Melati untuk Kartini 1
Kombinasi warna putih dan hijau hasilkan rangkaian yang sederhana tapi cantik seperti pada rangkaian Irin Yasin

Kombinasi warna putih dan hijau hasilkan rangkaian yang sederhana tapi cantik seperti pada rangkaian Irin Yasin

Sosok Kartini tercermin pada rangkaian bunga melati.

“Sosok ibu Kartini cantik, anggun, dan sederhana. Itu yang menginspirasi saya membuat rangkaian melati ini,” ujar Irin Yasin, perangkai bunga di Pondokranji, Tangerang, Provinsi Banten. Rangkaian itu mewakili penampilan R.A Kartini, pahlawan asal Jepara, Jawa Tengah yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Karya Irin Yasin memang terlihat memukau, meski corak warna terbatas.

Irin hanya mengombinasikan warna putih dan hijau. “Kombinasi warna putih dan hijau menghasilkan warna yang cantik dan sederhana,” ujarnya. Kesan natural juga terlihat dari rangkaian Irin. Itu karena ia menggunakan vas kayu dan aksesoris dari akar kayu. Komponen utama pada rangkaian Irin adalah bunga melati.

Rangkaian bunga melati bertema duo angsa perlambang kasih karya Lucia Rining Wahyu

Rangkaian bunga melati bertema duo angsa perlambang kasih karya Lucia Rining Wahyu

Ronce
Perangkai bunga sekaligus dekorator di istana kepresidenan itu membentuk melati menyerupai jagung yang tersusun dalam 3 ulir dalam satu kawat. Langkah pertama Irin menutup dasar vas dengan floral foam, lalu menempatkan aksesori dari akar kayu. Ia menutup bagian bawah rangkaian dengan daun hoki dan ruscus.

Selanjutnya ia meletakkan mawar putih di tengah rangkaian dan menyematkan rangkaian melati.
Irin menjelaskan bunga melati mencerminkan sakral dan wangi. Oleh karena itu banyak orang menggunakannya pada upacara keagamaan dan pernikahan. Untuk membuat rangkaian melati, para perancang sering menggunakan teknik ronce.

Irin pun menggunakan teknik ronce dalam rangkaiannya. Selain itu, ia juga menggunakan teknik lipat dan tusuk. “Kekhasan bunga melati, jika berdiri sendiri tidak menarik. Begitu ia dironce akan terlihat cantik,” ujar penasihat Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Perangkai Bunga Indonesia cabang Jakarta Selatan itu.

Rangkaian melati berukuran mini alias petite karya Lily Sastra

Rangkaian melati berukuran mini alias petite karya Lily Sastra

Rangkaian bunga melati yang tak kalah cantik juga terlihat pada kreasi Lucia Rining Wahyu. Ia mengambil tema duo angsa pada rangkaiannya. “Angsa melambangkan kasih,” ujar Rining—sapaannya. Seperti Kartini yang penuh kasih dan keindahan, bunga juga melambangkan cinta dan keindahan.

Baca juga:  Rangkaian Bunga Pembawa Pesan

Petite
Menurut Rining, “Melati melambangkan kesucian dan kesederhanaan.” Komponen lain, asparagus bintang, kalalili, dan carnation merah. Tahap awal, Rining merangkai melati menyerupai kepala angsa. Sebagai tatakan ia memanfaatkan wadah berbentuk kerang. Peraih juara 1 lomba merangkai bunga nasional, piala Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2012 itu mengisi kerang dengan floral foam, lalu menutup floral foam dengan asparagus.

Perangkai bunga yang tergabung dalam IPBI Jakarta Selatan itu lalu menancapkan kepala, badan, dan ekor angsa dari rangkaian melati. Untuk mempermanis rangkaian, ia menyematkan rangkaian berbentuk hati dari kuncup bunga melati yang dijahit dan carnation berwarna merah.

Rangkaian melati berbentuk tirai karya Lusi Ismail

Rangkaian melati berbentuk tirai karya Lusi Ismail

Sama halnya dengan Irin dan Rining, Lusi Ismail juga merangkai bunga melati hingga membentuk rangkaian indah. Ia merangkai melati membentuk tirai. Perangkai bunga kelahiran Jakarta itu merangkai kuncup melati dengan motif silang. Ketinggian rangkaian bisa diatur sesuai keinginan perangkai.

Rangkaian melati nan indah juga terlihat dari kreasi Lily Sastra. Ia membuat rangkaian berukuran mini alias petite. Jika teknik yang sering digunakan untuk merangkai melati adalah ronce atau jahit, Lily menerapkan teknik lain, yaitu tempel. “Dengan menggunakan teknik tempel, rangkaian melati tahan hingga 3 hari,” ujarnya.

Bunga nasional
Lily menjelaskan, untuk membuat rangkaian itu dengan teknik jahit pun bisa. Namun, kekuatan yang dihasilkan tidak sebesar menggunakan lem. Ia menempelkan kuncup melati berukuran kecil di kertas karton menggunakan lem. Pada karton pertama yang berukuran lebih besar ia menggunakan 3 susun. Sementara pada karton kedua menggunakan 2 susun.

Dari kiri ke kanan, Lucia Rining Wahyu, Irin Yasin (duduk), dan Lily Sastra

Dari kiri ke kanan, Lucia Rining Wahyu, Irin Yasin (duduk), dan Lily Sastra

Kedua rangkaian dasar itu menyerupai bunga krisan. Untuk membentuk dimensi, Lily menyematkan lili paris di belakang rangkaian. “Lili paris juga berfungsi sebagai penyeimbang rangkaian,” ujar perangkai yang berdomisili di Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu.

Baca juga:  Kacang Hijau Baik untuk Kolesterol Jahat

Para perempuan perangkai bunga itu sepakat memanfaatkan melati sebagai komponen utama rangkaian. Sebab, “Bunga melati salah satu bunga nasional,” ujar Rining. Bunga anggota keluarga Oleaceae itu ditetapkan sebagai salah satu bunga nasional bersama dua bunga lain, yakni anggrek bulan dan padma raksasa Rafflesia arnoldi. Itu tertuang dalam Kepres No 4 tahun 1993, yang menyebutkan bunga melati sebagai puspa bangsa.

Keistimewaan lain, melati mudah dijumpai di Indonesia lantaran sifatnya yang mudah tumbuh. Sayangnya, “Bunga melati tidak tahan lama karena warnanya yang mudah menjadi cokelat,” ujar Irin. Dengan keistimewaannya itu, tak salah jika memperingati hari Kartini dengan bunga melati. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *