Permintaan garifta belum terpenuhi karena pasokan terbatas.

Permintaan garifta belum terpenuhi karena pasokan terbatas.

Pasar melirik mangga berpenampilan cantik dan bercita rasa enak.

Mohammad Sofi bernazar akan menebang ke-30 pohon mangga yang ia tanam di kebunnya jika tak kunjung berbuah. Konon mangga itu berkulit buah merah. Bagi Sofi jenis mangga itu tergolong baru. Harap mafhum, selama ini ia menanam mangga varietas gadung 21 yang berkulit hijau. Ia menanam 30 pohon mangga itu pada 2010. Namun, Sofi mengurungkan nazarnya saat menyaksikan tanaman anggota famili Anacardiaceae itu mulai berbuah pada 2013.

Ternyata benar, mangga itu berkulit hijau bersemburat merah saat masih muda. Makin lama warna kulit buah berubah menjadi merah pekat. Saat matang sempurna warna merah makin mentereng. Dari setiap pohon berumur 3 tahun itu Sofi memanen 10 kg mangga atau total 300 kg. Jumlah panen itu tergolong sedikit. Maklum, itu adalah buah magori—sebutan untuk buah perdana dalam bahasa Ternate. Namun, kekhawatiran lain muncul di benak Sofi. Apakah mangga seperti itu laku di pasaran?

Garifta
Pekebun mangga di Desa Oro-Oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu pun mencoba menawarkan hasil panen ke salah satu toko buah di Jakarta. Sofi senang bukan kepalang saat toko buah membelinya dengan harga Rp25.000 per kg. Dari hasil panen perdana itu Sofi meraup omzet Rp7,5 juta. Sejak itu Sofi bertekad tak akan menebang pohon itu dan berniat menambah populasi. “Mangga ini layak dikembangkan,” ujar pria 50 tahun itu.

Mohammad Sofi rutin memasok garifta ke pasar buah di Jakarta sejak 2013.

Mohammad Sofi rutin memasok garifta ke pasar buah di Jakarta sejak 2013.

Menurut Sofi, nama mangga berkulit merah itu adalah garifta. Pada 2010 ia memperoleh bantuan bibit dari Kebun Percobaan (KP) Cukurgondang di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sofi menanam garifta di antara mangga gadung 21 sehingga berjarak tanam rapat, yakni hanya 3 m x 3 m.

Peneliti mangga di Kebun Percobaan Cukurgondang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Ir. Rebin, menuturkan garifta hasil seleksi dari 250 jenis plasma nutfah mangga yang tumbuh di sana. Konsumen menghendaki mangga berwarna cerah seperti merah dan bercita rasa manis. Cara relatif cepat untuk mendapatkan mangga berkarakter seperti itu dengan melakukan seleksi plasma nutfah.

Dari hasil karakterisasi, evaluasi, dan seleksi itu para peneliti memperoleh 4 varian garifta yang berwarna kulit buah menarik, yakni merah, kuning, jingga, dan gading. Di antara keempat varian manggaboom—sebutan mangga di Belanda—itu yang berkulit merah paling menarik. Menurut Rebin garifta merah hasil adaptasi mangga liar dari Taiwan. Kulit buah kemerahan dengan daging buah kuning. Garifta bercita rasa manis dan sedikit masam sehingga menyegarkan.

Peneliti mangga di KP Cukurgondang, Ir Rebin, mengatakan garifta hasil seleksi plasma nutfah mangga di tempatnya bekerja.

Peneliti mangga di KP Cukurgondang, Ir Rebin, mengatakan garifta hasil seleksi plasma nutfah mangga di tempatnya bekerja.

Pada 2017 Sofi menjual 1 ton garifta sehingga mendapatkan omzet Rp25 juta. Kali ini yang dijual tak hanya hasil panen dari kebunnya. Ia membeli garifta dari 4 pekebun lain yang juga menanam garifta pada 2010. Salah satunya Muhammad Slamet. Pekebun asal Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu mengebunkan 17 pohon garifta. Pada musim 2017 Slamet menjual sekitar 300 kg garifta kepada Sofi dengan harga Rp15.000/kg atau total omzet Rp4,5 juta.

Program pemerintah
Menurut Slamet harga jual itu masih menguntungkan karena ia belum merawat garifta secara intensif. Harap mafhum, ketika menanam ia belum mengetahui prospek pasar garifta sehingga perawatan ala kadarnya. Oleh karena itu ia hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp500.000 per tahun untuk merawat ke-17 pohon miliknya. Setelah dikurangi biaya perawatan Slamet mengantongi laba Rp4 juta. Pekebun lain yang memasok buah garifta ke Sofi adalah Amin.

Sejatinya Sofi, Slamet, dan Amin, menanam garifta karena ada bantuan bibit dari pemerintah pada 2010. Ketika itu Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, menggadang-gadang garifta sebagai mangga yang berpotensi ekspor. Mereka ingin mengikuti jejak gedong gincu yang lebih dulu menembus pasar mancanegara pada 1998. “Ketika itu ada anggapan mangga berwarna merah itu menarik,” kata Rebin.

Garifta digadang-gadang sebagai mangga tujuan ekspor.  Warna menarik dan bercita rasa manis menyegarkan sesuai selera konsumen mancanegara.

Garifta digadang-gadang sebagai mangga tujuan ekspor. Warna menarik dan bercita rasa manis menyegarkan sesuai selera konsumen mancanegara.

Oleh karena itu Direktorat Jenderal Hortikultura menargetkan untuk menanam 1 juta pohon garifta setara luasan 10.000 hektare di semua wilayah Indonesia yang memiliki agroekologi sesuai habitat garifta. Menurut Rebin garifta tumbuh optimal di lahan berketinggian 1—500 meter di atas permukaan laut (m dpl) dengan curah hujan kurang dari 1.500 mm/tahun.

Baca juga:  Anggrek Mini Cantik Nian

Dalam program itu terpilihlah 10 provinsi yang akan dijadikan sentra untuk pengembangan garifta. Salah satunya Jawa Barat (Kabupaten Indramayu dan Cirebon), Jawa Timur (Kabupaten Pasuruan dan Situbondo), Sulawesi Tengah (Kabupaten Poso dan Donggala), dan Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Sumbawa dan Lombok Barat).

Permintaan tinggi
Menurut Rebin jumlah bibit sebar garifta yang dibagikan baru 269.711 bibit atau setara luas areal tanam 2.697,11 hektare. Jumlah itu baru 26,97% dari target 10.000 hektare. Rebin menuturkan penyebab tidak tercapainya target karena banyak petani yang enggan menanam. Beberapa di antaranya bahkan menebang tanaman kerabat kedondong Spondias dulcis itu. Mereka menolak mengembangkan garifta lantaran beredar rumor bahwa garifta hanya mangga hiasan. “Rumor lain mengatakan buah garifta tidak akan laku di pasaran,” kata Slamet.

Kebun garifta milik Kelompok Tani Makmur Jaya di Situbondo, Jawa Timur.

Kebun garifta milik Kelompok Tani Makmur Jaya di Situbondo, Jawa Timur.

Pekebun lain di Desa Oro-Oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Muhid, menuturkan ada seorang kawan yang mencabut 60 bibit garifta karena termakan rumor. Sebagian lagi mempertahankan garifta, tapi tidak merawatnya secara intensif.

Nun di Situbondo, Jawa Timur, para pekebun yang tergabung dalam Kelompok Tani Makmur Jaya I dan Kelompok Tani Makmur Jaya II justru menyambut baik bantuan bibit garifta. Setidaknya terdapat 200 pohon garifta berbuah dari sekitar 5.000 bibit yang ditanam pekebun anggota. Menurut Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya I, Novem Sujariyanto, dan Kelompok Tani Makmur Jaya II, Bunawi, pada November 2017 mereka memanen sekitar 1 ton garifta dari total 200 pohon.

Hasil panen dari kebun kedua kelompok tani itu ludes pada acara pameran di Malang dan Situbondo, Jawa Timur, pada November 2017. Mereka menjual garifta dengan harga Rp15.000 per kg atau total omzet Rp15 juta.

Novem Sujariyanto, Abdul Gani, Bunawi, dan Darsono, pengurus Kelompok Tani Makmur Jaya I dan Kelompok Tani Makmur Jaya I I memasarkan garifta sejak 2017.

Novem Sujariyanto, Abdul Gani, Bunawi, dan Darsono, pengurus Kelompok Tani Makmur Jaya I dan Kelompok Tani Makmur Jaya I I memasarkan garifta sejak 2017.

Sofi kewalahan memenuhi permintaan beberapa toko buah modern di Jakarta. Mereka menghendaki buah berbobot 250—300 g per buah dan berpenampilan mulus tanpa cacat. “Berapa pun garifta kami ambil,” kata Sofi menirukan ucapan salah seorang staf toko buah itu. Sayangnya produksi garifta terbatas sehingga pasokan belum terpenuhi. Hal itu sejatinya menjadi peluang bagi pekebun untuk menanam garifta. Permintaan garifta tidak hanya dari Jakarta.

Peluang
I Ketut Kari pun tak sanggup memenuhi permintaan 7 ton garifta per pekan dari toko buah di Makassar, Sulawesi Selatan. Ketut membudidayakan tanaman yang masuk ke Tiongkok pada medio abad ke-7 itu pada 2014. Ia kepincut garifta setelah membaca Trubus dan langsung memesan 100 bibit ke KP Cukurgondang. Semestinya ia menuai 5 ton garifta pada 2016. Sayang, ketika itu banyak buah busuk akibat terserang lalat buah. Ia hanya mampu menjual 37 kg garifta dengan harga Rp25.000 per kg.

Saat itu Ketut tidak terlalu fokus merawat mangga karena lebih mengutamakan kebun durian. Kini ia bertekad lebih serius memproduksi garifta pada 2018. “Respons masyarakat di Sulawesi Tengah bagus,” kata warga Desa Ogorandu, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, itu. Menurut Ketut, gairah mengebunkan garifta juga terlihat dari hasil penjualan bibit yang ia produksi sejak 2016. Ia menjual rata-rata 400—500 bibit tinggi 50—60 cm per bulan dengan harga Rp25.000/bibit.

Baca juga:  Padi Kering Dalam Tenda

Dengan harga jual itu ia memperoleh omzet Rp10 juta—Rp12,5 juta per bulan.Apa yang menyebabkan konsumen tertarik membeli garifta? Kepala bagian kendali mutu Toko Buah Hokky di Surabaya, Jawa Timur, Haryanto, mengatakan, “Garifta sangat menarik, bikin konsumen penasaran karena berwarna atraktif dan beraroma harum,” kata Haryanto. Hoky belum menjual garifta. Namun Haryanto yakin respons masyarakat bagus karena penampilan garifta bagus dan cita rasanya manis kombinasi masamnya yang segar. Haryanto mempersilakan jika ada pekebun yang menawarkan garifta berkualitas bagus. Syaratnya buah matang pohon dan warnanya merah.

578_ 14Dosen Program Studi Agribisnis, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., mengatakan kehadiran mangga warna-warni seperti garifta adalah sebuah terobosan. Selama ini konsumen dimanjakan dengan pasokan mangga berkulit hijau. Begitu melihat garifta berwarna merah, konsumen langsung tertarik untuk mencoba.

Iwan menambahkan garifta masih bisa diterima pasar meski berasa ada sedikit masam. Toh selera konsumen pun beragam. Apalagi garifta dicanangkan sebagai komoditas ekspor. Banyak konsumen di mancanegara seperti negara-negara di Benua Eropa dan Amerika Serikat yang menghendaki buah bercita rasa manis dan agak masam. “Pasar garifta prospektif,” kata Iwan. Namun, syaratnya warna kulit mangga mesti merata dan berukuran seragam agar bisa diterima pasar internasional.

Pasar menghendaki buah matang pohon ditandai dengan warna merah pada sebagian besar buah.

Pasar menghendaki buah matang pohon ditandai dengan warna merah pada sebagian besar buah.

Garifta bisa meniru jejak gedong gincu yang sohor di mancanegara sebagai mangga eksotis berwarna merah dari Indonesia. Pekebun gedong gincu di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Erwin Wiguna, mengatakan prospek gedung gincu masih bagus. Hingga saat ini Erwin memasok lebih dari 7 ton gedong gincu per tahun dari kebun 2 hektare. “Berapa pun jumlahnya gedong gincu pasti terserap pasar,” kata Erwin. Bagaimana peluang jenis mangga lain yang juga berpenampilan seronok seperti garifta?

Menurut Asisten Manajer Operasional PT Laris Manis Utama, Vendi Tri Suseno, konsumen bakal menyukai mangga berpenampilan menarik seperti merah. Syaratnya buah tanaman kerabat kemang Mangifera kemanga itu mesti bercita rasa manis, tidak berserat, dan berukuran maksimal 600 g/buah. Prediksi Vendi itu seperti dialami H. Urip. Pekebun mangga asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu terpaksa menolak permintaan 2 ton agrimania nunuk per pekan dari salah satu pasar swalayan di Jakarta.

Agrimania nunuk adalah mangga hasil seleksi Urip yang juga berkulit atraktif, yakni kombinasi merah dan hijau. “Hasil panen selalu habis diserbu konsumen yang memesan lewat media sosial,” tuturnya. Padahal, Urip menjual buah agrimania dengan harga tergolong premium, yakni Rp50.000 per kg. Mangga menor lain yang lebih dulu dikembangkan pekebun, irwin yang mulai populer sekitar 10 tahun silam.

Kendala
Berkebun mangga merah tidak selamanya indah. I Ketut Kari gagal mendapatkan omzet Rp125 juta lantaran 5 ton mangga garifta miliknya busuk akibat lalat buah.

Agrimania mulai dikebunkan di beberapa daerah di Indonesia seperti Serang dan Sorong.

Agrimania mulai dikebunkan di beberapa daerah di Indonesia seperti Serang dan Sorong.

Serangan lalat buah juga menyerang kebun di Kecamatan Rembang, Pasuruan, Jawa Timur. Belum memasyarakatnya garifta bisa jadi kendala pemasaran. Haryanto menuturkan mangga terfavorit di Hokky secara berurutan yaitu arumanis, manalagi, gedong gincu, dan indramayu.

Vendi menyarankan agar mempromosikan mangga baru berwarna cerah itu di luar musim panen raya mangga agar penetrasi pasar maksimal. Pekebun irwin di Majalengka, Jawa Barat, Sahril Sidik pun berhenti berkebun mangga itu karena prospeknya kurang bagus.

Jika pekebun dan pehobi bisa mengatasi kendala, peluang mangga merah tetap terbuka. Pantas bila dalam 2 tahun terakhir, varian mangga berwarna atraktif makin banyak bermunculan di tanah air.Selain garifta, KP Cukurgondang juga mengembangkan mangga lain yang berpenampilan seronok. Salah satunya adalah agri gardina 45. Peneliti mangga dari KP Cukurgondang, Ir. Karsinah, M.Si., mengatakan kelebihan agri gardina adalah berkelir merah di pangkal dan kuning di ujung buah, umur panen genjah, yakni 1,5—3 tahun. Produktivitasnya juga tinggi, yakni 136 buah per pohon per tahun dari pohon berumur 3 tahun.

Menurut kolektor mangga dan penangkar buah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Teddy Soelistyo, agri gardina 45 cocok untuk tanaman buah dalam pot (tabulampot) lantaran berumur genjah, ukuran buah relatif kecil, dan berwarna menarik.

Ahut F Hendarul yang mendatangkan valencia pride dari rekannya di Florida, Amerika Serikat. Pekebun asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Henda Suhenda, juga mendatangkan 6 entres mangga miyazaki langsung dari Jepang pada 2013. Dari jumlah itu hanya 4 tanaman bertahan dan sudah berbuah. Dengan berbagai pilihan itu, konsumen, pehobi, dan pekebun bisa menimbang-nimbang mangga zaman now alias kekinian sesuai selera. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d