi di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Perusahaan itu menganalisis bahan aktif di laboratorium, menguji stabilitas, memformulasikan, mengemas dalam kemasan siap jual, lalu mendistribusikan. Cara itu lebih efisien dibandingkan dengan mengimpor langsung pestisida dalam kemasan siap jual.

Baca juga:  Salak Rival Asam Urat

Dalam setahun, FMC hanya meluncurkan 2 produk baru atau lebih baik pupuk maupun pestisida. Maklum, proses menghasilkan setiap produk baru membutuhkan minimal 2 tahun. Itu belum termasuk proses pengujian sebuah molekul baru yang bisa menghabiskan waktu hingga 5 tahun. Proses pengujiannya dilakukan di Amerika Serikat. Sudah begitu, waktu selama itu pun tidak menjamin produk baru itu bakal lolos uji.

PT Bina Guna Kimia memberikan pelatihan penanganan produk perlindungan tanaman secara aman dan bijak.

PT Bina Guna Kimia memberikan pelatihan penanganan produk perlindungan tanaman secara aman dan bijak.

“Bisa saja setelah pengujian gagal. Senyawa baru itu pun tidak jadi diproduksi massal,” kata Dudy. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang agrokimia, FMC menyadari jika pestisida yang dihasilkan bersifat racun bagi makhluk hidup. Apalagi penggunaan pestisida dengan dosis dan frekuensi yang tidak sesuai anjuran dapat menyebabkan organisme pengganggu menjadi kebal.

Untuk itulah, “Kami mengawal dengan memberikan pelatihan kepada petani,” kata Dudy. Pelatihan itu berupa penanganan produk perlindungan tanaman secara aman dan bijak. Hal itu mencakup antara lain penjelasan pestisida, bahaya, penanganan, hingga cara mengatasi paparan secara medis. Petani tidak hanya diajari teori, tetapi juga diajarkan praktik aplikasi pestisida yang baik.

Dudy menuturkan, “Dalam setahun kami melatih 20.000—30.000 petani.” Ia juga kerap menyarankan kepada petani agar menggunakan bahan aktif berbeda agar hama tidak resisten. Bila terdapat indikasi kekebalan hama, dianjurkan tidak menggunakan bahan aktif itu selama 2 tahun atau 4 kali musim tanam.

Meningkatkan produktivitas
FMC menerapkan strategi pemasaran, bahkan sebelum meluncurkan produk. “Kami memperkirakan 50—60% arah pasar yang dituju sebelum produk keluar,” ujar Dudy. FMC mengatur waktu yang tepat untuk meluncurkan produk dengan memperhatikan tingkat kebutuhan petani. Oleh sebab itu konsep dan strategi yang digunakan harus tepat agar komersialisasi efektif.

Penggunaan pupuk mikro mampu meningkatkan produksi cabai.

Penggunaan pupuk mikro mampu meningkatkan produksi cabai.

Salah satu kendala yang kerap dihadapi di lapangan adalah jumlah petani yang semakin sedikit. “Dalam enam tahun terakhir jumlah petani menurun 50%,” katanya. Petani yang semakin berkurang berimbas pada penggunaan sarana produksi pertanian yang menurun. Meski jumlah petani semakin berkurang, FMC tetap optimis jika bisnis agrokimia akan terus berkembang.

Untuk itu FMC melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi. Strategi intensifikasi dilakukan dengan mencari solusi untuk meningkatkan produksi. “Bagaimana memanfaatkan luas lahan yang ada untuk meningkatkan produktivitas,” kata Dudy. Adapun ekstensifikasi dengan melakukan perluasan pasar. Misalnya mencari daerah-daerah pertanian baru yang berprospek.

Melalui pendekatan itu, kini FMC menduduki lima besar perusahaan pestisida di Indonesia. Di tanahair terdapat 8 perusahaan pestisida multinasional. Sementara produsen lokal sekitar 140 perusahaan. Sebagai perusahaan multinasional, FMC menargetkan pasar petani secara keseluruhan. Segmen komoditas padi, sayuran dan buah, palawija, serta perkebunan.

Pendekatan agresif terhadap pasar itu membuahkan hasil memuaskan. Tahun lalu total omzet perusahaan agrokimia di Indonesia—itu mencapai Rp10-triliun. FMC meraih penghargaan keselamatan kerja dari Kementerian Tenaga Kerja dan Lingkungan Hidup dengan kategori BIRU. Semua bermula dari semangat mengubah paradigma mematikan OPT, menjadi mendukung pertanian Indonesia yang berkelanjutan. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d