Mari Belanja di Dunia Maya 1
Lelang sansevieria di dunia maya melesat sejak 3 tahun terakhir

Lelang sansevieria di dunia maya melesat sejak 3 tahun terakhir

Cara baru berbelanja tanaman hias. Kuncinya jujur.

Eep Fatah—nama samaran—seolah tak bisa jauh dari telepon seluler. Peranti berukuran 4 inci itu selalu menemani di mana pun ia berada. Sejak setahun terakhir, pehobi sansevieria itu getol membuka halaman sebuah situs pertemanan paling populer. “Saya sedang ikut lelang sansevieria di facebook,” katanya. Salah satu konsekuensi yang ditanggung peserta lelang seperti Eep memang harus rela meluangkan waktu lebih sering di dunia maya untuk memantau laju lelang tanaman sasaran. Intensitas menyambangi facebook akan semakin tinggi menjelang batas waktu penutupan lelang.

Transaksi jual beli langsung aglaonema via online

Transaksi jual beli langsung aglaonema via online

Waktu sempit

Keuntungan membeli tanaman secara lelang yakni bisa mendapat harga lebih rendah dibanding harga pasar. Dengan catatan pembeli harus bergerak cepat sebelum waktu lelang ditutup. “Telat sedikit saja barang bisa jatuh ke tangan peserta lain,” tutur Eep. Pada Agustus 2013, impian mendapatkan Sanseviera ehrenberghii variegata dengan harga murah lepas dari tanggan Eep. Padahal warga Kota Batu,  Jawa Timur, itu sudah memantengi lelang sejak pagi.

Lelang tanaman berdiameter 10 cm itu dibuka dengan harga Rp10.000. Harga pasaran S. ehrenbergii variegata sekitar Rp500.000. Keyakinan Eep untuk segera memiliki tanaman cantik itu memuncak tatkala tak ada peserta yang memasukkan penawaran lagi saat ia memasang harga Rp350.000. Sayang, dewi fortuna belum berpihak pada Eep. Beberapa detik sebelum penutupan lelang, ada peserta yang berani memasang harga Rp400.000. Lelang ditutup dan Eep gigit jari.

Di tanahair transaksi daring alias online sansevieria sejatinya sudah berlangsung sejak sebelum era situs pertemanan sosial sangat digandrungi. Di Thailand kolektor sansevieria Pramote Rojruangsang malah sejak sekitar 10 tahun lalu sudah memanfaatkan lelang daring. Berkat transaksi itu ia bisa mendapat lidah mertua dambaan dari belahan dunia lain, misal Amerika Serikat.

“Dulu jual beli sansevieria lewat forum Kaskus,” kata Hendra Taruna Wahyu, pehobi sansevieria di Jakarta Pusat. Namun, pengguna forum online itu lebih sedikit sehingga transaksi pindah ke situs pertemanan populer. Hendra melakukan jual beli daring sejak tiga tahun lalu. “Dengan memanfaatkan transaksi online memudahkan pembeli yang tidak punya cukup waktu untuk belanja tanaman ke nurseri,” tuturnya.

Baca juga:  Bojonegoro Berdaulat Pangan

Jual beli daring biasanya ramai menjelang akhir pekan atau awal bulan. “Ada dua jenis transaksi jual beli via facebook yakni lelang dan jual langsung dengan mencantumkan harga,” katanya. Lelang memungkinkan penjual untuk mendapat keuntungan di atas harga pasar. “Peluang untuk mendapat harga jual lebih tinggi dibanding harga pasar dari proses lelang cukup lebar sebab ada faktor gengsi,” katanya.

Pasar luas

Kalaupun harga yang terbentuk lebih rendah dibanding harga pasar, penjual tetap untung sebab tanaman itu laku. Sementara jual langsung tak selalu laku meski harganya lebih jelas. Hendra menuturkan menjual sansevieria lewat media sosial juga membantu memperluas pasar. “Dengan berjualan online pasar luar negeri mudah digapai,” tutur Hendra. Ia berhasil menggaet pelanggan dari India, Brunei Darussalam, Jepang, dan Swiss.

Untuk penjualan online, perancang taman itu memilih sansevieria hasil perbanyakan vegetatif dengan 2—3 daun. “Selain memudahkan pengiriman, tanaman hasil perbanyakan vegetatif pasti memiliki karakter sama dengan induk. Jadi calon pembeli tidak ragu seperti apa bentuk tanaman nantinya saat dewasa,” kata Hendra.

“Kejujuran dan kepercayaan wajib dijunjung tinggi dalam bisnis online,” kata Eddy Santoso (kanan) dan Eko Setyoadi (kiri)

“Kejujuran dan kepercayaan wajib dijunjung tinggi dalam bisnis online,” kata Eddy Santoso (kanan) dan Eko Setyoadi (kiri)

Di tanahair tren jual beli dengan memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook dan twitter mulai menggeliat 3 tahun belakangan. Ketua Laboratorium Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran, Dr Tomy Perdana SP MM, menuturkan saat ini media daring sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehingga pemanfaatannya untuk mempermudah transaksi jual beli merupakan cara yang efektif. “Hanya saja risikonya lebih tinggi dibanding transaksi jual beli nyata, penjual dan pembeli bertemu di satu tempat,” katanya.

Tomy menuturkan dalam transaksi online aspek kejujuran dan kepercayaan harus dijunjung tinggi. Penjual dan pembeli harus membuat akun asli. Calon pembeli sebaiknya memperhatikan jumah pengunjung dan transaksi yang terjadi pada akun penjual. “Banyaknya jumlah pengunjung dan transaksi pada akun penjual menandakan tingkat kepercayaan konsumen,” kata Tomy. Bagi pembeli yang ingin mengikuti lelang sebaiknya mempelajari harga pasar barang yang ditawarkan agar tercipta harga rasional. Sementara bagi penjual selama bisa menjaga kepercayaan konsumen dan kualitas barang, jual beli online dapat memicu pertumbuhan bisnis lebih cepat.

Baca juga:  Fulus dari Pleurotus

Asas kejujuran

Aktivitas jual beli online juga menyambangi ranah aglaonema. Menurut Eddy Santoso, pehobi aglaonema di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, cikal bakal transaksi daring sang ratu daun ketika Perhimpunan Aglaonema Indonesia (PAI) membuka sebuah website di salah satu situs mesin pencari. “Seiring perkembangan teknologi, halaman itu mulai ditinggal pengunjung yang beralih ke media sosial,” kata Eddy.

Pemilik nurseri Redleaf Garden itu menuturkan penjualan online meningkatkan total penjualan. Apalagi bagi penjual aglaonema yang tidak mempunyai kebun. “Ibarat sebuah perusahaan yang membuka website pribadi untuk memperkenalkan diri demi meningkatkan penjualan,” kata Eddy.

Ia menuturkan penjual via daring harus mengunggah foto asli tanaman yang akan ditawarkan. “Mencantumkan keterangan dan kondisi tanaman yang sebenarnya adalah sebuah kewajiban,” katanya. Gunakan benda pembanding agar calon pembeli mengetahui ukuran tanaman secara pasti. Jika tanaman yang sudah terjual mengalami kerusakan saat akan dikirim, penjual harus segera memberi tahu calon pembeli untuk menjaga asas kejujuran.

Eko Setyoadi, pehobi aglaonema di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, memilih jual langsung alias mencantumkan harga pada foto aglaonema yang dijual. “Dengan cara itu penjual dan pembeli diuntungkan sebab sudah ada kepastian harga dan kualitas tanaman,” katanya. Calon pembeli pun tidak perlu berlama-lama memantau transaksi. “Siapa cepat dia dapat,” katanya.

Eko menuturkan jujur memang kunci utama bertransaksi di dunia maya. Istilah penjual dan pembeli nakal sudah biasa. Ia pernah mencicipi apes. Calon pembeli tidak mengonfirmasi pengiriman uang padahal sudah terjadi kesepakatan harga. “Pendekatan pribadi antara penjual dan pembeli adalah kunci untuk saling jujur,” katanya.  Dengan modal itu mari belanja di dunia maya. (Andari Titisari/Peliput: Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments