Buah wani  memiliki aroma khas dengan tekstur daging buah agak lembek, rasa manis, dan sedikit asam

Buah wani  memiliki aroma khas dengan tekstur daging buah agak lembek, rasa manis, dan sedikit asam

Sudiartana mengebunkan 200 pohon binjai.

Aroma harum yang amat tajam bakal menguar di kebun I Made Sudiartana pada akhir tahun. Ketika itulah buah-buah wani tengah ranum mengeluarkan aroma khas. Wani alias buah binjai Mangifera caesia berdaging krem dan manis menyegarkan. “Meski menjadi buah khas Provinsi Bali, di Bali buah wani sudah jarang ditemui,” kata pekebun di Denpasar, Provinsi Bali. Itulah sebabnya  ia membudidayakan 200 bibit berjarak tanam 5 m x 5 m di lahan 1 ha. Tinggi pohon yang kini berumur 14 tahun itu tiga  meter.

Menurut I Gede Wijana dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana,  sentra binjai di Provinsi Bali terpusat di 6 kecamatan yaitu Kecamatan Sawan dan Kecamatan Sukasada di Kabupaten Buleleng, Pupuan dan Selemadeg (Tabanan), Dawan (Klungkung), dan Bebandem (Karangasem). Di seluruh sentra binjai itu, setidaknya ada 22 kultivar yang dapat dibedakan dari warna kulit buah, rasa daging buah, bentuk buah, ukuran buah, ketebalan daging buah, dan keberadaan biji.

Di pasar swalayan di Provinsi Bali, buah wani dibandrol Rp20.500 per kilogram

Di pasar swalayan di Provinsi Bali, buah wani dibandrol Rp20.500 per kilogram

Ragam kultivar
Binjai yang kerap mengisi pasar tradisional maupun pasar swalayan di Provinsi Bali adalah kultivar tembaga, gadang, gula, dodol, pucung, bawang, dan ngumpen. Ciri wani tembaga, berkulit buah merah muda kehijauan, wani gadang berkulit buah hijau tua dengan bobot per buah sekitar 500 g, wani bawang berkulit buah seperti bawang merah, wani gula karena rasa daging buahnya ada rasa madu, dan wani dodol karena bercitarasa seperti dodol, sementara wani ngumpen bercirikan tak berbiji.

Dari semua kultivar itu, ngumpen paling unggul, manis dan tak berbiji, sehingga porsi konsumsi lebih tinggi dibanding jenis lain. Bobot per buah sekitar 327 g, warna kulit hijau kekuningan, dan mengilap. Sudiartana memanen 100-an kg per bulan pada September—Maret dari 200 pohon. Ia menjual buah kerabat dekat mangga itu ke pasar tradisional dan toko buah di Bali dengan harga Rp13.000 per kg. Toko buah menjual seharga Rp20.500 per kg.

Baca juga:  Tabulampot Lebatkan Jeruk ala Italia

Kepala bagian pengadaan barang Moena Fresh, toko buah di Denpasar, Bali, Prima Gusmani, mengatakan bahwa buah wani selalu habis tak tersisa. “Citarasa wani bali disukai konsumen karena daging buahnya memiliki aroma khas, rasanya manis, enak, dan daging buah tebal,” kata Prima. Yuli, pemasok binjai di Denpasar, Bali, mengungkapkan, permintaan buah tergolong tinggi, 100 kg per 3 hari. Untuk memenuhi permintaan itu, Yuli bekerja sama dengan petani binjai.

Menurut Tatang Halim, pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, selama ini masyarakat kurang mengenal binjai sehingga agak sulit untuk memasarkannya di pulau Jawa dan sekitar. “Jika di Bali permintaan cukup tinggi lantaran masyarakat Bali masih mengenal buah itu dan tak asing dengan tekstur daging buahnya yang lembek dengan rasa manis bercampur masam. Untuk masyarakat di Jawa, rasa seperti itu kurang lazim,” kata Tatang.

Ir Karsinah, “Dengan karakteristik seperti mangga, sejatinya sebaran wani bisa pula di daerah lain di ketinggian 0—500 meter di atas permukaan laut”

Ir Karsinah, “Dengan karakteristik seperti mangga, sejatinya sebaran wani bisa pula di daerah lain di ketinggian 0—500 meter di atas permukaan laut”

Percepat pertumbuhan
K Heyne dalam “Tumbuhan Berguna Indonesia“ menyebutkan pohon yang memiliki tinggi 10—30 meter itu tersebar luas di bagian barat Nusantara. Buahnya manis agak sepat dan beraroma tajam. Bijinya dapat dijadikan lauk-pauk dengan mengeringkan terlebih dahulu dan memarutnya dengan campuran leunca Solanum nigrum.

Menurut peneliti mangga dari Balai Penelitian Buah (Balitbu) Tropika, Solok, Provinsi Sumatera Barat, Ir Karsinah MS,  dengan karakteristik seperti mangga, binjai adaptif di di luar Provinsi Bali di ketinggian tempat 0—500 meter di atas permukaan laut. Apalagi pertumbuhan pohon binjai juga dapat dipercepat pada fase belum berproduksi. I Kadek Dwi Mahardika dan rekan dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, meriset cara mempercepat pertumbuhan bibit wani jenis ngumpen.

Baca juga:  Pisang 10 Jantung

Mahardika mengatakan, kendala budidaya buah binjai adalah lamanya pertumbuhan bibit saat masa yuwana atau juvenile—masa tanaman belum menghasilkan. Hasil riset selama 5 bulan itu menunjukkan, penggunaan media tanam yang paling efektif adalah campuran tanah, pasir, dan bokashi dengan perbandingan 3 : 2 : 1. Selain itu pekebun sebaiknya menambahkan hormon auksin jenis asam butirat indole (IBA) dengan konsentrasi 100 ppm.

Frekuensi  pemberian hormon sehari sekali sejak tanaman berumur 8 pekan setelah tanam. Tinggi bibit dengan media tanam itu terbukti paling cepat. Bibit binjai berumur 20 pekan setelah tanam memiliki tinggi 50-an cm, lebih tinggi dari perlakuan kontrol yang hanya sekitar 37 cm. Ir Karsinah MS menuturkan, perbanyakan buah wani di Provinsi Bali lebih cenderung melalui generatif atau biji. Kebun Balai Penelitian Buah (Balitbu) di Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur, belum mengoleksi tanaman kerabat mangga Mangifera indica itu. “Kami sedang menunggu bibitnya untuk kami top working dengan mangga di Cukurgondang,” kata Karsinah. (Bondan Setyawan/Peliput: Rizky Fadhlilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d