Pendiri Burgreens, Helga Angelina, terbebas dari berbagai penyakit setelah menjadi vegetarian.

Pendiri Burgreens, Helga Angelina, terbebas dari berbagai penyakit setelah menjadi vegetarian. (Foto: Helga Angelina)

Bukan sekadar menjual bahan pangan, Burgreens juga mendidik konsumennya untuk hidup sehat.

Penampilan tiga burger mini di sebuah nampan begitu memikat dengan microgreen pakcoi sebagai hiasan atau garnish. Rotinya lebih bertekstur lantaran terbuat dari biji gandum. Mini trio—nama menu burger itu—unik karena tidak berisi daging seperti lazimnya burger lain. Makanan itu malah memanfaatkan kacang merah, jamur, dan bayam sebagai bahan baku isi burger sebagai pengganti daging.

“Kami menggunakan bahan baku nabati,” kata pemilik resto makanan sehat Burgreens, Helga Angelina. Selain mini trio, menu andalan lain Burgreens adalah big max, vegan hot dog, greenonigiri platter, burgreens steak, dan tempeh gomashio. Burgreens juga menyediakan aneka minuman sehat seperti lean green yang terbuat dari kale, bayam, nanas, mentimun, dan lemon.

Gaya hidup sehat
Ada pula immune force berbahan baku nanas, pakcoi, bayam, dan jahe. Tujuan pembuatan makanan berbahan nabati agar orang awam mulai mengonsumsi makanan sehat itu. Pengunjung restoran itu sangat ramai. Sayang, Helga enggan menyebutkan omzet dari restoran Burgreens yang berdiri pada 2013.

Big max, salah satu menu andalan Burgreens.

Big max, salah satu menu andalan Burgreens. (Foto: Helga Angelina)

Nama itu berasal dari kata burger dan green. Burger menggambarkan makanan cepat saji (fast food), sedangkan green mengacu pada bahan nabati yang ramah lingkungan karena organik dan menyehatkan tubuh. Buktinya kondisi seorang pelanggan penderita kanker yang menurut dokter hanya memiliki sisa umur 3 bulan tetap sehat. “Sebuah kebahagiaan tersendiri melihat seseorang lebih sehat berkat mengonsumsi makanan sehat,” kata Helga.

Burgreens berkomitmen menyajikan makanan sehat berbahan nabati. Oleh sebab itu, Helga menggunakan bahan-bahan pilihan seperti nektar lontar sebagai pemanis. Nektar lontar memiliki indeks glikemik (IG) rendah 35. Bandingkan dengan gula pasir yang memiliki nilai IG 90.

Indeks glikemik mengindikasikan seberapa cepat tubuh mengubah karbohidrat dalam makanan menjadi gula. Lantaran memiliki IG rendah, makanan menjadi lebih aman untuk orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Helga tidak menggunakan minyak kelapa sawit, tetapi lebih memilih minyak kelapa. Sementara untuk bahan pembuatan roti ia memanfaatkan gandum.

Salah satu cabang Burgreens di Pacific Place, Jakarta.

Salah satu cabang Burgreens di Pacific Place, Jakarta. (Foto: Helga Angelina)

Burgreens satu-satunya restoran di Jakarta yang menggunakan bahan nabati dan peduli lingkungan. Meski restoran itu mengadopsi menu mancanegara, tetapi bahan baku dan rempah berasal dari dalam negeri. Sebut saja jamur, tahu, tempe, bayam, dan kacang merah. “Burgreens bukan hanya bisnis yang mencari keuntungan, tetapi juga peduli efek sosial dari bisnis ini,” kata perempuan berusia 26 tahun itu.

Baca juga:  Kista Tumor Jinak

Bahan baku berasal dari tumbuhan dan tidak menggunakan bahan hewani. Harap mafhum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan peternakan penyebab utama perubahan iklim di dunia. Gas metan dalam kotoran hewan 20 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan karbondioksida. Oleh sebab itu, Helga tidak menggunakan daging dalam sajian menu.

Sekitar 65% bahan baku makanan organik. Ia bekerja sama dengan 200-an petani di berbagai wilayah sesuai komoditas. Helga mengandalkan petani di Cipanas, Jawa Barat, untuk memasok sayuran organik. Sementara kakao organik dari Lampung, beras organik (Banyuwangi), rumput laut (Kupang), ubi (Subang), jamur (Dieng dan Cipanas), nektar lontar (Bali).

Greenonigiri platter, menu andalan Burgreens berbahan onigiri beras merah, jamur teriyaki, dan salad jepang.

Greenonigiri platter, menu andalan Burgreens berbahan onigiri beras merah, jamur teriyaki, dan salad jepang. (Foto: Helga Angelina)

Tidak hanya menyediakan makanan sehat, Burgreens juga kerap mengadakan kampanye hidup sehat dua kali sebulan. Tema setiap kegiatan beragam. Pada September 2017 tema kegiatan yaitu makanan sehat bagi ibu hamil dan menyusui.

Sakit
Helga mengelola Burgreens bersama suaminya, Max Mandias. Agar pengelolaan maksimal, Helga dan Max berbagi tugas. Perempuan ramah itu berperan di bagian pemasaran dan kantor, sedangkan Max menangani produksi seperti pemilihan bahan baku, standar bahan, dan kontrol kualitas. Pemilihan menu hasil kreasi Max beserta tim. Untuk menjaga kualitas produk, Helga juga menerapkan sistem dapur terpusat dan stok minimum bahan.

Ide mendirikan resto makanan sehat ketika Helga dan Max—yang kala itu belum menjadi suami istri—belajar di Arnhem, Belanda. Helga dan Max memiliki kesamaan, yakni keduanya vegetarian. Lantaran menyukai makanan sehat, apalagi Max juga hobi memasak, muncullah ide membuka restoran makanan sehat.

Vegan hot dog, berbahan baku kacang polong dan sayuran organik

Vegan hot dog, berbahan baku kacang polong dan sayuran organik (Foto: Helga Angelina)

Makanan penting bagi kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan manusia. Lazimnya masyarakat hanya mencari makanan murah dan enak, tanpa memikirkan ketiga hal itu. “Sepertinya seru jika kita memiliki usaha berkonsep healthy fast food. Kita dapat mempromosikan makan sehat dengan cara menyenangkan sehingga orang-orang mau mencoba,” kata Helga. Sejatinya ia mulai mengonsumsi makanan sehat sejak usianya 15 tahun.

Sejak kecil Helga menderita berbagai penyakit kronis seperti asma, eksem, dan sinusitis. Parahnya lagi ia alergi dengan 20 bahan makanan. Dampaknya ia bisa pingsan tiba-tiba. Oleh sebab itulah, Helga mesti menggunakan alat bantu pernapasan. Anak kedua dari tiga bersaudara itu juga rutin mengonsumsi antibiotik untuk menjaga stamina atas anjuran sang ibu yang berprofesi dokter.

Budidaya sayuran dilakukan secara organik.

Budidaya sayuran dilakukan secara organik. (Foto: Helga Angelina)

Konsumsi obat kimia terlalu lama menimbulkan efek samping. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan, kondisi ginjal dan lever Helga kurang baik akibat terlalu banyak mengonsumsi obat. Dari situ Helga mulai mencari dan membaca alternatif penyembuhan diri. Ia menemukan buku yang menyarankan penyembuhan penyakit melalui nutrisi makanan.

Baca juga:  Bugar Berkat Hujan

Berkembang
Perlahan ia mulai mengubah pola makannya menjadi 80% berbahan nabati. Hasilnya kondisi Helga membaik sehingga ia mengonsumsi makanan berbahan 100% nabati. Keluhan pusing dan insomnia sirna setelah perempuan yang berdomisili di Serpong, Tangerang Selatan itu menerapkan pola makan sehat selama 2 tahun. Helga tidak lagi mengonsumsi obat kimia sejak 2007. Kebiasaan mengonsumsi makanan sehat pun berlanjut hingga kini.

Setelah menyelesaikan studi di Belanda, Helga memulai bisnis makanan sehat pada November 2013 di Rempoa, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. “Target pasar orang-orang yang ingin makan sehat tetapi tidak memiliki waktu untuk menyiapkan sendiri,” ujarnya. Saat itu ukuran restoran sangat kecil, bahkan bisa dibilang mirip kantin. Tenaga kerja pun tidak ada, hanya Helga dan Max.

Burgreens mengadakan kegiatan kampanye hidup sehat  dua kali sebulan.

Burgreens mengadakan kegiatan kampanye hidup sehat dua kali sebulan. (Foto: Helga Angelina)

Perlahan tapi pasti usaha Helga berkembang pada 2014. Pada 2015 ia membuka cabang di Tebet, Jakarta Selatan. Selang setahun pada 2016 ia membuka cabang di Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Bahkan pada 2017 ia memindahkan restoran di Rempoa ke Pacific Place, Jakarta. Yang paling anyar, pada Oktober 2017 ia merencanakan membuka cabang baru di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Kini total karyawan Helga 70 orang.

Bagi Helga dan suami mengembangkan usaha dari nol tidak semudah membalik tapak tangan. “Berbagai masalah datang dari mana saja bahkan pada waktu bersamaan,” ujarnya. Apalagi keduanya tidak memiliki pengalaman di bidang itu. Helga pernah bekerja di bidang pemasaran, sedangkan Max bekerja di bidang teknologi informasi ketika di Belanda. Menurut Helga setiap tahun tantangan mengembangkan bisnis restoran makanan sehat berbeda.

Pada tahun pertama keduanya merasa sangat lelah karena bekerja 14 jam sehari selama sepekan. Sudah begitu tidak ada pendapatan sama sekali.Pada tahun kedua tantangan lebih ke konsistensi kualitas makanan. “Dua tahun pertama adalah masa-masa paling sulit,” kata Helga. Sementara masalah pada tahun ketiga antara lain konsistensi kualitas dan manajemen kapasitas karyawan.

Helga dan suami, Max Mandias, mengembangkan Burgreens sejak 2013

Helga dan suami, Max Mandias, mengembangkan Burgreens sejak 2013 (Foto: Helga Angelina)

Bertahan
Sebetulnya pada tahun kedua Helga hampir menyerah. Tingkat stres yang ia alami sangat tinggi. Bahkan ia berencana kembali bekerja seperti semula. Kedua orang tua Helga dan Max pun prihatin melihat kondisi mereka. “Orang tua menyuruh kembali bekerja seperti sebelumnya,” kata Helga.

Namun setelah ia berbicara dengan banyak pengusaha, semangatnya kembali berkobar. Helga dan suami terus bertahan dengan manajemen stres yang lebih baik. Berkat kesabaran, kerja keras, dan pantang menyerah Helga dan Max mampu melalui berbagai hambatan.

Pada 2016 Helga menerima penghargaan dari Forbes “30 under 30 Asia” kategori art. Helga juga meraih penghargaan dari Liputan 6 kategori perempuan hebat pada 2017. Dari restoran, mereka berupaya memanjakan kaum nabatiwan yang tak mengonsumsi daging dan ikan. Keruan saja, mereka juga menyebarkan gaya hidup sehat untuk masyarakat. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d