Masyarakat Biofilia

Masyarakat Biofilia 1
Taman dinding maksimalkan ruang terbuka hijau

Taman dinding maksimalkan ruang terbuka hijau

Inggris dikenal sebagai masyarakat penggila taman—garden mad society. Sekecil apa pun bangunannya, sebaiknya disertai taman yang luas. Secara prinsip itu sudah dipahami dan diterapkan dalam pembangunan perkotaan di seluruh dunia.  Kota-kota di Indonesia, misalnya, mencanangkan 20% ruang terbuka hijau (RTH).  Namun, yang berkembang di negeri-negeri “anak budaya Inggris” lebih daripada itu.  Contoh paling dekat dengan kita adalah Singapura.

Kota atau negeri Singapura membangun dirinya hidup di dalam taman, bahkan membuat rumah sakit biofilia—bangunan berselimut taman, pertanian, perkebunan. Di atap, dinding, teras, dan semua bidang rumah sakit itu penuh tanaman.  Bukan hanya tanaman hias, tapi juga tanaman pangan, sayur-sayuran, umbi-umbian. Jadi jangan heran kalau rumah sakit itu mampu menyajikan buncis, terung, selada, bahkan waluh yang besar-besar dari pekarangan, dinding, bahkan atap bangunannya sendiri.

Budaya hijau
Biofilia adalah kebutuhan manusia untuk menghadirkan alam di dalam hidupnya.  Dengan mendekatkan diri pada alam lingkungan, gairah untuk hidup sehat dan umur panjang ternyata bisa dibangkitkan. Pasien rumah sakit cepat sembuh dan hidup sehat. Gembira dan bersemangat untuk kembali bekerja. Indikasi bahwa masyarakat cinta dan memerlukan kedekatan dengan alam itu jelas. Adakah pot bunga, tanaman atau kehidupan lain di dalam rumah kita? Atau kucing, ikan, burung, anjing, hewan peliharaan dan tanda-tanda akrab dengan Bumi beserta isinya.

Paling sedikit ada gambar-gambar pemandangan, kesukaan memasang ornamen, hiasan bermotif alam kehidupan. Buah-buahan selalu tersedia, bunga sering diganti, akuarium, herbarium, aviari. Biofilia sudah berkembang dalam diri manusia selama beriku-ribu tahun.  Setelah nenek moyang—Adam dan Hawa– terusir dari Taman Eden atau Firdaus, kita merindukan lagi keindahan alam itu di dalam hidup kita sehari-hari.  Masakan hanya gara-gara sebatang pohon pegetahuan dan seekor ular, hidup ini menjadi terlunta-lunta selamanya?

Itulah yang kini direspons dalam berbagai bentuk. Bisa pameran flora dan fauna, bisa pembangunan real-estat ramah lingkungan, berbagai diskusi, lokakarya, kursus atau seminar eco-city dan eco-system yang marak di dalam dan di luar negeri. Satu di antaranya adalah simposium internasional untuk membangun kota hijau di Malang, Jawa Timur. Maklum kota itu, seperti kota-kota lainnya, sedang menghadapi pemanasan global.  Sejak pertengahan 1980-an, Malang tidak pernah lagi menikmati udara sejuk yang hingga turun ke 17°C.  Sekarang, paling dingin 25°C, bahkan rata-rata panasnya mencapai 35°C di terik siang.

Baca juga:  Anto Widi: Omzet Bisnis Yakon Rp20-Juta Sebulan

Pemanasan global itulah yang harus direspons dengan menyulut kembali budaya hijau, hidup selaras dengan alam dan mempertahankan agrikultur. Kalau Singapura bisa kembali menghadirkan hutan– termasuk 54 jenis burung di dalamnya, kenapa kota-kota yang secara geografis dan historis lebih kaya, tidak bisa? Bukankah Bandung, Bogor, Malang, Tomohon, Parapat, Bedugul, Balikpapan, Bukittinggi, dan sebagainya terkenal dengan kekayaan alamnya?  Semestinya kita lebih punya modal dan kesempatan untuk menjadi taman dan hutan secara alami. Bahkan Jakarta, punya hutan-hutan suaka alam seperti di Muaraangke dan Ragunan.

Beribu-ribu pohon besar dan kecil, karet, khaya,  kemenyan Hopea odorata membentuk tamannya sendiri di “kebun binatang itu”. Satu abad silam, Indonesia dikenal sebagai penghasil utama kapuk randu, pil kinine, karet alam dan maaf, tembakau! Namun, kini kita melihat “kina” tidak lagi menjadi andalan dari daerah Pangalengan, Bandung. Pelabuhan asam yang dibangun untuk mengapalkan panenan asam jawa Tamarindus indica dari sepanjang Jalan Daendels di pantai utara Jawa yang disambung kebun asam sampai ke Flores, juga tidak berfungsi lagi.

Potensi agribisnis
Jangan sampai pohon-pohon yang semestinya menunjukkan tanda bahwa negeri ini adalah bagian dari surga di Bumi, mulai menghilang.  Inilah yang hendak direspons dengan budaya hijau, sehingga habitat kita tidak berubah menjadi belantara beton. Memang benar ada pemanasan global dan perubahan iklim yang menyulut panas ekstrem, dingin ekstrem, dan hujan ekstrem di banyak tempat. Namun, dengan budaya hijau itu, kenyamanan surgawi dapat dipertahankan.  Singapura telah membuktikan.

Sekarang, di mana agribisnis bisa mendapat keuntungan dari promosi gaya hidup sehat, dengan dengan alam atau biofilia ini? Karen Tambayong, ketua Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) dalam ceramahnya yang spektakuler di Taman Margasatwa Ragunan berkata: “Kekayaan florikultur kita ada di selokan.” Jadi dari got, saluran air dan kali-kali kecil itu ternyata bisnis bunga dan tanaman hias kita dikembangkan.  Untuk perkotaan, kita telah punya spesies yang teruji dengan bermacam tantangan.  Ada bermacam begonia – bunga penawar racun akibat pencemaran yang bisa dibudayakan. Semua tanaman yang mampu bertahan hidup di pinggir jalan, di tepi sungai, terbukti mampu melindungi kota.

Dengan telaten, tanaman-tanaman itu dapat dipilih dan diperbanyak, dibudidayakan dan dijual dalam pot-pot kecil dengan harga berkisar antara Rp5.000—Rp25.000. Kualitasnya pun ditingkatkan, disesuaikan dengan kebutuhan. Termasuk untuk dijadikan tanaman dinding—verttikultur yang merambat di tembok. Maka kita melihat sekarang gedung-gedung tinggi mulai berdinding tanaman.  Bermacam media tanam, pot, sistem pengairan, menjadi teknologi dan melahirkan inovasi tersendiri.  Bisnis taman dalam ruangan pun berkembang, rental bunga dan jasa perawatan juga mulai marak. Salon flora dan fauna, klinik tanaman dan hewan juga berkembang, sebagai tanda makin memasyarakatnya biofilia.

Eka Budianta

Eka Budianta

Kita menjadi semakin paham mengapa Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengamuk ketika Taman Bungkul hancur diinjak-injak orang yang berebut es  krim.  Untuk memulihkan kembali bukan hanya memerlukan beberapa miliar rupiah, tapi juga waktu yang panjang. Kini kita mulai terbuka, mengapa setiap kota kembali memerlukan “hutan kota” masing-masing.  Sejarah kemanusiaan menunjukkan bahwa setelah terusir dari Taman Firdaus, manusia hidup sebagai peramu, pemburu, pedagang yang mengembara, dan tak kunjung bahagia.  Kita mulai tahu bahwa bahagia dapat dirasakan di mana saja, pada saat alam hadir kembali di dalam hidup kita.

Baca juga:  5 Inovasi Dongkrak Laba: Selamat Karena Tentara

Itulah rahasia membangun masyarakat biofilia—yang selalu merindukan keteduhan, keakraban dengan sesama warga hidup lainnya, baik satwa maupun tumbuhan.  Di sinilah rahasia bisnis yang harus ditanggapi.  Mengapa kita memerlukan tanaman hias, satwa hias, buah-buahan berkualitas dan ketahanan pangan. Rumah sakit biofilik mulai bermunculan.   Bukan hanya sekadar “garden hospital” tetapi melengkapi dirinya dengan sayur-mayur dan buah-buahan organik sendiri.  Sungai-sungai yang sudah telanjur dibeton, banyak yang dibongkar kembali agar bantarannya dapat dijadikan taman, kebun, ladang dan ditanami.
Di Korea Selatan dan di Amerika Serikat bahkan ada jalan layang diruntuhkan agar matahari kembali bersinar di kolong-kolong buatan manusia yang pengap, kotor, dan menjadi sarang kriminalitas.   Semua kembali disegarkan, dipulihkan, hidup lagi dengan tanaman yang dapat menjadi sumber ketahanan pangan dan ketahanan energi. Dalam seminar yang diadakan oleh Universitas Merdeka bekerja sama dengan Curtin University, muncul usulan agar Malang kembali menjadi kota hijau.  Bukankah ia dahulu lahir sebagai kota bunga yang lengkap dengan kijang, burung, kupu-kupu dan pohon murbei? Bebas banjir, dengan jalan-jalannya relatif pendek, cocok untuk pejalan kaki. *** (Eka Budianta)

*)Aktifis lingkungan dan kebudayaan, kolumnis Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Jababeka Botanic Gardens.

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x