Mari Menanam Moringa 1
Kebun moringa milik Felix Bram Samora di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah.

Kebun moringa milik Felix Bram Samora di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah.

Menanam moringa secara organik untuk cadangan pangan atau olahan. Tanaman tetap tumbuh optimal.

Lahan 3 hektare milik Felix Bram Samora itu semula kebun singkong. Sejak 2015 lahan itu bersalin rupa menjadi hamparan moringa. Dalam setiap hektare jumlah populasi kelor 10.000 tanaman atau total 30.000 tanaman di lahan 3 ha. Dari populasi sebanyak itu Bram—panggilan akrab Felix Bram Samora—memanen rata-rata 1,2 kg daun moringa segar per bulan dari setiap tanaman atau total 36 ton daun kelor segar.

Setelah panen, pekebun moringa—masyarakat Indonesia menyebutnya kelor—di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, lalu mengeringkan daun moringa segar itu kemudian mengolahnya menjadi tepung. Tepung itu daun moringa itu untuk memenuhi permintaan Ir. Ai Dudi Krisnadi yang mengekspor tapung daun malunggay—sebutan moringa di Filipina—ke beberapa negara di Eropa, Asia, dan Afrika.

Tumbuh optimal

Penyiangan gulma harus rutin dilakukan agar tidak bersaing dengan moringa dalam menggunakan nutrisi.

Penyiangan gulma harus rutin dilakukan agar tidak bersaing dengan moringa dalam menggunakan nutrisi.

Menurut Dudi masyarakat di negara-negara tujuan ekspor mengonsumsi tepung daun moringa sebagai bahan pangan bernutrisi tinggi. Itulah sebabnya para importir tepung daun moringa menghendaki bahan baku daun moringa yang dibudidayakan organik. Untuk memenuhi permintaan ekspor itulah Bram membudidayakan moringa secara organik. Kebun itu memperoleh sertifikasi organik dari lembaga sertifikasi Certification of Environmental Standards (Ceres) yang berkantor pusat di Jerman.

Dudi menuturkan moringa mampu tumbuh optimal meski dibudidayakan secara organik. Pasalnya, tanaman anggota famili Moringaceae itu tergolong tanaman bandel. Tanaman asal India itu mampu beradaptasi hingga di lahan berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl). “Namun, pertumbuhannya lebih optimal di lahan berketinggian 300—500 m di atas permukaan laut,” tutur alumnus Universitas Siliwangi itu.

Baca juga:  Seri walet (215): Dari Surya Untuk Walet

Tanaman serbaguna itu juga mampu bertahan hidup di daerah yang rawan kekeringan dan relatif lebih tahan serangan hama dan penyakit. “Oleh sebab itu, tanaman kelor dapat menjadi solusi masalah malnutrisi di daerah-daerah berlahan marginal dan rawan kekeringan,” ujar Dudi yang mengekspor serbuk moringa ke berbagai negara. Pertumbuhan moringa juga relatif cepat. Pada umur setahun setelah tanam tinggi tanaman bisa mencapai 5—7 m.

Menurut Dudi untuk menanam kelor bisa menggunakan bibit asal biji atau hasil setek. Namun, Dudi menyarankan sebaiknya gunakan bibit asal biji karena lebih kokoh dan tahan kekeringan. Itu lantaran perakaran tanaman asal biji lebih dalam.

Plus minus setek

Tanaman asal biji siap panen pada umur 7—8 bulan.Meski moringa relatif mudah dibudidayakan, bukan berarti tanpa perawatan. Menurut Dudi perawatan tetap perlu dilakukan, terutama pemangkasan untuk meningkatkan jumlah percabangan.

582 109

Pekebun juga mesti rutin menyiangi minimal 4 kali setahun untuk menghindari persaingan penyerapan unsur hara tanah, terutama saat tanaman masih muda. Penyiraman juga tetap dilakukan walaupun moringa mampu beradaptasi di lahan yang kering. Dengan begitu pertumbuhan tanaman menjadi optimal sehingga jumlah produksi daun melimpah. (Imam Wiguna)

Tags: herbal, kelor, majalah trubus, moringa, obat tradisional, tanam kelor, tanam moringa, trubus

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *