Melukis Dewi di Atas Sawah 1
Seni padi di Desa Inakadate, Prefektur Aomori, Jepang. Sosok dewi padi tersusun dari jutaan tanaman padi menjadi objek wisata andalan Inakadate.

Seni padi di Desa Inakadate, Prefektur Aomori, Jepang. Sosok dewi padi tersusun dari jutaan tanaman padi menjadi objek wisata andalan Inakadate.

Mutsumi Nojima spontan saja berseru, “Wah, fantastis, luar biasa, cantik sekali!” Mutsumi baru saja menjejakkan kaki di lantai paling atas kantor Desa Inakadate, Distrik Minami-Tsugaru, Prefektur Aomori, Jepang, yang berbentuk seperti bangunan kastil bermenara 6 lantai. Ia membuka pintu kaca dan keluar ke beranda. Di sana perempuan asal Tokyo yang fasih berbahasa Inggris itu tertegun.

Dari ketinggian sekitar 15 m Nojima melihat seorang dewi dengan anggun duduk di atas awan terbang mendekati Gunung Fuji yang berselimut salju. Gaunnya yang berwarna paduan hijau, kuning, cokelat serta selendang tipisnya berkibar. Tangan kanan sang dewi menggenggam bunga lotus yang tengah mekar. Rambutnya yang hitam legam berhias mahkota. Lalu angin bertiup, dan daun-daun serta malai-malai padi yang menyusun lukisan sang dewi dan Gunung Fuji itu pun bergoyang.

Petani setempat membibitkan padi berwarna untuk seni padi di dalam greenhouse.

Petani setempat membibitkan padi berwarna untuk seni padi di dalam greenhouse.

Harap mafhum, “lukisan” raksasa berukuran 143 m x 104 m—kira-kira setara 7 kali lapangan futsal, terdiri atas 2 petak sawah yang dipisahkan jalan yang bisa dilalui kendaraan—itu memang tersusun dari jutaan tanaman padi yang ditanam dengan pola tertentu. Padi berdaun hijau dan kuning misalnya ditanam membentuk gaun sang dewi. Sementara rambutnya dari padi berdaun ungu. Padi yang sama dipakai untuk “mewarnai” bagian kaki Gunung Fuji, sedangkan puncaknya yang selalu ditutupi salju disusun dari padi berdaun hijau berbelang putih.

Tujuhbelas wartawan dari 13 negara di Asia yang berkunjung ke Inakadate atas undangan dari Asian Productivity Organization (APO) yang berkedudukan di Tokyo—berjarak sekitar 600 km dari Inakadate—belum pernah melihat pemandangan itu. “Saya belum pernah melihat ini sebelumnya,” kata Harismen Piliang, pembawa berita di stasiun televisi nasional. Pada September wajah sang dewi yang harusnya putih bersih sudah berubah menjadi keabu-abuan seiring perubahan warna daun padi jenis putih yang ditanam.

Kantor Desa Inakadate, ramai dikunjungi wisatawan pada musim panas Agustus—September. Mereka menyaksikan lukisan terbuat dari padi.

Kantor Desa Inakadate, ramai dikunjungi wisatawan pada musim panas Agustus—September. Mereka menyaksikan lukisan terbuat dari padi.

Tangan kreatif para pamong Desa Inakadate yang “menyulap” padi menjadi sebuah karya seni. Lukisan sang dewi dan Gunung Fuji pada 2015 merupakan karya ke-22 mereka. “Tahun lalu kami membuat lukisan perempuan Jepang berkimono dan Marilyn Monroe,” kata Asari Takatoshi, kepala Divisi Perencanaan dan Pariwisata Kantor Desa Inakadate.

Seni “melukis” di atas sawah menggunakan padi itu mulai diperkenalkan di Inakadate pada 1993. Fakta bahwa Inakadate tidak punya banyak sumberdaya alam meresahkan para pemimpin desa. “Desa Inakadate merupakan desa kecil yang tidak punya produk spesial,” tutur Kaori Fukuchi, manajer Divisi Perencanaan dan Pariwisata. Desa di kaki Gunung Iwaki itu hanya seluas 22,31 km2 berpenduduk 8.000 orang. Bandingkan dengan Prefektur Aomori seluas total 9.607 km2 yang dipadati oleh di atas 1,44-juta orang. “Inakadate merupakan desa terkecil di Aomori,” imbuh Asari Takatoshi.

Menara pandang di lokasi kedua yang dibangun dari hasil penjualan tiket agrowisata seni padi.

Menara pandang di lokasi kedua yang dibangun dari hasil penjualan tiket agrowisata seni padi.

Inakadate tidak memiliki bahan tambang atau industri. Kegiatan ekonomi desa terletak di bagian utara pulau utama Honshu itu ditopang oleh sektor pertanian terutama padi, apel, dan sayuran. Di sana periset menemukan situs arkeologi Tareyanagi dari Periode Yayoi. Situs itu berupa bekas lahan sawah dari era 2.100 tahun silam yang masih terlihat jelas. Dari hasil penggalian periset mendapatkan bulir padi kuno—diduga jenis yang konsumsi penduduk Inakadate dahulu—yang sudah menjadi arang karbon. Bukti itu menunjukkan budidaya padi di Inakadate berumur ribuan tahun.

Menurut Kaori Fukuchi, hingga kini Inakadate merupakan penghasil padi dengan produktivitas tinggi. Berdasarkan kondisi itulah pemerintah desa memutuskan untuk menggunakan identitas itu dalam menggairahkan kembali desa. “Proyek ini untuk meningkatkan kekhasan lokal setempat,” kata Asari Takatoshi. Maka proyek seni padi pun dimulai.

Baca juga:  Tiga Gelar Kayu Patah!

Mula-mula tema seni tanbo (seni “melukis” di atas sawah dengan padi, red) masih sangat sederhana. Pada 1993 saat proyek dimulai, desainnya berupa Gunung Iwaki. Bentuknya seperti gambar klise anak-anak Indonesia saat menggambar gunung, yakni terdiri atas bentuk segitiga dengan tiga puncak. Untuk melukis gunung itu pamong desa menggunakan 3 jenis padi berbeda warna daun, yakni padi berwarna hitam, kuning, dan hijau. Padi hijau sebagai “pembentuk” gunung, sementara padi hitam sebagai latar belakang dan kombinasi padi hitam dan kuning untuk membuat tulisan Gunung Iwaki.

Keluarga Sazae-san, tokoh animasi populer di lokasi kedua.

Keluarga Sazae-san, tokoh animasi populer di lokasi kedua.

Hingga 2002 tema Gunung Iwaki masih digunakan. Tahun berikutnya tema berubah sama sekali, kali ini mengadopsi tema dari mancanegara yaitu lukisan Monalisa yang terkenal. Kehadiran Monalisa membuat proyek seni melukis dengan padi itu populer dan mulai banyak mengundang pengunjung untuk datang menyaksikan keelokannya. Untuk melihat perempuan bersenyum misterius itu pengunjung tidak dipungut biaya.

Padi sudah dibudidayakan di Inakadate sejak 2.100 tahun silam.

Padi sudah dibudidayakan di Inakadate sejak 2.100 tahun silam.

Mulai 2004 pemerintah desa mengadakan kompetisi yang dibuka untuk warga untuk mendapat desain yang menarik. Desain terbaik akan ditampilkan sebagai tema seni lukisan padi tahun itu. Dari kompetisi itu terpilih 2 karakter yakni Ragora—salah satu dari 10 murid hebat Shaka—dan Dewi Pegunungan. Tahun-tahun berikutnya tema lukisan makin kreatif dan lebih rumit.

Menurut Kaori Fukuchi, salah satu lukisan rumit yang pernah dibuat yaitu perempuan Jepang menggunakan kimono pada 2013. Sebab kimononya memiliki pola berupa bunga, burung, dengan latar belakang jembatan kayu khas jepang yang dihiasi bunga. Untuk mendapatkan lukisan yang pas penanggung jawab di Divisi Perencanaan dan Pariwisata menuangkan tema dalam gambar perspektif.

Asari dan tim belajar dari pengalaman membuat lukisan Monalisa. “Tanpa gambar perspektif tampilan Monalisa menjadi gembung di bawah,” ujar Kaori Fukuchi.

Asari Takatoshi, kepala Divisi Perencanaan dan Pariwisata Kantor Desa Inakadate.

Asari Takatoshi, kepala Divisi Perencanaan dan Pariwisata Kantor Desa Inakadate.

Kehadiran seni padi itu menjadi salah satu cara merehabilitasi area itu yang terkena dampak gempa besar Jepang pada 2011. “Seni tanbo juga bertujuan untuk memperkenalkan budaya padi—mulai tanam sampai panen—terutama pada generasi muda,” kata Asari. Data Kementerian Pertanian Jepang menunjukkan rata-rata usia petani di sana di atas 65 tahun yakni sebanyak 60% dari populasi petani sebesar 1,8-juta orang. Hanya 10% yang merupakan petani berusia muda. Pemerintah Kota Nambu, Prefektur Aomori menggalakkan kegiatan home stay untuk pelajar di rumah-rumah petani supaya para pemuda mengenal dunia pertanian (baca: Tidur di Desa, Jadi Petani halaman 110). Untuk itu pemerintah desa membuat konsep people’s experience yang mengajak orang untuk menikmati proses produksi padi.

Bentuknya dalam 2 acara yang masih berkaitan dengan pembuatan proyek lukisan padi. acara pertama pada Mei dan Juni yakni tur tanam padi dan pada September atau Oktober tur panen padi dari hasil lukisan. “Peminat cukup mendaftar 1 bulan sebelum acara dan tidak dipungut biaya pendaftaran,” tutur Asari. Ternyata respons masyarakat cukup tinggi. Maka setiap Mei/Juni dan September/Oktober Inakadate dipenuhi orang dari luar desa. Mereka—laki-laki perempuan, anak-anak dewasa, warga Jepang-ekspatriat—berkumpul untuk menanam dan memanen padi.

Untuk mendapat detail lukisan, pemerintah desa membuat gambar rancangan yang disiapkan sejak Oktober tahun sebelumnya.

Untuk mendapat detail lukisan, pemerintah desa membuat gambar rancangan yang disiapkan sejak Oktober tahun sebelumnya.

Benih padi untuk seni padi dibudidayakan oleh para petani setempat. Salah satunya Mitsuharu Sasaki. Petani itu membibitkan padi di rumah-rumah tanam plastik berbentuk terowongan. Ia membibitkan padi berwarna hijau, hitam, cokelat, kuning, serta hijau dengan ujung daun dan bulir merah. Perbedaan warna mulai terlihat sejak bibit berdaun 3—5 helai. “Cara budidaya jenis-jenis padi yang digunakan dalam seni padi sama saja dengan padi lainnya,” tutur Sasaki. Namun, tanggung jawab Sasaki berat karena ia harus memastikan bibit tumbuh dengan baik. “Sebab di sinilah tempat satu-satunya padi untuk seni tanbo tumbuh,” tutur Sasaki.

Baca juga:  Jawara di Kontes Terbesar

Pada Agustus kantor desa juga dipenuhi kerumunan orang. Mereka mengantre sejak di luar bangunan, mirip antrean konser musik atau fesyen. Harap mafhum Agustus saat tepat untuk menikmati keindahan seni lukis padi itu. Pada 2013 kehadiran wanita Jepang berkimono dan Marilyn Monroe mampu menyedot perhatian 250.000 orang untuk berkunjung ke Inakadate. Mereka datang dari berbagai penjuru Jepang, bahkan banyak di antaranya para ekspatriat yang bekerja atau belajar di Negara Matahari Terbit itu. Rice paddy art pun menjadi objek wisata utama di Inakadate.

Mata pencarian utama penduduk Inakadate dari bercocok tanam padi dan sayuran.

Mata pencarian utama penduduk Inakadate dari bercocok tanam padi dan sayuran.

Pendapatan dari tiket kunjungan untuk kas desa mencapai 39 juta yen setara Rp3,9-miliar. Itu di luar pendapatan dari penjualan suvenir misal kaos dan hiasan dinding. Dari pendapatan tiket pula pemerintah desa bisa membuat satu area seni lukis lagi lengkap dengan menara pengawasnya. Trubus melihat lukisan sebuah keluarga di lokasi kedua. Lukisan bertema keluarga Sazae-san, tokoh serial animasi yang mendapat penghargaan Guiness Book of Record karena memiliki masa tayang paling lama, 7.100 eposiode.

Pada November pemerintah desa kembali menggelar acara. Kali ini Festival Panen yang menghadirkan booth-booth berisi produk pertanian Inakadate langsung dari petani. Pada acara itu juga beras hasil panen dalam kemasan kantong kertas yang ditempeli foto lukisan tahun itu dibagikan secara gratis kepada peserta tur tanam dan panen. Sebagian diolah menjadi beraneka penganan yang bisa dicicipi bersama.

Cherry Center, salah satu pasar tani yang dikelola kelompok tani perempuan. Di pasar tani petani bertransaksi langsung dengan konsumen akhir sehingga mendapat harga jual lebih tinggi.

Cherry Center, salah satu pasar tani yang dikelola kelompok tani perempuan. Di pasar tani petani bertransaksi langsung dengan konsumen akhir sehingga mendapat harga jual lebih tinggi.

Menurut Kepala Departemen Manajemen Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, MS apa yang dilakukan pemerintah Desa Inakadate merupakan salah satu bentuk agrowisata. “Agrowisata itu jelas menambah penghasilan untuk para petani di sana,” tutur doktor bidang Ekologi Lanskap dan Manajemen Lingkungan, Universitas Okayama, Jepang, itu.

Hadi Susilo Arifin pernah melihat bentuk seni serupa di Kitahiroshima, sebuah desa di Ishikari, Hokkaido. Di Bihoku Hillside Park terdapat taman dengan salah satu objek wisatanya sawah. “Memang bukan bentuk lukisan dari berbagai macam padi yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk lukisan. Di sana bentuknya seperti terasering dengan petak-petak kecil yang ditanami beberapa jenis padi termasuk padi ketan. Dari berbagai jenis itu didapat wana dan ketinggian tanaman berbeda sehingga saat dilihat dari atas terlihat sangat cantik,” papar Susilo kepada wartawan Trubus, Ian Purnama Sari.

Padi terasering di Banten.

Padi terasering di Banten.

Terasering mengingatkan pada pemandangan sawah yang khas di Tabanan, Provinsi Bali atau Banten. Guru besar bidang Pengelolaan Lanskap IPB itu menuturkan sentra produksi beras di tanahair potensial menjadi objek wisata. Misal daerah pantai utara di wilayah Sukamandi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, yang dikenal sebagai penghasil padi. Di sana produksi padi sepanjang tahun.

“Penataan tinggi tanaman, umur tanaman, jenis tanaman dengan warna berbeda membentuk lukisan yang baik,” tutur Susilo. Padi ketan hitam dengan daun berbulu hitam memberi warna hitam, warna merah dari ketan merah, warna kuning dari padi siap panen, warna hijau dari padi muda. Menurut Hadi dengan agrowisata petani banyak menanam jenis padi sehingga padi tidak musnah atau hilang ditinggal petani.

Petani memanen, mengepak, dan menjual langsung produk dari kebun di pasar tani Cherry Center

Petani memanen, mengepak, dan menjual langsung produk dari kebun di pasar tani Cherry Center

Menurut Direktur Pertanian APO, Joselito C Bernardo, agrowisata seni padi di Inakadate salah satu bentuk usaha meningkatkan pendapatan petani dan merevitalisasi kehidupan pedesaan. Cara lain peningkatan taraf hidup petani yakni dengan program six-order industry. “Program itu mengombinasikan kegiatan produksi (primer) dengan kegiatan pengolahan (sekunder) dan penjualan langsung alias ritel (tersier),” papar penanggung jawab promosi sixth industry, Divisi Inovasi Industri Pangan, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Mitsuhide Kamikochi. Tujuannya untuk memberikan efek multiply kepada petani.

Petani didorong tidak hanya menjual produk mentah hasil panen, tapi mengolahnya sehingga memberi nilai tambah. Kamikochi mencontohkan inovasi kue berbahan beras berbentuk khas dari Prefektur Mie, atau produksi bumbu masak berbahan tepung ikan iriko (semacam teri) dari Prefektur Nagasaki. Petani juga mendapat akses untuk mengelola pasar tani. Di pasar tani petani bertransaksi langsung dengan konsumen akhir sehingga mendapat harga jual lebih tinggi. Petani memanen, mengepak, dan menjual langsung produk dari kebun kepada konsumen tanpa campur tangan tengkulak atau pengepul, termasuk padi.

Nun di Negeri Matahari Terbit, beras menduduki peranan penting dalam kehidupan penduduk Jepang. Beras menjadi makanan pokok, menjadi identitas mereka, hingga ada pepatah kuno yang mengatakan makan nasi setiap hari bisa memperpanjang hidup sampai umur 88 tahun. Kini padi juga menjadi seni. (Evy Syariefa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *