Manisnya Bisnis Benih Tanaman 1

Program berkebun yang semakin meluas meningkatkan tren bisnis benih tanaman nasional.

Lahan sempit bukan halangan bagi Agus Arifin untuk berkebun. Pria yang berdomisili di Jakarta Barat itu sejak 2011 menanam beragam sayuran di halaman rumah berukuran 2 m x 10 m. Di lahan 20 m2 itu ia menanam beragam sayuran seperti mentimun, terung, tomat dan cabai.

Untuk menyiasati sempitnya lahan, Agus menanam beragam sayuran dalam wadah pot. Sementara untuk media tanam, ia menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang. Dari pot-pot itulah ia bersama istri memanen terung, sawi, oyong, cabai, dan kacang panjang setiap hari. “Lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Pertanian perkotaan

Bercocok tanam ala Agus atau urban farming belakangan memang sedang menjamur. Para pelaku pertanian kota itu biasanya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam. Tak jarang pekarangan sempit pun tetap dimanfaatkan dengan menggunakan wadah penanaman berupa pot, bambu, atau talang air yang disusun bertingkat.

Prospek bisnis benih tanaman lokal semakin cerah
Prospek bisnis benih tanaman lokal semakin cerah

Menurut Glenn Pardede, managing director PT East West Seed Indonesia (Ewindo), potensi urban farming di Indonesia masih sangat besar. Dari 10,3—juta hektar lahan pekarangan yang belum dimanfaatkan, lebih dari 30% ada di perkotaan.

“Program pertanian perkotaan diharapkan dapat menopang kebutuhan pangan sehat dan meningkatkan perekonomian keluarga,” ujarnya.

Untuk mendukung progam itu, PT Ewindo atau yang dikenal Cap Panah Merah meluncurkan program pertanian perkotaan bernama Marunda Hijau Bersama Panah Merah. Marunda Hijau akan menjadi pusat pelatihan budidaya hortikultura. Selain itu juga menjadi pusat pembibitan untuk produksi bibit khusus penanaman di perkotaan.

Komoditas yang disiapkan pun beragam, mulai jenis sayuran hingga tanaman hias. Benih sayuran yang disiapkan seperti seledri, mentimun, kangkung, peria, bayam merah, pakchoi, cabai rawit, dan tomat. Sementara benih tanaman hias seperti bunga matahari, celosia, zinnia, dan salvia.

Baca juga:  Saatnya Panen Bunga Kol di Talang Air
Bayam merah, salah satu sayuran yang disiapkan untuk program pertanian perkotaan
Bayam merah, salah satu sayuran yang disiapkan untuk program pertanian perkotaan

Jika Ewindo melakukan program pertanian perkotaan, PT Mulia Bintang Utama mengenalkan benih ke sekolah-sekolah di sekitar Bogor, Jawa Barat. Tujuannya, “Mengajak anak-anak untuk menanam,” ujar Abdul Hamid, direktur utama PT Mulia Bintang Utama.

Majalah Trubus juga melakukan hal senada. Trubus mengadakan program bagi-bagi benih bekerja sama dengan beberapa produsen benih nasional. Benih yang disebarkan pun beragam, mulai dari tomat, kangkung, bayam, caisim, dan cabai. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Jawa Barat pun melakukan hal serupa. Mereka menanam beragam sayuran dengan konsep mengoptimalkan pekarangan untuk kegiatan produksi pertanian.

Tren urban farmin

Urban farming boleh jadi sebagai salah satu pemicu meningkatnya tren perbenihan nasional. Apalagi dengan adanya Undang-undang nomor 13 tahun 2010 tentang hortikultura yang membatasi peran pihak asing dalam memenuhi kebutuhan benih nasional. Itu semakin mendorong terdongkraknya bisnis benih buah/ benih sayuran di tanah air.

Undang-undang nomor 13 tahun 2010 tentang hortikultura, pasal 100 ayat 3 menyebutkan, besarnya penanaman modal asing dibatasi paling banyak 30%.

Sementara itu Pasal 131 ayat 2 menyebutkan dalam jangka waktu 4 tahun sesudah undang-undang itu mulai berlaku, penanaman modal asing yang sudah melakukan penanaman modal dan mendapatkan izin usaha wajib memenuhi ketentuan dalam Pasal 100 ayat 2, 3, 4, dan 5.

Itu artinya pasal-pasal itu semakin membatasi peran pihak asing dalam memenuhi kebutuhan benih dalam negeri.

Naiknya benih nasional turut dirasakan PT Benih Citra Asia (BCA), produsen benih di Jember, Jawa Timur. Menurut Syahri Pane, bagian riset dan pemasaran PT BCA, mereka mengalami kenaikan omzet 30% per tahun. Bahkan sampai 70% pada 2010—2012. “Volume penjualan benih meningkat 30% per tahun,” ujarnya.

Afrizal Gindow, direktur pemasaran PT Ewindo sepakat. “Benih hortikultura mengalami peningkatan 9—10% setiap tahun,” ujarnya. Perusahaan benih yang berdiri sejak 1990 itu memiliki kapasitas produksi 6.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan benih nasional 13.000—14.000 ton per tahun.

Baca juga:  Jengkol Enak dan Tanpa Bau

“Kami mencukupi 45% permintaan pasar nasional,” tambahnya. Untuk memenuhi permintaan benih itu, PT Ewindo bermitra dengan sekitar 7.000 petani di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Penanaman beragam sayuran di pekarangan BPTP Jawa Barat
Penanaman beragam sayuran di pekarangan BPTP Jawa Barat

Agar tetap diminati konsumen, para produsen benih itu selalu melakukan inovasi. PT Ewindo misalnya. “Kami mengeluarkan minimal 10—11 benih baru setiap tahun,” tutur Afrizal. Sebagai andalan produk, PT Ewindo mengandalkan cabai tahan layu bakteri, jagung manis produksi tinggi, dan tomat tahan virus.

Inovasi juga dilakukan PT Platinum Seed. Sebagai produk andalan, mereka mengunggulkan kol bunga dan melon. Keistimewaan kol bunga produksi tinggi, 700—1.000 gram per pohon. Sementara melon 2,5—3 kg per buah. “Rasanya manis dan tahan penyakit,” ujar Iwan Setiawan, direktur PT Platinum Seed.

Produsen benih lain, PT BCA mengunggulkan benih cabai, tomat, terung, peria, semangka, dan buncis. Kelebihan benih produksi BCA tahan cuaca ekstrem dan kemampuan produksi tinggi. Yang paling utama, Benih tahan virus dan bakteri. Untuk riset sendiri PT BCA memiliki lahan seluas 10 ha.

Para produsen benih itu optimis bisnis perbenihan semakin cerah ke depannya. Sebab, “Ketahanan dan kedaulatan pangan semua berawal dari benih,” ujar Abdul Hamid. Apalagi konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia hanya 36 kg per kapita per tahun. Angka itu separuh dari angka rekomendasi Badan Pangan Dunia, Food and Agricultural Organization (FAO).

FAO menyaratkan angka konsumsi sayuran dan buah idealnya 80 kg per kapita per tahun. “Itu semakin meningkatkan prospek benih ke depannya,” ujar Afrizal. Apalagi ketika pertanian perkotaan makin tren di berbagai kota, benih lokal seperti tengah berbulan madu.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *