Pingpong di lahan gambut diperkirakan panen perdana pada Maret—April 2014

Pingpong di lahan gambut diperkirakan panen perdana pada Maret—April 2014

Pasangan Freddy Saconk dan Dian Rahmawati sukses membudidayakan lengkeng di lahan gambut yang semula tergenang air dan masam.

Semula lahan gambut setebal 2 meter di tepi Sungai Kahayan itu selalu tergenang. Hanya tanaman rawa seperti gelam yang mampu bertahan hidup di sana. Kini di atas lahan tumbuh 180 lengkeng Dimocarpus longan organik yang tengah pamer bunga. Di sela tajuk terselip beberapa tangkai yang mulai diisi pentil dan buah muda. Pada Desember 2013, beberapa dompol pingpong yang mulai matang rasanya tercecap manis.

Mereka nekat “menyulap” lahan telantar seluas 2 ha di Pulangpisau, Kalimantan Tengah, itu 3 tahun silam. Mereka menyewa ekskavator untuk menggali tanah sedalam 2,5—3 m, lalu menumpuk tanah galian di samping lubang yang memanjang. Tumpukan galian dibentuk galangan besar selebar 4 m sepanjang 180 m. Namun, apa lacur tinggi timbunan tanah kurang memadai. Galangan tetap tergenang saat pasang harian air laut datang. Padahal tinggi galangan minimal 50 cm di atas air agar tanaman hidup nyaman.

 

Pasangan suami istri Freddy Saconk dan Dian Rahmawati rogoh Rp400-juta demi menanam lengkeng di lahan rawa

Pasangan suami istri Freddy Saconk dan Dian Rahmawati rogoh Rp400-juta demi menanam lengkeng di lahan rawa

Surjan

Freddy dan Dian tak putus asa. Keduanya lantas membeli tanah hingga 500 truk tronton senilai Rp200-juta dari lahan berjarak  8 km. “Mungkin banyak yang tak percaya, untuk membuat galangan saja kami merogoh Rp400-juta,” kata Freddy. Dengan tambahan tanah dari luar itu tinggi galangan menjadi 60 cm dari genangan air tertinggi. Meski begitu saat pasang bulanan—ketika bulan purnama—galangan tetap terendam. Dian menyiasati dengan membuat lagi gundukan ukuran 2 m x 2 m x 1 m di atas galangan.

Bahan gundukan tak melulu tanah urukan. Mereka mengombinasikan dengan pupuk hijau rumput hasil fermentasi selama sebulan. Bentuk gundukan seperti asbak besar dari tanah liat. Tanah urukan sebagai asbak dan pupuk rumput untuk isinya. Fredy menanam lengkeng diamond river dan pingpong di tumpukan bahan organik itu. Jika tak ada aral melintang, pasangan Freddy Saconk dan Dian Rahmawati panen perdana lengkeng di lahan gambut pada pengujung Maret—awal April 2014.

Baca juga:  Kiat Kirim Kelinci

Menurut peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Dr Ir Muhammad Noor MS, galangan besar di lahan rawa untuk menanam tanaman lahan kering—seperti buah dan palawija—disebut surjan. Kata surjan berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada baju adat khas Yogyakarta bermotif garis lurus berselang-seling. “Galangan yang tinggi memanjang serta berselang-seling dengan petak tergenang membentuk pola garis lurus sehingga disebut surjan,” kata Noor.

Pekebun tumpangsari padi dan jeruk di lahan pasang surut Kalimantan Selatan lazim menggunakan teknik itu. Bedanya Suku Banjar membuat surjan di lahan gambut tipis yang tebalnya hanya 30—40 cm. Di balik lapisan gambut berupa tanah mineral dengan komposisi pasir, debu, dan liat. “Tanah mineral untuk membuat surjan cukup dari bahan galian saja sehingga murah,” kata Noor. Di lahan gambut tebal tanah mineral harus dipasok dari luar sehingga biaya membengkak.

Semula lahan rawa hanya berupa lahan telantar yang ditumbuhi gelam muda atau pakis rawa

Semula lahan rawa hanya berupa lahan telantar yang ditumbuhi gelam muda atau pakis rawa

Menurut Noor, pekebun tradisional umumnya membuat surjan bertahap dengan membuat gundukan tanah ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm—yang dalam Bahasa Banjar disebut tukungan—dengan alat manual. Setiap musim mereka menambah tebal dan lebar galian dengan tanah yang mengendap dan sisa serasah organik. “Seiring waktu tebal dan lebar tukungan bertambah sehingga menyatu membentuk surjan,” kata Noor.

Freddy dan Dian justru sebaliknya. Mereka membuat tukungan di atas surjan sebagai modifikasi. Musababnya, saat purnama besar gaya gravitasi bulan menarik air laut ke arah tepi sehingga terjadi air laut pasang. Sementara lahan milik Dian hanya sepelemparan batu dari Sungai Kahayan yang terpengaruh pasang surut air laut. Saat pasang, air laut mendorong air sungai ke arah hulu. Air sungai pun meluber ke daratan melalui sungai dan saluran kecil. “Kalau hanya mengandalkan surjan, bisa terendam semua lengkeng yang saya tanam,” kata Dian.

Baca juga:  Panen Urban Farming BI DKI

 

Pupuk hijau rumput kaya silika yang melindungi tanaman dari keracunan logam berat

Pupuk hijau rumput kaya silika yang melindungi tanaman dari keracunan logam berat

Pupuk rumput 

Kebun lengkeng di tengah rawa itu juga istimewa karena sosoknya sehat meski Freddy menerapkan sistem budidaya organik. “Saya ingin buktikan lengkeng lahan rawa pun bisa berbuah dengan organik,” kata Dian. Satu-satunya bahan anorganik yang dibenamkan hanyalah kapur dolomit CaMg(CO3)2 untuk mengurangi kemasaman tanah di lahan gambut yang umumnya rendah. Selebihnya Dian cuma memberi pupuk organik asal rumput yang difermentasi dengan mikrob selama sebulan.

“Di sini beda dengan di Jawa yang banyak kotoran ayam atau kotoran sapi. Pupuk organik hewan langka di pelosok Kalimantan,” kata Dian. Menurut Profesor (Riset) Mitsuru Osaki dari Fakultas Pertanian, Universitas Hokkaido, Jepang, pupuk rumput mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki pupuk kotoran hewan. “Rumput seperti jerami padi dan daun bambu yang kaya silika (Si),” kata Mitsuru yang kerap meneliti lahan rawa di Kalimantan. Jerami padi kering mengandung 9—14% silika.

Riset Fergus P Massey dan rekan-rekannya dari Departemen Biologi dan Ilmu Lingkungan, University of Sussex, Inggris, melaporkan kandungan silika 18 rumput di Eropa berkisar 1,23—6,9% dari bobot kering. Sebut saja rumput Deschampsia cespitosa dan Nardus stricta yang mengandung silika masing-masing 6,25 dan 6,9%. Di tanahair pupuk hijau rumput masih langka karena dianggap sulit terurai. Bahan organik dari rumput juga dianggap penyebar gulma.

Dibutuhkan 500 truk untuk mengangkut tanah dari luar area kebun

Dibutuhkan 500 truk untuk mengangkut tanah dari luar area kebun

Padahal, menurut Mitsuru, silika memperkuat sel dan jaringan sehingga tanaman lebih tangguh melawan hama dan penyakit. Silika juga mampu melokalisasi logam berat yang meracuni tanaman seperti aluminium (Al). “Letak Al dalam daun cenderung berdekatan dengan Si karena diblok,” kata Mitsuru. Beragam riset lain melaporkan silika dapat mengurangi risiko tanaman keracunan besi, mangan, dan garam. Yang disebut pertama dan terakhir banyak terjadi di lahan pasang surut dekat pantai.

Bahan organik juga membuat daerah perakaran tetap lembap sehingga mencegah pirit (FeS2)—yang banyak terdapat di  tanah rawa—bersentuhan  dengan udara alias teroksidasi. Saat teroksidasi pirit menghasilkan asam sulfat yang masam dan meracuni tanaman. Dengan surjan, tukungan, dan pupuk hijau rumput, lengkeng tumbuh subur di lahan gambut. (Destika Cahyana, peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d