Berjarak sekitar 186 km dari Makassar, Sulawesi Selatan, Desa Salassae merupakan kampung yang unik. Sebagian besar warganya merupakan petani organik. Berbagai komoditi organik yang dikembangkan, seperti padi, cengkih atau kakao, tumbuh begitu subur dan sehat di atas lahan desa seluas 32 kilometer persegi.

Apa rahasia di balik suksesnya kampung organik tersebut?

Rahasia itu terletak di Komunitas Swabina Petani Salassae (KSPS). Sejak didirikan November 2011, para anggotanya aktif mengembangkan pertanian organik di kebun dan ladangnya masing-masing. Tiga tahun setelah berdiri, anggota KSPS berkembang menjadi 76 orang dari yang sebelumnya hanya 20 orang.

KSPS memang bukan komunitas petani biasa. Dengan semangat bekerja keras yang dipegang teguh setiap anggota, pertanian organik sukses dikembangkan di desa yang terletak di Kabupaten Bulukumba itu.

Hanya dalam waktu 3 tahun, puluhan petani di Desa Salassae beralih dari cara bertani lama ke organik. Mereka mengaku hasilnya lebih menguntungkan, baik dari segi finansial maupun komoditi.

Pendiri dan pengurus KSPS, Armin Salassa mengatakan kondisi tanaman organik dengan non-organik di desanya sangat jauh berbeda. Biasanya olahan organik lebih tinggi dan hijau. Selain itu hasil panen beras organik pun tercatat lebih besar.

Armin juga menyatakan, penggunaan pupuk dapat lebih hemat jika bertani organik. Ia mengungkapkan, penggunaan pupuk dengan bahan campuran gula dan buah-buahan hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 80 ribu untuk sawah seluas 1 hektar. Sementara jika menggunakan pupuk kimiawi di atas lahan yang sama, biaya yang tertelan sebesar Rp 1,5 juta.

Atas dasar itu, tak heran bertani organik menjadi pilihan petani KSPS. Beras organik pun, menurut penuturan mereka, rasanya lebih enak dan harganya mencapai dua kali lipat dibanding beras biasa di pasaran.

Baca juga:  KSU “Tekat Bersatu”, Raih Prestasi dengan Tekad

Di balik keunggulan produk pertanian organik di Desa Salassae, perubahan dari cara menanam lama ke organik pun tidak selamanya berlangsung mulus. Seperti lazimnya perubahan, semua perlu waktu dan mendapat banyak tantangan dari lingkungan sekitar, termasuk pihak keluarga.

Awaluddin, salah seorang penggagas KSPS mengungkapkan hal tersebut. Ia mengaku memiliki pengalaman berkesan selama dua tahun mengubah cara menanam konvensional ke organik.

Menurutnya, awalnya seluruh anggota keluarga menentang keras ia bertani organik. Ibunya bahkan sampai menangis memohon menggunakan pestisida dan pupuk kimia yang telah dijalankan selama bertahun-tahun.

Namun, Awaludin teguh dan keras hati. Ia akhirnya berhasil meyakinkan keluarga untuk menanam organik setelah melihat hasilnya yang menjanjikan. Para anggota lain pun sempat mengalami hal yang sama dengan Awaludin.

Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah, mereka bisa membuktikan diri sebagai petani teladan. Bertani organik dapat mendatangkan keuntungan yang lebih dari cukup.

Empat tahun setelah berdiri, kini KSPS mampu bergerak secara mandiri dengan Divisi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang menjadi tulang punggung. Setiap anggota dapat menerbitkan saham khusus Rp 100 ribu per saham untuk modal usaha peternakan sapi. Hingga 2014, tercatat KSPS telah mampu memiliki 14 sapi.

Kemandirian KSPS pun tercatat dari penggunaan pupuk. Mereka dapat membuat pupuk kompos yang disebut Mikroba 3 (M3) secara swadaya. Tempat pembuatannya pun tersebar di halaman rumah maupun lahan warga desa.

Kotoran sapi yang menjadi bahan baku utama pembuatan pupuk KSPS dikelola secara kelompok maupun perorangan. Pada akhirnya, pupuk organik tersebut dijual dengan harga mencapai 120 ribu per botol di pasaran.

Kesuksesan KSPS pun menjadi inspirasi, bahwa bertani organik adalah alternatif yang cukup menjanjikan. Berbagai desa lain pun sering berkunjung dan belajar langsung ke Desa Salassae dengan KSPS sebagai fasilitator.

Baca juga:  10 Tumbuhan Langka di Indonesia Yang Perlu Dilestarikan

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m