Aplikasi produk teknologi EM oleh petani sayuran di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Aplikasi produk teknologi EM oleh petani sayuran di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Ir. Gede Ngurah Wididana M.Agr., mengembangkan teknologi effective microorganism (EM) untuk pertanian dan kesehatan.

Tempat pijat dan terapi bokashi Usadha Pak Oles itu lain dari yang lain. Setelah menjalani pemijatan, terapis akan mengubur tubuh pengunjung dalam tumpukan limbah ekstraksi herbal hasil fermentasi. Proses fermentasi itu menghasilkan panas sehingga pasien mengeluarkan banyak keringat sebagai bagian detoksifikasi atau proses pengeluaran racun tubuh. Itu salah satu kreasi Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr.

Ia juga menciptakan 40 jenis produk obat-obatan alternatif seperti minyak tetes, minyak rajas, parem, madu, masker, salep, balsem, air herbal,  dan minyak relaksasi untuk spa. Semua produk itu memanfaatkan teknologi EM—singkatan dari Effective Microorganism. Penemu teknologi EM adalah Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar Fakultas Pertanian Universitas Ryukyus di Okinawa, Jepang (baca boks: Setelah Bertemu dengan Higa).

Kitab suci

Aneka produk teknologi EM yang dikembangkan PT Songgolangit Persada.

Aneka produk teknologi EM yang dikembangkan PT Songgolangit Persada.

Teknologi EM memanfaatkan mikrob yang berguna bagi manusia. Terdapat lima kelompok mikrob “baik” yang terdiri atas 10 genus dan 80 spesies dalam sebuah formula yang disebut effective microorganisme. Kelima kelompok mikrob itu di antaranya bakteri asam laktat, actinomycetes, fotosintetik, ragi, dan cendawan fermentasi.

Beragam produk herbal itu di bawah naungan PT Karya Pak Oles Tokcer milik Wididana. Pria kelahiran 1961 itu membangun PT Karya Pak Oles Tokcer pada 1998 dengan modal Rp20-juta. Ketika itu hanya terdapat 5 karyawan. Seiring dengan meningkatnya permintaan, karyawan pun mencapai 150 orang. Untuk memperoleh pasokan bahan baku herbal,  Wididana bermitra dengan 50 petani.  Ia juga membuka pabrik baru di Kota Denpasar, Provinsi Bali, yang menyerap 150 orang.

Teknologi EM juga dapat diaplikasikan untuk meningkatkan produksi ternak.

Teknologi EM juga dapat diaplikasikan untuk meningkatkan produksi ternak.

Wididana juga memproduksi produk turunan lain yang berbasis teknologi EM. Pada 1998 ia memadukan teknologi EM dengan pengobatan tradisional Bali yang mengacu pada kitab Ayurweda. “Saat ini mulai banyak yang meninggalkan pengetahuan pengobatan Ayurweda,” ujarnya. Menurut Wididana dalam kitab Ayurweda ada kemiripan teknik dalam meramu herbal yakni dengan merendam aneka jenis herbal dalam minyak kelapa selama tiga bulan.

Baca juga:  Ratu Daun Bersalin Rupa

Wididana memodifikasi cara ramu itu dan memadukannya dengan teknik fermentasi menggunakan EM. “Dengan menggunakan EM fermentasi cukup berlangsung dua pekan,” tutur pria 56 tahun itu. Ia lalu menyaring minyak oles itu dan mengemasnya dalam botol isi 10 ml dan 40 ml. Wididina menjajakan minyak oles itu dengan merek Minyak Oles Bokashi. Produk herbal itu mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., mengolah pupuk kandang menjadi pupuk organik.

Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., mengolah pupuk kandang menjadi pupuk organik.

Dari sekian banyak produk berbasis teknologi EM, Wididana mengatakan Minyak Oles Bokashi paling diminati konsumen.  “Minyak Oles Bokashi menyumbang pendapatan hampir 60%,” ujarnya. Popoularitas minyak oles itu membuat Wididana lebih sohor dengan panggilan Pak Oles. Untuk mendongkrak pemasaran, Wididana melakukan promosi dengan mendirikan radio, koran, dan majalah. Ia juga aktif mempromosikan produk melalui media sosial.

Beragam hambatan
Sejatinya Wididana lebih dahulu memanfaatkan teknologi EM sebagai pengurai bahan organik. Dengan berbekal lisensi untuk mendirikan pabrik EM dari Prof. Dr. Teruo Higa, Wididana mendirikan PT Songgolangit Persada dan membangun pabrik di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., mempelajari teknologi effective microorganism (EM) langsung dari penemunya, Prof. Dr. Teruo Higa.

Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., mempelajari teknologi effective microorganism (EM) langsung dari penemunya, Prof. Dr. Teruo Higa.

Perusahaan itu memproduksi larutan EM yang diberi merek EM4. Pria 56 tahun itu merilis merek EM4 pada 1994 EM4 merupakan pupuk organik cair yang mengandung senyawa mikroorganisme tertentu, seperti bakteri Lactobacillus dan bakteri fotosintetik, yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan segala jenis tanaman. Larutan EM itu juga dapat mengurai dan mendaur ulang limbah organik menjadi pupuk tanaman yang disebut bokashi.

Baca juga:  Pegagan Naik Lemak Turun

PT Songgolangit Persada memproduksi pupuk organik dari limbah kotoran ternak. Pupuk organik itu kemudian dipasarkan dengan merek dagang Pupuk Organik Bokashi Kotaku, Bokashi Kotaku Sekar, dan Bokashi Kotaku Granul. Songgolangit juga memproduksi EM Toilet untuk menghilangkan bau tak sedap di peturasan dan mengurai limbah rumah tangga. Sebagai produk baru, masyarakat kurang mengenalnya.

Itulah sebabnya Wididana pun melakukan berbagai upaya untuk menyosialisasikan teknologi EM di tanah air antara lain dengan mendirikan sebuah yayasan, yaitu Yayasan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA). Yayasan yang berlokasi di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, itu menjadi pusat pendidikan dan pelatihan terpadu tentang teknologi EM.

Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., bersama para karyawan PT. Songgolangit Persada.

Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., bersama para karyawan PT. Songgolangit Persada.

Ia juga menyediakan lahan 7 hektare sebagai sarana percontohan dalam penerapan teknologi EM. Berbagai perguruan tinggi dan lembaga pemerintah ia sambangi untuk memperkenalkan teknologi EM melalui diskusi, seminar, penelitian, dan pelatihan.

Namun, hingga 1997 upaya itu belum membuahkan hasil. Itu tak membuat Wididana patah arang. Pria kelahiran 9 Agustus 1961 itu menempuh jalan lain dengan membentuk kelompok tani, ternak, dan ikan, lalu mengajak mereka mengembangkan teknologi EM di Indonesia.

Permintaan meningkat

Pelatihan teknologi EM.

Pelatihan teknologi EM.

Wididana bekerja sama dengan para petani membuat demonstrasi plot (demplot), memberikan pelatihan, dan penyuluhan. Namun, upaya itu pun tak sepenuhnya mendapat sambutan para petani. Berkat kegigihan, keteguhan, dan kerja keras, upaya Wididana mengembangkan teknologi EM akhirnya mengalami kemajuan.

Produksi ramuan herbal.

Produksi ramuan herbal.

Masyarakat semakin mengenal pupuk bokashi Kotaku. Untuk menambah kapasitas produksi, ia juga membangun pabrik baru di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, dan di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Produk EM4 kemudian beranak-pinak. Ada Sarfeto-5, pupuk hayati cair yang berfaedah meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

Sarana pelatihan EM milik Yayasan IPSA.

Sarana pelatihan EM milik Yayasan IPSA.

Pupuk itu juga dapat memacu pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Produk lainnya adalah Sarula-3 yang merupakan hasil fermentasi rumput laut dengan teknologi EM. Pupuk organik itu kaya unsur mikro dan aneka jenis asam organik. Di samping itu PT Songgolangit Persada menciptakan produk turunan baru seperti produk bermerek Ecocity. Pupuk organik cair dan pembenah tanah itu meningkatkan mutu dan produktivitas tanaman perkebunan.

Tempat terapi bokashi dengan cara dikubur dalam tumpukan rempah yang difermentasi dengan EM.

Tempat terapi bokashi dengan cara dikubur dalam tumpukan rempah yang difermentasi dengan EM.

Perusahaan itu juga memproduksi varian EM-4 untuk peternakan, perikanan dan tambak, serta pengolahan limbah. Wididana berharap produk teknologi EM dapat menembus pasar ekspor. Ia menyasar pasar Jepang, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Namun, kini ia tengah fokus memperbaiki formula pupuk organik cair. Pada 2016 ada perubahan standar nasional untuk formula pupuk organik cair sehingga semua produsen harus mendaftarkan ulang produknya. (Imam Wiguna)

Baca juga:  Strategi Memimpin Pasar Pestisida

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d