Manjakan Para Penarik Kail 1
Pemancingan National Fishing Ground-Balong Hardi Sumedang memberikan pelayanan terbaik kepada para pemancing.

Pemancingan National Fishing Ground-Balong Hardi Sumedang memberikan pelayanan terbaik kepada para pemancing.

Pengelola pemancingan meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan pemancing.

Agus Tundung Witanto tetap semringah meski tidak mendapat hasil maksimal. Ia hanya memperoleh 25 ikan mas Cyprinus carpio ketika mancing pada April 2015. Sementara sang juara mendapat 35 ikan. Bobot rata-rata ikan terkail 3—5 kg per kg. Agus Kroto—sapaan akrab Agus di pemancingan—juga gagal mengail ikan indukan.

Harap mafhum, Agus baru kali pertama memancing di kolam seluas 7.072 m2 itu. Sebetulnya target utama pemancing dari Ciledug, Kota Tangerang, Provinsi Banten, itu menguji coba umpan. Tujuannya untuk mengetahui aroma umpan kesukaan ikan, yang lembut atau keras. Sebab, “Beda kolam, berbeda pula aroma umpannya, meskipun jenis ikan sama,” kata pemancing yang ikut lomba mancing sejak 2007 itu.

Pemancing leluasa menarik ikan karena ukuran lapak relatif luas.

Pemancing leluasa menarik ikan karena ukuran lapak relatif luas.

Kenyamanan
Menurut Agus hasil memancing di kolam baru tidak terlalu bagus karena pemancing belum mengetahui karakter ikan. Jadi wajar jika hasil pancingan Agus tidak sesuai harapan. Namun, jika penarik kail mengetahui umpan kesukaan ikan, peluang mendapat hasil maksimal pun tinggi. Yang membuat Agus tetap senang meski tidak mendapat hasil maksimal adalah kondisi lapak yang bersih dan rapi serta luas.

“Kami memang merancang tempat ini agar pemancing merasa lebih nyaman,” kata pengelola National Fishing Ground-Balong Hardi Sumedang (NFG-BHS), Adi Ardiansyah. Menurut pemancing senior di Pondokaren, Tangerang Selatan, Banten, Sumaryono, kenyamanan saat memancing penting. Pemancing merasa terganggu jika kolam kotor dan lapak becek. Jika keadaan itu tidak berubah, pemancing enggan datang lagi.

Sumaryono mengatakan, “Sekarang pengelola pemancingan menyadari pentingnya kenyamanan pemancing.” Sepengamatan Sumaryono sejak 2012 banyak pemancingan yang mulai meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Pemancingan ideal itu bila fasilitas lengkap dan bersih, ikan senang menyambar umpan, dan sistem penjurian yang bagus. Dua hal yang disebut terakhir itu yang paling utama.

Agus Kroto senang bisa memancing di NFG-BHS.

Agus Kroto senang bisa memancing di NFG-BHS.

Pada dasarnya orang datang ke pemancingan untuk memancing ikan. Jadi pemancingan dengan ikan yang senang menyambar umpan yang menjadi pilihan favorit pengail. Apalagi jika sistem penjurian di kolam itu baik. Misal jumlah ikan yang dilepaskan sesuai dengan kesepakatan, penentuan posisi lapak adil dan terbuka, serta penimbangan ikan yang benar.

Baca juga:  Arang Bergelimang Dolar

Teduh
Menurut Sumaryono, “Jika semua hal itu (fasilitas lengkap dan bersih, ikan senang menyambar umpan, dan sistem penjurian yang bagus, red) terpenuhi pemancing senang datang ke kolam meski fasilitas sedikit kurang memadai.” kata Kang Ito, sapaan akarab Sumaryono. Pemancingan NFG-BHS, misalnya, berkapasitas 68 lapak jika lebar lapak 3,9 m. Padahal, pengelola pemancingan bisa saja meningkatkan jumlah lapak menjadi 86 jika lebar lapak 3 m.

Lantai lapak berlapis keramik. Pemancing juga nyaman karena setiap lapang ternaungi dari sinar matahari. Bandingkan dengan lapak di pemancingan lain yang hanya kurang dari 2 m dan terbuat dari campuran semen dan pasir yang dihaluskan. Lapak yang luas membuat pemancing leluasa “bertarung” dengan ikan. Apalagi bobot ikan di pemancingan yang berlokasi di Desa Margamukti, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu termasuk berat.

Ikan paling ringan berbobot 3 kg, sedangkan terberat lebih dari 13 kg. Pengelola memilih ikan mas karena paling banyak diminati. Lebih lanjut Agus mengatakan NFG-BHS adalah kolam terbaik yang pernah ia datangi seumur hidup. “Pertama kali saya datang pemancingan itu terlihat mewah,” ucap pemilik toko perlengkapan mancing itu.
Mancing eksekutif lazimnya berlangsung sekali dalam sebulan dengan hadiah mencapai ratusan juta rupiah.

Sementara pemancingan reguler berlangsung setiap hari, kecuali Kamis. Namun, pengelola NFG-BHS justru menutup pemancingan setiap Kamis. Tujuannya agar petugas bisa membersihkan dan merawat kolam. Peserta berasal dari berbagai daerah seperti Bandung dan Jakarta.

Penimbangan ikan di NFG-BHS menggunakan teknologi komputer. Bobot ikan yang terpancing dan ditimbang langsung terpampang di layar besar di atas naungan lapak sehingga setiap pemancing bisa melihatnya. NFG-BHS adalah kolam pemancingan keluarga di lahan 1,4 ha. Pemancingan yang berdiri pada 2013 itu dilengkapi berbagai fasilitas untuk kenyamanan pemancing. Misal lobi khusus pemancing, lobi khusus caddy (asisten pemancing), karaoke, restoran, dan penginapan.

Nafsu makan ikan yang tinggi salah satu kunci keberhasilan mengelola kolam pemancingan.

Nafsu makan ikan yang tinggi salah satu kunci keberhasilan mengelola kolam pemancingan.

Total ada 8 kamar yang disewakan dengan fasilitas lengkap di dalamnya seperti televisi, pendingin ruangan, dan kamar mandi. Pengelola juga menyediakan tempat bermain anak sehingga pemancing bisa membawa keluarga. Tempat lain yang menawarkan kenyamanan yakni Pemancingan Lembah Gunung Kujang (LGK), Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pemancingan yag berdiri pada September 2011 itu memiliki fasilitas lengkap seperti area parkir luas, rumah makan khas Jawa Barat, dan toko peralatan pancing.

Baca juga:  Semarak Taman Floria

Kolam utama pemancingan berukuran 148 m x 50 m x 1,2 m dan berisi 23 ton ikan mas. Lapak terlihat bersih dan bernaung. Kolam pemancingan pun tanpa kotoran sama sekali dan berwarna hijau bening. Suasana sejuk semakin menambah kenyamanan memancing. Apalagi ikan senang menyambar umpan. Pengelola sadar betul kunci keberhasilan kolam tergantung pada kelahapan ikan. Oleh karena itu, petugas memberikan daun kecombrang Nicolaia speciosa agar nafsu makan ikan meningkat. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments