Di Indonesia tersedia 1,957-miliar m3 air yang 83% tersebar di Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang hutannya relatif lebih luas

Di Indonesia tersedia 1,957-miliar m3 air yang 83% tersebar di Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang hutannya relatif lebih luas

Cara Samuel Rabenak mandi sungguh unik dan langka. Usai bangun tidur, pagi-pagi benar sebelum berangkat sekolah, ia bertelanjang dada, lalu berjalan kaki di antara deretan tanaman singkong di sisi rumahnya di Desa Bukambero, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ujung daun tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu saling bersentuhan.

Embun yang menempel di dedaunan Manihot utilissima membasahi tubuh Rabenak. Sesekali ia merentangkan kedua tangannya. Bertahun-tahun begitulah Rabenak dan kawan-kawan mandi pagi. Ia lahir dan tumbuh di lingkungan sabana kering Pulau Sumba. Air komoditas mewah di sana. Untuk memperoleh air bersih, ia dan warga lain desa itu mesti berjalan kaki sejauh 8-10 km dari rumahnya. Pilihan lain mengambil air menunggang kuda. Satwa itu mengangkut bumbung berisi air.

Sumber mata air di bentang alam Mbeliling

Sumber mata air di bentang alam Mbeliling

Saat berusia 10 tahun, ia mengambil air bersih dengan menunggang kuda. Celaka tiga belas, kuda itu terperosok dan terjatuh menindih tubuh kurusnya. Tangan kiri Rabenak pun patah. Sumber “mata air” di dekat rumah muncul, jika keluarganya menebang tanaman pisang. Samuel ingat persis, ayahnya akan menggali bonggol tanaman anggota famili Musaceae itu untuk memperoleh air bersih. Di bekas galian bonggol yang cekung itu memang muncul air.

Samuel Rabenak-kini 45 tahun-mengenang kisah getir tiga dasawarsa lalu itu menjelang tengah malam yang senyap di Desa Golombu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ayah dua anak itu kini bermukim di Golombu, lembah Werang yang berlimpah air bersih. Selain itu di lembah itu juga terdapat tiga air terjun, yakni Cunca Lolos, Cunca Wulang, dan Cunca Rami. Posisi lembah Werang di dekat bentang alam Mbeliling, hutan alam seluas 30.000 ha-terdiri atas hutan Mbeliling (26.000 ha) dan hutan Sesok (4.000 ha).

Dr Ir Hendrayanto

Dr Ir Hendrayanto

Trubus mencapai lokasi itu setelah menempuh perjalanan panjang: Jakarta-Kupang-Ende-Labuanbajo. Dari Labuanbajo perjalanan darat berlanjut ke Mbeliling selama sejam. Jarak Labuanbajo-Beliling sebetulnya relatif dekat, 25 km. Singgah di beberapa tempat seperti pantai Pede dan perkebunan cengkih membuat perjalanan lebih lama.

Team leader Burung Indonesia, Tiburtius Hani, mengatakan bentang alam Mbeliling amat penting. Sebab, kawasan itu menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Beragam flora endemik seperti Sympetalandra schmutzii dan Urobotrya floresensis.

Hutan Mbeliling juga menjadi habitat 200-an jenis burung, empat di antaranya endemik seperti kehicap flores Monarcha sacerdatum, gagak flores Corvus florensis dan serindit Lorivulus flosculus (baca: “Orkestra Pagi di Puarlolo, Trubus edisi Juli 2014). Selain itu, “Secara ekologis bentang alam Mbeliling menjaga ketersediaan air. Masyarakat Labuanbajo mengandalkan Mbeliling sebagai sumber air,” ujar Tiburtius.

Nilai air yang dikonsumsi masyarakat ibukota Kabupaten Manggarai Barat itu mencapai Rp14-miliar. Air tanah di Labuanbajo mengandung kapur dan garam akibat intrusi. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga memerlukan air bersih dari Mbeliling yang memiliki banyak sumber mata air. Itulah sebabnya Burung Indonesia mengajak warga di sekitar hutan untuk merawat hutan antara lain dengan program laat puar di 27 desa.

Serasah di lantai hutan mampu menyimpan air 20 kali lebih banyak daripada bobotnya

Serasah di lantai hutan mampu menyimpan air 20 kali lebih banyak daripada bobotnya

Secara harfiah laat berarti melihat, puar bermakna hutan. Namun, laat puar bukan sekadar melihat hutan. Warga juga membersihkan mata air di dalam hutan dan menanami beragam spesies di sekitar mata air. “Hutan penting bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Di hutan banyak sumber mata air,” kata Kepala Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Yoseph Subur.

Baca juga:  Peresmian Rumah Nepenthes

Ia dan warganya menanam beragam pohon seperti beringin, bancang, lokom, dan waso di sekitar mata air di hutan Sesok seluas 4.000 ha. Pohon-pohon itu kini tumbuh menjulang. Kebutuhan akan air warga Waesano tercukupi dari 20 sumber mata air di hutan Sesok itu seperti Waeboning, Waemberas, dan Waelokom. Mereka mengalirkan air dari mata air melalui pipa sepanjang 7 km ke rumah-rumah warga.

Samuel Rabenak

Samuel Rabenak

Warga Desa Kempo, Kecamatan Mbeliling, melakukan hal serupa. Di tepian hutan itu terdapat 11 mata air yang menjadi sumber kehidupan mereka, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pertanian (baca boks:”Mereka Merawat Mbeliling” halaman 72-73). Yohanes dan kawan-kawan mengalirkan air dari sumber mata air dengan menyambung puluhan bambu.

Peran hutan begitu penting bagi ketersediaan air. Ahli hidrologi hutan dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Hendrayanto mengatakan, hutan memang berperan besar dalam menyediakan air. Apalagi curah hujan di Kabupaten Manggarai Barat relatif tinggi, rata-rata kurang dari 200 mm per bulan. Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika curah hujan tertinggi pada Desember, yakni 324 mm. Tanpa vegetasi air hujan akan menjadi limpasan.

Doktor Hidrologi Hutan alumnus Kyoto University, Jepang, itu mengatakan area bervegetasi mampu menahan limpasan air hujan amat signifikan. “Di hutan alami, limpasan bisa 0%,” kata dosen di Departemen Manajemen Hutan itu. Sementara di area bervegetasi limpasan rata-rata 20%, sedangkan 60% air hujan masuk ke tanah dalam akuifer atau tempat “penampungan” air di bawah lapisan tanah. Akuifer seperti itulah yang kelak memasok mata air di hutan Mbeliling.

Sawah lodok khas Manggarai berbentuk bagai jaring laba-laba. Budidaya padi bergantung pada ketersediaan air

Sawah lodok khas Manggarai berbentuk bagai jaring laba-laba. Budidaya padi bergantung pada ketersediaan air

Posisi hutan Mbeliling di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut juga menguntungkan. Menurut Hendrayanto, cloud forest alias hutan awan mampu meningkatkan curah hujan. Hutan awan sebutan untuk hutan di pegunungan atau dataran tinggi karena mampu menangkap uap air yang dijadikan kondensasi. Akibatnya curah hujan lebih tinggi.

Dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Endes Nurfilmarasa Dahlan MS, mengatakan, energi kinetik hujan akan turun secara bertahap di area bervegetasi yang terstruktur. Air jatuh ke dedaunan di pohon paling tinggi, lalu meluncur ke pohon lebih rendah, perdu, semak, hingga ke rerumputan di lantai hutan. Tanpa vegetasi, energi kinetik hujan akan menumbuk agregat tanah sehingga memicu erosi atau longsor. Aliran air membawa tanah erosi ke lautan yang justru menghalangi proses fotosintesis fitoplankton atau terumbu karang.

Baca juga:  Kiat Amankan Produksi Padi

Menurut Dahlan hutan mampu menyimpan air antara lain karena kandungan serasah yang terdekomposisi. Dahlan mengatakan, serasah bagai spon yang mampu menyimpan air, 20 kali lipat bobot. Semakin tebal serasah di lantai hutan, kian banyak air tersimpan. “Ketika masuk hutan menginjak tanah bunyi dung… dung… mengindikasikan serasah hutan itu tebal, airnya pun banyak,” kata Dahlan. Oleh karena itu membakar serasah sebuah langkah keliru.

Dr Ir Endes Nurfilmarasa Dahlan MS

Dr Ir Endes Nurfilmarasa Dahlan MS

Selain menyimpan air, serasah juga berperan lain sebagai “penyerap” senyawa beracun seperti karbon monoksida. Dahlan menyitir sebuah riset ilmiah yang membuktikan serasah mampu mengurai senyawa beracun itu. Di sungkup pertama, periset hanya memanfaatkan serasah, sedangkan di sungkup kedua periset menambahkan antibiotik pada serasah. Periset lantas memberikan karbon monoksida di kedua sungkup itu. Hasilnya karbon monoksida di sungkup pertama turun amat signifikan, sementara di sungkup kedua sebaliknya, utuh.

Menurut Dahlan serasah menjadi habitat bagi mikroorganisme yang berperan mengurai karbon monoksida. Di sungkup kedua yang diberi antibiotik menyebabkan banyak mikroorganisme mati sehingga tak mampu menguraikan karbon monoksida. Adanya karbon monoksida menyulitkan hemoglobin mengikat oksigen sehingga kita sulit bernapas. Itulah sebabnya kota-kota di cengkungan seperti Bandung, Provinsi Jawa Barat, mesti memperluas hutan kota untuk mengurai senyawa berbahaya itu.

Air terjun Cunca Rami di kawasan Mbeliling

Air terjun Cunca Rami di kawasan Mbeliling

Selain jenis tegakan dan kerapatan, menurut Hendrayanto jenis batuan di bawah lantai hutan juga mempengaruhi ketersediaan air tanah. Ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung, Dr Budi Brahmantyo MSc, mengatakan setiap batuan sejatinya mampu menyimpan air. Kemampuannya bergantung pada porositas. “Berdasarkan pori antarbutir, batu pasir mampu menyerap air hingga 30%,” ujar Brahmantyo. Rekahan batu gamping di area karst juga andal menyimpan air.

“Di permukaan lahan karst memang kelihatan kering, tapi karst mampu menyimpang air hingga 20%,” ujar dosen di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung itu. Wajar jika masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menolak berdirinya pabrik semen. Brahmantyo mengatakan batuan di Pulau Flores merupakan endapan gunung api berusia muda atau kurang dari 2-juta tahun.

Menurut Brahmantyo karena masih muda maka batuan itu belum mengalami konsolidasi atau mampat. Di Flores terdapat beberapa gunung berapi seperti Inerie, Gunung Lewotobi, Gunung Ranaka, dan Gunung Rokatenda. Material dari gunung api itu antara lain pasir dan kerikil yang juga mampu menyerap air yang akan dirilis menjadi mata air.

Tiburtius Hani, team leader Burung Indonesia

Tiburtius Hani, team leader Burung Indonesia

Peneliti hidrologi dan konservasi tanah di Badan pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, jumlah air di Bumi tetap. Di Indonesia tersedia 1,957-miliar m3 air yang 83% tersebar di Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang hutannya relatif lebih luas dibandingkan di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Hutan menjadi begitu penting bagi kehidupan manusia karena antara lain menyediakan air bersih.

“Setinggi apa pun peradaban, manusia tetap membutuhkan hutan,” kata Dahlan. Sebab, hutan menunjang kehidupan manusia. Jika hutan rusak bisa jadi mata air itu hilang. Bila mata air kering ketika itulah air mata menetes tak kunjung kering. Haruskah kita menanti embun pagi untuk mandi di antara tanaman singkong? (Sardi Duryatmo)

 

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d