575_ 16-11Ini konsekuensi bagi Agus Utomo, S.Pd.Si. yang melakoni perani ganda. Setiap hari setelah Subuh, Agus Utomo pergi ke sawah untuk mengecek kondisi tanaman. Pukul 07.00 ia pulang dari sawah dan membantu pekerjaan di toko kelontong miliknya. Pukul 09.00 barulah ia berangkat mengajar di sekolah yang berada di kecamatan yang sama dengan rumahnya. Agus Utomo harus pintar membagi waktu.

Harap mafhum, ketika pagi ia menjadi guru Matematika di Madrasah Aliyah Darul Ulum, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Pahlawan tanpa tanda jasa itu menunaikan tugas sebagai guru dengan sepenuh hati. Pria berusia 32 tahun itu meminta untuk tidak menjadi wali kelas atau membina ekstra kurikuler di Madrasah Aliyah Darul Ulum. Tujuannya agar ia tetap bisa bertani. Tengah hari, sekitar pukul 12.00—13.00, Agus pulang untuk makan siang dan mengaso sejenak.

Setelah itu ia langsung meluncur ke sawah sampai pukul 16.00. Sebagai petani, penghasilan Agus melebihi jumlah gaji guru-guru lain di sekolahnya. Itu sebabnya Agus memilih menjadi petani dan ia terbukti berhasil. Kesuksesan itu menginspirasi beberapa rekan mengikuti jejaknya. Sejak 2013 sampai sekarang, temannya yang sama-sama berusia permulaan 30-an dan ikut menjadi petani ada sekitar 10 orang. Agus Utomo membuktikan bahwa pertanian layak menjadi mata pencaharian bagi generasi muda. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: bertani, guru, trubus

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d