Mari Rakit Sendiri Hidroponik 1
Sistem NFT di rumah Citra Dyah Kusumawardani mampu menampung 120 tanaman

Sistem NFT di rumah Citra Dyah Kusumawardani mampu menampung 120 tanaman

Pehobi dapat mendesain sendiri hidroponik rumahan sesuai keinginan. Kemudahan perawatan, memperoleh media, dan kestabilan aliran listrik menjadi pertimbangan.

Enam batang pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 3 inci terpaku bertingkat di dinding teras rumah Citra Dyah Kusumawardani. Setiap tingkat pipa yang berjarak 40 cm terdapat 20 lubang berdiameter 6 cm. Di 120 lubang itulah, pehobi hidroponik di Cinere, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat itu  menanam sayuran hidroponik sistem nutrition film technique (NFT). Ia memasang pompa berkekuatan 120 watt untuk mengalirkan air dan nutrisi dari tangki berkapasitas 200 liter.

Pompa bekerja tanpa henti, 24 jam sehari 7 hari sepekan. Saat panen, 30—35 hari pascatanam, ia tinggal mengangkat sayuran dari lubang tanam. Ia memanen 3—5 kg caisim, pakcoy, atau kangkung 2 kali sepekan. Perempuan 34 tahun itu menjual sayuran hidroponik kepada rekan-rekannya di kantor. Alumnus Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya itu segera menanam ulang bibit sayuran di lubang yang kosong. Jika listrik mati, ia tidak khawatir. “Air yang tersimpan dalam media rockwool cukup untuk 3—4 jam,” kata Citra.

Tabung pewaktu karya Sudibyo Karsono dengan 2 kenop pengatur

Tabung pewaktu karya Sudibyo Karsono dengan 2 kenop pengatur

Kelebihan NFT

Citra memilih sistem NFT lantaran relatif bebas perawatan dan efektif untuk pertumbuhan tanaman. Menurut Agus Hendra, konsultan hidroponik di Jumantono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sistem NFT menyediakan lebih banyak oksigen di sekitar perakaran. Musababnya, aliran air hanya membentuk lapisan tipis dan membiarkan sebagian besar akar bersentuhan langsung dengan udara terbuka. “Respirasi akar optimal sehingga pertumbuhan cepat,” kata Hendra.

Dengan berbagai kelebihan itu, pekebun skala rumahan banyak mengadopsi sistem NFT. Sebut saja Agus Hendra di Wonogiri, Bertha Suranto (Jakarta Timur), dan Gita Soraya (Tangerang Selatan). Jika Hendra dan Bertha  mengandalkan pipa PVC bulat, Gita mengandalkan talang PVC berbentuk menyerupai huruf U. Sebagai “jantung” sistem pengairan dan pemupukan (fertigasi), mereka mengandalkan pompa akuarium. “Kekuatan pompa menyesuaikan jumlah guli (meja tanam, red.), jumlah tanaman, volume air, dan ketinggian guli dari tangki air,” kata Gita. Semakin banyak tanaman, semakin besar kekuatan pompa.

Baca juga:  Djamaludin Suryohadikusumo – Sehat Sampai 80-an

Menurut Roni Arifin, pekebun hidroponik di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, debit air sistem NFT idealnya seliter per menit. “Tujuannya menciptakan riak yang membentuk gelembung sehingga membantu mempertahankan kadar oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm,” kata Roni. Namun, sistem itu mesti menggunakan media tanam rockwool agar tanaman mampu menyerap air dari aliran yang membentuk lapisan tipis.

Sudibyo Karsono: Pewaktu menghemat listrik dan memperpanjang umur pompa dengan hasil tetap memuaskan

Sudibyo Karsono: Pewaktu menghemat listrik dan memperpanjang umur pompa dengan hasil tetap memuaskan

Maklum, daya simpan air pada selembar rockwool utuh berukuran 100 cm x 15 cm setebal 7,5 cm mencapai 15 liter, hampir menyamai kapasitas galon air mineral. Sayang, harganya mahal. Harga selembar rockwool berukuran 100 cm x 15 cm setebal 7,5 cm mencapai Rp70.000—Rp90.000, tergantung tempat dan jumlah pembelian. Pekebun memotong-motong rockwool seukuran itu menjadi 1.500 potong media tanam berukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm.

Arang sekam

Sudibyo Karsono di Parung Farm, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merekayasa sistem hidroponik menggunakan media tanam arang sekam. Dengan harga setara selembar rockwool, Sudibyo bisa memperoleh sekarung arang sekam berbobot 30 kg. Jumlah itu cukup untuk media 3.000 tanaman lantaran Sudibyo menggunakan 100 g arang sekam per tanaman. Kelebihan lain, arang sekam bisa digunakan untuk menanam lebih dari sekali. Musababnya sayuran bisa dipanen tanpa media tanam.

Daya simpan air arang sekam memang jauh di bawah rockwool. Akibatnya, bahan itu hanya cocok digunakan sebagai media tanam dalam sistem hidroponik dengan aliran air lebih banyak ketimbang NFT. Itu sebabnya Sudibyo merangkai kit hidroponik menggunakan sistem deep flow technique (DFT), pasang surut alias flood and drain, serta gabungan keduanya.

Untuk memperpanjang masa pakai pompa sekaligus memangkas konsumsi listrik, pria kelahiran 81 tahun lalu itu menggunakan pewaktu (timer). Setiap 15 menit, pompa bekerja selama 5 menit. Tabung pewaktu itu dilengkapi dengan lampu indikator dan 2 kenop putar. Kenop pertama mengatur jeda antarpemompaan, yang bisa disesuaikan dari 5—120 menit hanya dengan memutar kenop. Kenop kedua mengatur waktu pemompaan, yang bervariasi dari 0,5—10 menit. Menanam sayur di rumah pun menjadi murah, hemat listrik, dan tidak perlu waswas dengan pemadaman. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Kartika Restu Susilo)

Deep Flow Technique  (DFT)

Berkebalikan dengan NFT, sistem Deep Flow Technique (DFT) mengalirkan air hingga membentuk kolom setebal 3—5 cm di sekitar media tanam. Konsekuensinya, air dalam tangki mesti lebih banyak untuk mempertahankan oksigen terlarut. Idealnya volume air dalam tangki 5 kali kapasitas air dalam sistem guli. Lantaran air yang mengalir lebih banyak, DFT bisa menggunakan media tanam arang sekam yang tidak terlalu baik menyimpan air. “Media sekadar untuk pegangan akar tanaman. Nutrisi dan air mengandalkan pasokan tangki,” kata Sudibyo.

Baca juga:  Perda Sari Dewi: Ganjaran Gagal Berlibur

Untuk mengantisipasi pemadaman listrik, tinggi pangkal pipa outlet bisa disesuaikan. Semakin tinggi pangkal pipa outlet, semakin banyak air yang tersisa dalam guli. Kit itu cocok diletakkan di tempat yang hanya memperoleh matahari dari 1 arah.

Ukuran       : 1 m x 1,5 m
Tinggi          : 2 m
Kapasitas guli     : 200 l
Populasi     : 60 tanaman
Biaya     : Rp2-juta—3,5-juta (termasuk benih dan pupuk pada penanaman perdana)

532_66

DFT Pasang Surut

Dalam sistem DFT pasang surut, pompa tidak menyala nonstop seperti sistem DFT. Guli juga tidak hanya “dibanjiri”, melainkan dialiri air. Pompa aktif selama 0,5—10 menit setiap 5—120 menit, tergantung pengaturan pewaktu. Sistem gabungan itu juga tidak memerlukan terlalu banyak cadangan air. Volume air dalam tangki cukup 2—3 kali kapasitas sistem guli. Kit itu cocok diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari dari segala arah.

Ukuran       : 1 m x 1 m
Tinggi          : 1 m
Kapasitas guli     : 750 l
Populasi     :  144 tanaman
Biaya     : Rp2-juta—3,5-juta (termasuk benih dan pupuk pada penanaman perdana)

532_67_2

Pasang Surut

Sistem itu menjadikan akar tanaman lebih jarang terendam air. Artinya, tanaman mengandalkan pasokan oksigen  dari udara, bukan dari air sirkulasi. Itu sebabnya sistem flood and drain itu tidak memerlukan banyak air untuk mempertahankan oksigen terlarut. Jumlah air dalam tangki cukup 2 kali kapasitas sistem guli. Kit itu cocok diletakkan di tempat yang memperoleh sinar dari segala arah.

Ukuran       : 1 m x 1,5 m
Tinggi          :  1 m
Kapasitas guli     : 360 l
Populasi     :  99 tanaman
Biaya     : Rp2-juta—3,5-juta (termasuk benih dan pupuk pada penanaman perdana)

532_67

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *