Manisnya Bisnis Tanaman Hias Air Aquascape

Harga tanaman hias air memang relatif murah. Permintaan yang menggunung menyebabkan omzet juga melambung.

Ketika mentari tenggelam, aktivitas di perusahaan Aquatic Plant Indonesia justru baru mulai. Para pekerja sibuk menyortir tanaman air yang datang dari petani mitra. Mereka lalu memotong pangkal tanaman agar berukuran seragam.

Untuk jenis tanaman tertentu, para pekerja menyatukan beberapa batang tanaman, lalu membalut bagian pangkal batang dengan spons. Pekerja lantas mengikatnya dengan lempengan timah sebagai pemberat.

Tanaman hias air,tanaman aquascape,tanaman akuarium

Tanaman hias air berharga relatif murah, tapi permintaannya sangat banyak.

Pemilik perusahaan pemasok tanaman hias air, Insan Maulana, mengatakan bahwa pemberat itu agar tanaman tetap di dasar akuarium untuk aksesoris aquascape.

Ada juga tanaman yang dibalut spons dan timah, lalu ditempatkan dalam pot plastik kecil. Itulah kegiatan perusahaan ekspor di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Karyawan lain mencuci seluruh tanaman yang lolos sortir hingga benar-benar bersih dari lumpur.

Kampung Salada, budidaya tanaman hias air

Warga di Kampung Salada membudidayakan tanaman hias air di halaman belakang rumah.

Pasar ekspor tanaman hias air

Menurut Insan jika lumpur melekat di akar, akan mengotori air saat tanaman dimasukkan ke dalam akuarium. “Lumpur juga bisa menjadi sarang bakteri dan telur siput yang menjadi hama tanaman hias air,” kata Insan Maulana.

Tanaman yang sudah bersih lalu ditiriskan agar tanaman tidak terlalu basah ketika dikemas. Para karyawan lantas mengemas tanaman yang sudah tiris dalam kantong plastik transparan, lalu memasukkan ke dalam kotak stirofoam beralas es.

Cabomba sp,tanaman hias air

Cabomba sp, salah satu tanaman hias air yang paling banyak diminta pasar ekspor.

Jumlah tanaman dalam kemasan disesuaikan dengan permintaan para importir. Beberapa tanaman yang jumlah permintaannya banyak, seperti Cabomba sp. langsung dikemas dalam kotak stirofoam. Insan lalu mengangkut tanaman itu ke bandara pada dinihari, 3—4 jam sebelum pesawat lepas landas.

Insan rutin mengirim tanaman hias air untuk ekspor dua kali dalam sepekan, yaitu pada Ahad dan Selasa. “Namun, terkadang pengiriman bisa sampai 4 kali sepekan jika permintaan sedang banyak,” tutur pemasok tanaman air sejak 1998 itu.

Dalam sebulan Insan mengirim 3-juta—5-juta batang tanaman ke berbagai negara seperti negara-negara di Benua Eropa dan Jepang. Harga jual tanaman bervariasi, tergantung jenis dan pengemasan. “Untuk tanaman yang dikemas dalam pot harganya Rp2.900 per pot,” kata Insan.

Insan Maulana,pemasok tanaman hias air

Insan Maulana, memasok tanaman hias air untuk ekspor sejak 1998.

Total jenderal, omzet Insan Rp100-juta per bulan. “Keuntungan bersih minimal Rp25-juta per bulan,” tutur pria yang juga perancang aquascape itu. Nun di Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Matali juga mengekspor aneka jenis tanaman hias air ke berbagai negara seperti Jerman, Belanda, dan Jepang.

“Jerman baru saja mulai. Saya juga mengekspor ke Kanada, Thailand, dan Korea, melalui eksportir ikan hias,” ujar Matali.

Menurut pemilik Golden Leaf Aquatic Farm itu Belanda tergolong paling rutin mengimpor. Mereka biasanya menyetor dana Rp20-juta—Rp70-juta per bulan. “Jumlah uang itu cukup untuk mengirimkan 4—9 kotak styrofoam tanaman, tergantung ukuran tanaman,” kata ayah 4 anak itu.

Kendala bisnis tanaman hias air

Meski menggiurkan, sejatinya berbisnis tanaman hias air banyak aral. Menurut Insan jumlah pasokan dari perusahaannya yang mencapai 3-juta—5-juta tanaman per bulan sebetulnya masih kurang. Namun, ia sulit menambah pasokan karena budidaya tanaman air membutuhkan lahan khusus.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x