Manggis Organik: Pasok Pasar Ekspor 1
580-H076-1

Manggis hasil budidaya organik oleh Kelompok Tani Subur Makmur, Desa Cibolang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Pekebun manggis organik menerima harga tiga kali lipat dibandingkan manggis konvensional.

Eksportir buah ke Eropa, PT Manggis Elok Utama, membeli manggis organik lebih mahal, yakni Rp30.000 per kg. Bandingkan dengan harga jual di pasar domestik, hanya Rp8.000 per kg. Satu kilogram terdiri atas 5—6 buah manggis. Manggis organik itu hasil budidaya para pekebun di  Desa Cibolang, Kecamatan Gunungguntur, Kabupaten Sukabumi,  Jawa Barat. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Subur Makmur.

Sebanyak 27 pekebun menjadi anggota kelompok tani itu. Mereka mengelola 1.650 tanaman produktif dan 2.288 tanaman belum berbuah di lahan 14, 3 ha.  Mereka semula tidak mearawat secara intensif. Namun, sejak 2015 para pekebun beralih ke budidaya organik. Peralihan itu untuk meningkatkan kualitas buah. Setelah perawatan organik, pohon Garcinia mangostana itu berbuah pada Februari 2016 dan Agustus 2016.

Pasar mancanegara

580-H076-2

Ketua Kelompok Tani Subur Makmur, Ade Zakie Fadlilah.

Hingga September 2017 tidak ada tanaman berbunga, karena cuaca cenderung lembap. Pembungaan terjadi pada November 2017. Para pekebun panen pada Februari 2018. Umur pohon rata-rata 15 tahun yang menghasilkan 36 kg per sekali panen. Kelompok Tani Subur Makmur menuai panen lagi pada Februari – Maret 2018. Menurut Direktur PT Manggis Elok Utama, Asep Drajat, produksi itu termasuk tinggi.

Sebagai gambaran produksi manggis berumur sama hasil budidaya konvensional hanya 30 kg per pohon.  Pada musim panen Februari 2018, produksi mencapai 4 ton per hari. Asep mengatakan, sekitar 70% setara lima ton produksi manggis Kelompok Tani Subur Makmur itu untuk memasok pasar ekspor. Pasar mancanegara menghendaki buah yang mulus, bebas gerekan hama, tanpa gamboge atau getah kuning, bobot di atas 100 gram per buah.

Para petani memanen manggis dengan cara manual agar tidak terjadi benturan. Pengiriman buah ke Tiongkok pada Maret hingga Mei.  Pengiriman ekspor membutuhkan proses sekitar 2 pekan, sehingga manggis yang dikirim masih berwarna hijau agak keunguan. Di luar musim panen raya,  Asep sulit memperoleh pasokan buah manggis organik. Itulah sebabnya ia menghentikan ekspor buah. Kepala Desa Cibolang, Kabupaten Sukabumi, sekaligus pekebun manggis, Pepen Supendi menyatakan bahwa pasar ekspor meminati manggis organik.

580-H077-1

Lubang resapan air di depan rumah Ade Zakie Fadlilah, bermanfaat menampung air saat musim hujan.

Ia mengarahkan petani manggis agar menjaga kualitas dan kuantitas panen. “Jika kualitas baik, maka harga manggis akan kompetitif di pasar internasional, pun keuntungan maksimal akan diperoleh petani,” kata Pepen. Pepen mengungkapkan, kini kelompok tani itu menggantungkan pendapatan dari ekspor. Sebab, jika tidak ekspor, petani menghentikan perawatan pohon. Itu akibat petani menerima harga yang relatif rendah.

Baca juga:  Udang Galah Bongsor

Ketua Kelompok Tani Subur Makmur, Ade Zakie Fadlilah mengatakan, kendala budidaya manggis organik panen tidak serempak. Artinya dalam sebuah pohon tingkat kematangan buah berbeda-beda. Ada buah yang siap panen, ada pula yang masih pentil. Sebab, pohon berbuah susul-menyusul.  Namun, di sisi lain hal itu menunjukkan produksi berkesinambungan. Di lahan Pepen seluas 3.000 m², misalnya, tumbuh 68 pohon manggis yang tengah berbuah.

Buah manggis kurang lebih seukuran bola golf bergelantungan di ujung tajuk. Kebanyakan masih berwarna hijau muda. Adapula yang siap petik berwarna ungu. Ade Zakie Fadlilah menjadi pionir budidaya manggis organik. Itu bermula ketika ia membeli kebun di Desa Cibolang pada 2010. “Saya membeli kebun yang sudah ada pohon manggis, tetapi tidak terurus,” ujar Ade. Ia memutuskan merawat kebun manggis secara organik.

580-H078-1

Pohon manggis rimbun berkat perawatan alami.

Saat itu umur pohon manggis yang sudah berbuah berumur di atas 12 tahun, sedangkan yang baru belajar berbuah berumur 6 tahun. Kini, pohon manggis Ade tumbuh subur dan resmi mendapat sertifikat dari Indonesian Organic Farming Certification (Inofice), lembaga sertifikasi organik di Bogor, Jawa Barat pada November 2016.

Alami

Ade menuturkan, perawatan manggis secara alami memberikan hasil lebih optimal. Ia membuat pupuk organik cair  (POC) dari molases atau tetes tebu, urea 3 gram, urine kelinci, air, 1 kg gula pasir, dan kotoran hewan. Pekebun 38 tahun itu mengaduk rata semua bahan dan memfermentasikan minimal 3 pekan.  “Lebih lama kualitas lebih bagus, asalkan sesuai dengan bahan makanan. Fermentasi secara anaerob, sehingga tidak perlu diaduk,” ujar Ade.

Ade menuangkan 100 ml POC dan satu liter air per satu diameter tajuk pohon. Diameter tajuk rata-rata 1–2 meter. Frekuensi pemupukan sekali setiap pekan. Ia tidak pernah memberikan pupuk kimia. Selain itu ia mengolah seresah berupa ranting, rumput, daun kering, dan cacahan pelepah pisang menjadi bokashi atau pupuk organik padat. Ade memasukkan seresah itu ke dalam lubang sedalam 50 cm di bawah tajuk.

580-H078-2

Sertifikat organik dari Indonesian Organic Farming Certification (Inofice), lembaga sertifikasi organik di Bogor, Jawa Barat.

Hasilnya pohon manggis tumbuh lebih tinggi dan rimbun. Menurut peneliti di Fakultas Pertanian, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Provinsi Bali, N.G.A. Martiningsih, membuktikan penambahan kompos dan pupuk organik meningkatkan produksi manggis hingga 40%. Dalam riset itu Martiningsih memberikan kompos,  kotoran sapi 10 kg per pohon, dan pupuk organik 10 tablet per pohon. Ia menimbun bahan organik itu di bawah tajuk. Faedah lain menurunkan serangan getah kuning sebesar 75% per pohon.

Ade juga menyiramkan larutan bakteri sebanyak 5 ml per diameter untuk mempercepat pertumbuhan manggis. “Saya menyebutnya bakteri akar atau Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR),” kata pria kelahiran Lampung itu. Ia mempelajari pembuatan bakteri akar dari rekannya di Blitar, Jawa Timur. Itu sejalan dengan hasil riset dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Padang, Sumatera Barat, Rahmawati. Menurut Rahmawati pemberian cendawan mikoriza arbuzkula 15 gram dan 20 gram per polibag meningkatkan pertumbuhan bibit manggis berumur 12 hari.

Selain itu Ade melakukan aerasi manual menggunakan kompresor kecil. Ia menyambung kompresor itu dengan pipa kecil, kemudian menusukkan ke dalam tanah dekat pangkal batang. Ayah lima anak itu berniat memodifikasi aerator seperti pipa polivinil klorida (PVC) bawah tanah. Pipa berfungsi untuk menyaluran air, pupuk organik cair, dan oksigen agar tanaman lebih mudah menyerap.

Baca juga:  Jahe Jauhkan Asam Urat

Untuk kebutuhan air saat musim kemarau, Ade membuat lubang resapan air hujan dengan kedalaman minimal 2 meter yang terletak di alur jalan. Diameter lubang hanya 60—100 cm. Adanya lubang resapan air membuat tanah lebih gembur. Berkat perawatan alami, pohon manggis Ade jarang terserang hama dan penyakit. Selain itu kualitas si ratu buah pun tinggi sehingga Ade meraih harga lebih besar. (Marietta Ramadhani)

580-H078-3

Buah manggis hasil budidaya organik untuk mengisi pasar ekspor.

580-H077-2

Nutrisi Manggis

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments